Buka Pintu Lebih Lebar, Produk UMKM Indonesia Diarahkan ke Pasar Tiongkok
Jumat, 03 Apr 2026, 21:40 WIBBEIJING â Ngomongin ekspor buat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) itu sekarang nggak lagi sesulit dulu. Kalau dulu bayangannya harus punya jaringan besar atau modal gede, sekarang justru makin banyak pintu yang terbuka. Tinggal bagaimana pelaku usaha berani mulai dan mau belajar pelan-pelan.
Langkah pertama biasanya dimulai dari hal sederhana: kenali dulu produk sendiri. Apa yang bikin unik? Apakah punya ciri khas lokal, kualitas tertentu, atau cerita di balik produk yang bisa âdijualâ ke pasar luar negeri? Soalnya, konsumen global sering tertarik bukan cuma pada barangnya, tapi juga kisah di baliknya.
Setelah itu, akses pasar jadi lebih luas berkat platform digital. Banyak UMKM yang mulai menjangkau pembeli luar negeri lewat marketplace internasional atau media sosial. Dari situ, permintaan bisa datang tanpa harus buka toko fisik di luar negeri. Praktis, tapi tetap butuh konsistensi dalam menjaga kualitas dan pelayanan.
Tentu saja, ada hal teknis yang perlu diperhatikan, seperti standar kualitas, kemasan, hingga aturan ekspor di negara tujuan. Tapi kabar baiknya, sekarang banyak dukungan dari pemerintah dan komunitasâmulai dari pelatihan, pendampingan, sampai bantuan promosi.
Intinya, memperluas pasar ekspor UMKM itu bukan soal langsung besar, tapi soal membuka peluang sedikit demi sedikit. Dengan strategi yang tepat dan kemauan untuk terus belajar, produk lokal punya peluang besar buat dikenal lebih luasâbahkan sampai ke pasar global.
Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berupaya untuk membuka pasar Tiongkok lebih besar lagi untuk UMKM asal Indonesia.
"Kedatangan kami ke sini adalah untuk membuka pasar pengusaha-pengusaha kecil dan menengah kita. Tentunya saya sebagai Menteri UMKM wajib membuka dan mengamankan akses pasar sebesar-besarnya untuk semua usaha kecil dan menengah yang ada di Indonesia," kata Menteri UMKM Maman Abdurrahman di Beijing, Rabu (1/4).
Maman mengunjungi Tiongkok untuk menghadiri acara "IndonesiaâTiongkok SME, Trade and Investment Cooperation Forum 2026" yang mempertemukan para pelaku usaha asal Tiongkok dan para pembuat kebijakan dari Indonesia terkait dunia usaha dan UMKM.
Selain itu, ia dijadwalkan untuk bertemu dengan sejumlah pejabat dari Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi, Kementerian Perdagangan Tiongkok dan sejumlah perusahaan Tiongkok serta bertemu dengan sejumlah Warga Negara Indoensia (WNI) di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing.
"Tiongkok ini kan punya sekitar 1,4 miliar penduduk. Indonesia punya 280 juta penduduk sekaligus terbesar di ASEAN, jadi pasar potensial kedua negara sama-sama besar," ungkap Maman.
Maman mencontohkan durian asal Indonesia saat ini sudah masuk ke pasar Tiongkok.
"Dalam setiap musim durian sering sekali di Indonesia malah berlimpah. Bahkan durian Indonesia juga banyak yang tidak memanfaatkan karena terlalu banyak dan akhirnya pasar domestik tidak mampu menampung maka kami melakukan kerja sama dengan Tiongkok untuk menjadikan Tiongkok sebagai salah satu pasar buah durian kita," tambah Maman.
Meski begitu, Maman mengakui bahwa dari sisi teknologi, Tiongkok jauh lebih unggul dibanding Indonesia termasuk untuk UMKM.
"Suka tidak suka, kita harus akui dari sisi teknologi, alat-alat produksi usaha kecil dan menengah itu Tiongkok lebih unggul. Jadi kita harus berani mengakui itu, tapi bukan berarti kita tidak mulai mempersiapkan diri juga untuk mereplikasi atau mengadopsi beberapa teknologi mereka karena kami sedang melakukan bersama-sama dengan beberapa universitas," ungkap Maman.
Maman menyebut, sejumlah alat-alat produksi yang sudah dapat dibuat mandiri oleh Indonesia maka tidak perlu lagi impor dari Tiongkok.
"Tapi ada juga beberapa produk-produk jadi seperti pakaian, juga ada beberapa pembicaraan untuk ekspor juga ke Tiongkok, termasuk batik asal Indonesia. Jadi pada dasarnya sudah dalam pembicaraan 'trade-in' dan 'trade-out'," tambah Maman.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) nilai perdagangan Indonesia dengan Tiongkok pada 2025 naik menjadi 154,58 miliar dolar AS dengan rincian nilai ekspor sebesar 67,04 miliar dolar AS dan impor mencapai 87,54 miliar dolar AS. Ekspor dan impor masing-masing meningkat 6,9 persen dan 18,53 persen.
Beberapa komoditas dengan peningkatan ekspor tertinggi ke Tiongkok pada 2025 antara lain perhiasan nonperak, feronikel, sel fotovoltaik, minyak kelapa sawit, emas, hingga kopi robusta.
Sementara, masih berdasarkan data BPS, jumlah UMKM di Indonesia mencapai 65,5 juta unit usaha dan berkontribusi 61,9 persen terhadap produk domestik bruto. UMKM tersebut juga menyerap 119 juta lebih tenaga kerja atau sekitar 97 persen dari total tenaga kerja nasional.
Sedangkan berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi Tiongkok, pada akhir 2024, total UKM di Tiongkok telah melampaui 60 juta dengan pendapatan mencapai 81 triliun yuan (sekitar 11,2 triliun dolar AS) dengan 600.000 UKM fokus pada inovasi teknologi.
Dari jumlah 600.000 UKM dengan fokus inovasi teknologi, tersebut, terdapat 14.600 perusahaan UKM "raksasa kecil" yang berspesialisasi dalam sektor khusus, menguasai pangsa pasar dan memiliki kapasitas inovasi yang kuat.
- Tiongkok
- ekspor UMKM
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Tetap Terbuka Tanpa Pungutan
-
Inter Milan Berpeluang Kunci Gelar
-
Semarang Duduki Peringkat Tiga Kota Paling Toleran se-Indonesia 2025
-
Lidah Warga Tiongkok Mulai Jatuh Hati pada Makanan Olahan RI
-
Trump Ingin Tiongkok Belanja Lebih Banyak Energi dari AS
-
Edukasi Gigi dan Mulut di Sekolah, Ajarkan Cara Menjaga Kesehatan Sejak Dini
-
Tiongkok Gelar "Operasi Khusus" di Dekat Taiwan, Terusik dengan Pertemuan Jepang-Filipina
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.