SPPG Kemayoran Beri Label Waktu Konsumsi Terbaik pada Ompreng

Selasa, 31 Mar 2026, 11:18 WIB

JAKARTA – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kemayoran Harapan Mulia 1, Jakarta Pusat, terus memperbaiki kualitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memberikan label waktu konsumsi terbaik di ompreng.

"Kita juga sudah menganjurkan ada label di ompreng agar makanan dikonsumsi paling maksimal itu tiga jam," kata Kepala SPPG Kemayoran Harapan Mulia 1, Fakhri Irfan Pribadi, di Jakarta, Selasa (31/3).

Ket. Foto: Petugas SPPG Kemayoran Harapan Mulia 1, Jakarta Pusat, tengah mengemas masakan ke dalam ompreng MBG untuk diberikan kepada penerima manfaat pada Selasa (31/3/2026).  — Sumber: ANTARA

Di hari pertama MBG beroperasi kembali pascalibur Lebaran 2026, SPPG Kemayoran Harapan Mulia 1 melayani 3.298 penerima manfaat dari siswa sekolah hingga ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Hari ini, menu yang disajikan yakni nasi uduk, ayam kecap, tahu cabai hijau, tumis wortel dan jagung, serta semangka.

Sebagai langkah perbaikan dan evaluasi, SPPG Kemayoran Harapan Mulia 1 terus meningkatkan kualitas makanan, memperkaya menu untuk memenuhi angka kecukupan gizi penerima manfaat, hingga menjaga higienitas para relawan.

"Keamanan pangan, kemampuan SDM atau relawan terkait keamanan pangan juga terus kita tingkatkan, lalu edukasi gizi, kemudian evaluasi terkait pengolahan limbah dan kebersihan lingkungan, serta sanitasi," ujar Fakhri.

Ia juga memastikan makanan telah diuji sampelnya sebelum diberikan kepada penerima manfaat, termasuk uji organoleptik atau uji makanan menggunakan panca indera manusia untuk memastikan warna, tekstur, rasa, aroma, hingga bentuk makanan yang disajikan telah sesuai dengan standar operasional prosedur dan petunjuk teknis Badan Gizi Nasional (BGN).

"Untuk uji sampel itu biasanya sebelum dibagikan ada organoleptik, yang diuji bersama kepala SPPG dan ahli gizi, jadi sebelum didistribusikan ke penerimaan manfaat, kalau misal di organoleptik itu kan ada bau, tekstur, dan aroma yang tidak sedap, itu kita bisa tarik kembali agar tidak didistribusikan," paparnya.

Untuk mengantisipasi anak-anak yang memiliki alergi, ahli gizi dari SPPG terus berkoordinasi dengan asisten lapangan dan pihak sekolah untuk mendaftar siswa mana saja yang memiliki kerentanan terhadap jenis makanan tertentu.

"Jadi kita mendata terlebih dahulu terkait alergi apa saja yang ada di penerimaan manfaat. Misal tadinya dia tidak suka ikan, akhirnya siswa tersebut diganti menjadi ayam," ucap Fakhri.

Sebelumnya, BGN mengingatkan seluruh SPPG untuk menjalankan Program MBG secara profesional setelah libur Lebaran 2026. Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang menegaskan, pihaknya tidak akan segan memberikan sanksi tegas kepada mitra yang terbukti melakukan mark up harga bahan baku, apalagi sampai menekan kepala SPPG, yakni berupa penghentian operasional sementara (suspend) tanpa pemberian insentif karena masuk kategori pelanggaran berat.

"Mitra yang mark up harga gila-gilaan dan menekan kepala SPPG , pengawas gizi dan pengawas keuangan, akan saya minta kedeputian pemantauan dan pengawasan untuk suspend tanpa pemberian insentif karena termasuk pelanggaran berat," katanya.

Nanik mengingatkan kembali anggaran per porsi MBG sebesar Rp8.000-10.000. Tindakan mark up bahan baku tidak hanya merugikan program, tetapi juga mencederai tujuan utama penyediaan layanan gizi bagi masyarakat. Menurutnya, mitra yang sudah mendapatkan insentif seharusnya bekerja sesuai aturan, bukan justru mencari keuntungan berlebih.

  • SPPG Kemayoran

Redaktur: Bambang Wijanarko

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.