Siapkan Pilihan Kebijakan Guna Antisipasi Tekanan Daya Beli Masyarakat
Kamis, 26 Mar 2026, 00:15 WIBPemerintah didorong untuk lebih antisipatif agar perlambatan konsumsi tidak berujung pada pelemahan pertumbuhan.
JAKARTA - Tantangan perekonomian nasional pasca Lebaran tidaklah semudah sebelumnya. Sebab itu, perlu memitigasi risiko-risiko yang timbul terutama jika perang antara Amerika Serikat (AS) bersama Israel melawan Irang berkepanjangan.Â
Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan tantangan yang dihadapi pasca lebaran tidaklah mudah karena langsung menyentuh kehidupan riil masyatakat. Oleh karena itu Pemerintah harus menyiapkan pilihan kebijakan sebagai antisipasi menghadapi tekanan daya beli masyarakat.
Tantangan pertama jelasnya yaitu normalisasi konsumsi, setelah terjadi peningkatan konsumsi pada masa puasa dan lebaran, setelah itu akan terjadi penurunan daya beli, sehingga ancaman konsumsi menurun dan akibatnya pertumbuhan ekonomi akan menurun.
Kedua, risiko kenaikan harga pangan akibat gangguan distribusi dan cuaca. Fenomena El Niño, khususnya yang diprediksi sebagai "Godzilla El Niño" (ekstrem), diperkirakan akan terjadi di Indonesia mulai April hingga Oktober 2026.
âFenomena ini bertepatan dengan musim kemarau, menyebabkan pengurangan hujan yang signifikan, suhu panas, serta risiko kekeringan terutama di wilayah Jawa hingga NTT (Nusa Tenggara Timur),âpapar Suhartoko.
Ketiga lanjut dia, adanya potensi lonjakan inflasi karena penyesuaian harga energi yang merambat ke harga komoditi lain. Potensi penyesuaian harga energi ini selalu ada seiring dengan lonjakan harga minyak dunia imbas perang di Timur Tengah (Timteng).
âPemerintah perlu menjaga stabilitas harga pangan, memastikan ketersediaan pasokan, dan mendorong konsumsi kelas menengah agar roda ekonomi tetap berputar,â kata Suhartoko.
Sementara itu, Direktur Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia (MEPI), Iyuk Wahyudi, mengatakan eskalasi konflik di Timur Tengah, terlebih jika melibatkan dorongan dari Arab Saudi terhadap AS untuk melanjutkan perang Iran, berisiko memicu ketidakpastian global yang lebih dalam.
Situasi tersebut dapat berdampak langsung pada harga energi, stabilitas pasar keuangan, hingga arus perdagangan internasional. Sebagai negara nett importir minyak, Indonesia sangat sensitif terhadap lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan harga energi berpotensi menekan daya beli masyarakat dan mempersempit ruang fiskal pemerintah, terutama jika subsidi harus kembali ditingkatkan.
âKetika konflik membesar, tentu saja harga minyak ikut terdorong makin naik. Ini akan berdampak ke inflasi dan pada akhirnya menekan konsumsi rumah tangga,â kata Iyuk.
Dia pun meminta Pemerintah memperkuat strategi mitigasi, baik dari sisi fiskal maupun stabilitas sektor riil, agar tidak terlalu bergantung pada dorongan konsumsi musiman. Ia juga menekankan pentingnya menjaga kepercayaan pasar di tengah potensi volatilitas global.
âKita tidak bisa hanya mengandalkan momentum Lebaran. Pemerintah harus menyiapkan bantalan kebijakan yang mampu menjaga pertumbuhan tetap stabil di tengah tekanan global,â katanya.
Dengan kombinasi normalisasi pasca-Lebaran dan meningkatnya tensi geopolitik global, para ekonom menilai periode setelah kuartal I-2026 akan menjadi fase krusial bagi ketahanan ekonomi nasional. Pemerintah didorong untuk lebih antisipatif agar perlambatan konsumsi tidak berujung pada pelemahan pertumbuhan secara lebih luas.
Tantangan Kompleks
Pada kesempatan lain, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet menilai pemerintah perlu memitigasi tantangan ekonomi usai momentum Ramadhan dan Idul Fitri.
Menurutnya, kinerja kuartal I-2026 memang akan terdorong cukup kuat oleh aktivitas ekonomi selama Ramadhan dan Idul Fitri. Namun, kinerja ekonomi akan ternormalisasi usai momentum ini berakhir, dan pada saat yang sama perekonomian secara umum tengah menghadapi tantangan yang kompleks.
âSekarang justru tantangannya makin kompleks, karena kita tidak hanya bicara soal efek musiman yang mereda, tetapi juga tekanan eksternal dan domestik yang bisa menahan konsumsi ke depan,â katanya saat dihubungi Antara di Jakarta, Rabu (25/3).
Untuk kuartal I, konsumsi rumah tangga yang terdongkrak oleh lonjakan belanja selama periode Ramadhan dan Idul Fitri menjadi basis yang solid bagi pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek.
Namun, mengingat percepatan belanja itu bersifat musiman, bukan peningkatan daya beli yang permanen, dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi akan makin melandai.
Efek musiman yang mereda juga dibarengi oleh tekanan eksternal dan domestik yang bisa menahan konsumsi ke depan, salah satunya adalah potensi kenaikan harga energi.
âKetika harga bahan bakar minyak (BBM), listrik, atau energi global mengalami tekanan, dampaknya langsung ke biaya hidup dan biaya produksi, sehingga ruang belanja rumah tangga menyempit dan pada saat yang sama pelaku usaha juga lebih berhati-hati untuk ekspansi,â jelasnya.
Dia juga menyoroti risiko iklim ekstrem yang berpotensi mengganggu produksi pangan domestik dan mendorong kenaikan harga komoditas strategis, seperti beras dan bahan pokok lainnya. Risiko tersebut sangat krusial lantaran inflasi pangan mempunyai dampak langsung ke daya beli masyarakat, terutama bagi kelompok menengah bawah.
âTanpa dukungan daya beli yang kuat dan stabilitas harga, baik energi maupun pangan, maka konsumsi domestik akan sulit menjadi motor pertumbuhan yang berkelanjutan, dan pada akhirnya ini juga akan membatasi laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan di periode berikutnya,â pungkasnya.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Imbas Banjir Semarang, Ini Update Layanan Pembatalan Tiket dan Perubahan Perjalanan KA dari Surabaya dan Malang ke Jakarta
-
Jelang Ramadan dan Idul Fitri, Kementan Tegaskan Stok Daging Aman
-
Terapkan Pendekatan Humanis, Polisi Bagikan Air Mineral dan Roti saat Demo Buruh di Jakarta
-
Peserta "Minangkabau Memanggil, Taragak Pulang" Mengunjungi Rumah Pejuang
-
Tradisi Ngunder Cai Panggilan untuk Menjaga Sungai Cibanten
-
38.786 Penumpang Gunakan KA di Wilayah Daop 8 Surabaya Pada Long Weekend Ini
-
Turnamen Golf APJII ke-8 Tahun 2025 Jadi Ajang Perkuat Kolaborasi dan Komitmen Industri dalam Mendukung Transformasi Digital Indonesia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.