Saat Macet Tak Lagi Menguras, Ayla Menjaga BBM Tetap Bersahabat

Minggu, 22 Mar 2026, 06:25 WIB

SURAKARTA - Di tengah riak ketidakpastian ekonomi global yang belum juga mereda, efisiensi perlahan berubah dari sekadar pilihan menjadi kebutuhan. 

Bukan hanya bagi negara dalam menjaga stabilitas, tetapi juga bagi individu yang harus semakin cermat mengatur pengeluaran sehari-hari. Dari dapur rumah tangga hingga perjalanan jarak jauh, setiap keputusan kini terasa lebih berarti.

Ket. Foto: Fitur eco Daihatsu Ayla bikin mudik Lebaran 537 km Jakarta–Solo cukup 18 liter BBM, irit yang terasa sampai tujuan. — Sumber: Koran Jakarta/ M Ismail

Salah satu yang paling terasa adalah soal konsumsi bahan bakar. Di saat harga minyak mentah dunia kerap bergejolak, memilih kendaraan yang hemat BBM bukan lagi sekadar soal gaya hidup, melainkan bagian dari strategi bertahan. Hemat di jalan, berarti ada ruang lebih longgar di dompet.

Cerita itu terasa nyata dalam perjalanan mudik Lebaran 2026 dari Jakarta menuju Solo—rute sejauh kurang lebih 537 kilometer (km) yang sudah akrab dengan dinamika lalu lintasnya. 

Mengandalkan All New Daihatsu Ayla, perjalanan ini justru menghadirkan kejutan kecil: konsumsi bahan bakar yang menyentuh sekitar 29 kilometer per liter.

Angka yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan cerita tentang bagaimana efisiensi bisa dicapai bahkan di kondisi yang tidak ideal. 

Di ruas Tol Trans Jawa, khususnya di jalur Cikopo–Palimanan Toll Road, laju kendaraan sempat tersendat. Padat merayap, berhenti-jalan, situasi yang biasanya identik dengan borosnya konsumsi BBM.

Namun di balik kemacetan itu, efisiensi tetap terjaga. Kuncinya bukan semata pada mesin, melainkan pada cara mengemudi. 

Fitur eco pada Ayla dimanfaatkan secara konsisten—menjaga kecepatan tetap stabil, tidak melebihi 110 km per jam, dengan putaran mesin di kisaran 2.000–2.500 rpm. Ritme yang tenang, tanpa akselerasi agresif, justru menjadi rahasia di balik iritnya perjalanan.

"Berangkat dari Jakarta diisi full (penuh), sampai solo, BBM- nya masih sisa setengah," ujar Diah yang ikut mudik.

Penopang Utama

Marketing & Customer Relations Division Head PT Astra International Daihatsu Sales Operation (AI DSO), Tri Mulyono menyampaikan bahwa segmen low cost green car (LCGC) masih menjadi tulang punggung penjualan Daihatsu, terutama karena didominasi pembeli mobil pertama. 

Namun, sepanjang 2025 pasar segmen ini mengalami kontraksi dengan penurunan pangsa sekitar 30 persen, dipengaruhi dinamika pasar dan tekanan dari segmen lain. Meski begitu, Daihatsu tetap berupaya menjaga kontribusinya di segmen tersebut.

Data perusahaan, total penjualan ritel (dari diler ke konsumen) selama 2025 mencapai 137.835 unit. 

Produk LCGC atau Low Cost Green Car berupa Ayla dan Sigra memberi kontribusi sebanyak 47.901 unit.

Capaian tersebut membuat jenama Jepang itu memimpin pangsa pasar kendaraan terjangkau ramah lingkungan dengan porsi 36,6 persen dari total pasar kendaraan bermotor baru roda empat atau lebih.

"Dua model kami (Ayla dan Sigra) di LCGC itu juga masih cukup krusial bagi Daihatsu karena ini adalah backbone juga. Sehingga kami tetap akan fokus untuk menjual dari segmen ini dengan kontribusi lebih positif di segmennya," ujar Tri, beberapa waktu lalu.

Pada akhirnya, perjalanan mudik ini bukan hanya tentang sampai ke kampung halaman. Kondisi ini menjadi pengingat sederhana bahwa di tengah ketidakpastian, efisiensi adalah bentuk kendali yang masih bisa kita pegang—bahwa bahkan dari balik kemudi, kita bisa ikut menjaga keseimbangan, baik untuk diri sendiri maupun untuk ekonomi yang lebih luas.

  • otomotif
  • Arus Mudik Lebaran 2026
  • daihatsu all new ayla

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.