Di Wonosobo, Balon Udara Boleh Terbang: Asal Ikut Aturan

Minggu, 22 Mar 2026, 22:58 WIB

WONOSOBO – Di langit pagi Wonosobo, balon-balon udara itu selalu punya cara sendiri untuk bikin orang berhenti sejenak.

Warnanya beragam, bentuknya kadang unik, dan cara mereka perlahan naik ke angkasa terasa seperti harapan yang dilepas pelan-pelan.

Ket. Foto: Tradisi balon udara di Kabupatan Wonosobo, Minggu (22/3/2026). — Sumber: ANTARA/HO-Polres Wonosobo

Tradisi ini bukan sekadar tontonan—ia adalah bagian dari cerita panjang masyarakat, terutama saat momen perayaan tiba.

Tapi di balik keindahan itu, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: keselamatan. Menerbangkan balon udara bukan cuma soal kreativitas dan semangat gotong royong, tapi juga soal tanggung jawab.

Api yang digunakan untuk mengisi balon, arah angin yang tak selalu bisa ditebak, hingga potensi gangguan terhadap jalur penerbangan—semuanya punya risiko yang nyata.

Karena itu, mengikuti prosedur keselamatan bukan berarti mengurangi keseruan tradisi, justru sebaliknya. Ini tentang menjaga agar tradisi tetap hidup tanpa membawa dampak buruk.

Balon yang diterbangkan dengan pengawasan, ukuran yang sesuai, serta tidak dilepas bebas ke jalur udara aktif, bisa tetap dinikmati tanpa bikin was-was.

Pelan-pelan, kesadaran ini mulai tumbuh. Warga, komunitas, hingga pihak berwenang mulai duduk bareng, mencari jalan tengah antara menjaga warisan budaya dan memastikan semuanya tetap aman.

Karena pada akhirnya, tradisi yang baik bukan cuma yang indah dipandang, tapi juga yang bijak dijalankan.

Dan mungkin, di situlah letak keindahannya yang sebenarnya—ketika langit tetap ramai oleh balon warna-warni, tapi hati semua orang juga tenang karena tahu semuanya berjalan dengan aman.

Petugas Kepolisian Resor Wonosobo, Jawa Tengah, memastikan balon udara yang terbangkan dalam tradisi turun-temurun di daerah itu setiap Lebaran, telah memenuhi prosedur keselamatan, yakni dengan cara ditambatkan dan tidak dilepas secara liar.

Wakil Kepala Polres Wonosobo Kompol Agustinus David Putraningtyas di Wonosobo, Minggu (22/3), mengatakan pengawasan oleh petugas ini dilakukan untuk mencegah potensi gangguan, baik terhadap keselamatan penerbangan maupun risiko kebakaran.

Tradisi balon udara di Kabupaten Wonosobo kembali digelar mulai H+2 Lebaran 2026 dengan pelaksanaan berlangsung di sejumlah lokasi pada hari-hari berikutnya. Tradisi tahunan ini menjadi kegiatan dinanti masyarakat sekaligus daya tarik wisata khas daerah tersebut.

Ia menyatakan menyampaikan bersama jajaran pejabat utama Polres Wonosobo melakukan patroli ke sejumlah lokasi festival balon udara itu.

Sejumlah lapangan yang menjadi pusat kegiatan itu, tidak luput dari pemantauan petugas, di antaranya Lapangan Lumajang di Watumalang, Lapangan Gemblengan Garu, Lapangan Wonolelo, Tanjung Sari Land Sapuran, Lapangan Kembaran Kalikajar, serta Lapangan Butuh Kalikajar.

Di lokasi tersebut, ujarnya, masyarakat tampak antusias mengikuti festival balon udara yang telah menjadi tradisi turun-temurun di daerah setempat.

Pihaknya mendukung pelestarian tradisi balon udara selama dilaksanakan sesuai aturan yang berlaku.

“Kami mendukung tradisi balon udara sebagai kearifan lokal masyarakat Wonosobo. Namun demikian, kami mengingatkan agar pelaksanaannya tetap sesuai prosedur, yakni balon harus ditambatkan sehingga tidak membahayakan keselamatan. Kami juga ingin memastikan seluruh rangkaian festival berjalan aman, lancar, dan tertib,” katanya.

Kehadiran aparat kepolisian di tengah kegiatan masyarakat tersebut sekaligus menjadi bentuk pelayanan dan pengamanan, agar tradisi yang telah berlangsung lama itu tetap dapat dinikmati tanpa menimbulkan risiko.

Polres Wonosobo juga mengimbau masyarakat untuk mematuhi aturan yang telah ditetapkan serta menjaga situasi kamtibmas selama perayaan Lebaran, sehingga tradisi balon udara dapat terus lestari dan menjadi daya tarik wisata yang aman bagi semua pihak.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.