Perang Timur Tengah Rugikan Dunia Penerbangan Rp900 Triliun. Detil Serangan Darat Disiapkan

Sabtu, 21 Mar 2026, 14:23 WIB

JAKARTA – Jumlah 900 triliun jelas bukan angka kecil. Apalagi itu adalah uang. Uang itu hilang dari dunia penerbangan karena perang Timur Tengah.

Ketegangan di kawasan Teluk Persia yang dipicu serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran menyebabkan kerugian hingga 53 miliar dolar AS (setara hampir Rp900 triliun) bagi 20 perusahaan penerbangan terbuka terbesar sedunia, menurut kalkulasi Financial Times.

Ket. Foto: penerbangan ambrol — Sumber: ist

Harian itu melaporkan bahwa manajemen maskapai penerbangan terus memperingatkan dampak yang dapat mereka hadapi atas meningkatnya harga minyak, gangguan di bandara-bandara kawasan Teluk, dan anjloknya permintaan global.

Financial Times juga menyampaikan bahwa dalam beberapa bulan ke depan, penumpang yang merencanakan keberangkatan ke rute-rute yang bahkan tak terkait dengan Timur Tengah dapat menghadapi kenaikan drastis harga tiket penerbangan. Hal tersebut terjadi seiring maskapai penerbangan berupaya menjaga pemasukan mereka, demikian Financial Times.

Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran, termasuk Teheran, sehingga menimbulkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Iran lantas melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel dan pangkalan militer AS di se-antero Timur Tengah.

AS dan Israel awalnya mengeklaim serangan tersebut diperlukan untuk menangkal ancaman dari program nuklir Iran, tetapi kemudian jelas bahwa mereka sebenarnya menginginkan pergantian kekuasaan di Iran.

Trump Siapkan Serangan Darat

Sementara itu, saat ini ada laporan yang menyebutkan bahwa pemerintahan Trump sedang melakukan persiapan terperinci untuk mengerahkan pasukan darat AS ke Iran.

Hal itu terjadi sehari setelah Presiden Donald Trump mengatakan kepada wartawan dalam konferensi pers bahwa dirinya tidak akan menempatkan pasukan di mana pun. "Jika saya akan melakukannya, saya tentu tidak akan memberi tahu Anda," katanya.

CBS News melaporkan bahwa para komandan militer senior telah mengajukan permintaan khusus yang bertujuan untuk mempersiapkan pengerahan pasukan darat Amerika di Iran saat presiden berkoordinasi dengan Israel tentang pe
nggunaan bersama sumber daya militer AS dan Israel.
Namun, Gedung Putih menyatakan bahwa belum ada keputusan terkait kemungkinan langkah militer oleh Presiden AS.

"Melakukan persiapan guna memberikan pilihan maksimal kepada Panglima Tertinggi adalah tugas Pentagon, itu tidak berarti Presiden telah membuat keputusan, dan seperti yang dikatakan Presiden, dia tidak berencana mengirim pasukan darat ke mana pun saat ini," kata juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt.

Selain potensi penggunaan pasukan darat AS, laporan tersebut mengatakan bahwa para pejabat militer telah mengadakan pertemuan untuk mempersiapkan bagaimana menangani tawanan perang jika tentara dan personel paramiliter Iran ditahan, dan di mana para tahanan tersebut akan ditahan.

Sementara Trump mempertimbangkan pengerahan pasukan darat AS, Iran terus menyerang infrastruktur minyak di wilayah Teluk, termasuk serangan drone pada Jumat yang mengenai kilang minyak di Kuwait, menurut laporan media. Iran juga telah menembakkan rudal ke target di Israel, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Sekitar 4.000 anggota militer AS ditempatkan di Iran, termasuk 2.500 Marinir, menurut Newsmax. Pasukan ditempatkan di atas tiga kapal amfibi, yang menampung jet tempur F-35, rudal, dan kendaraan amfibi yang mampu diluncurkan dari kapal untuk serangan darat.

Angka terbaru yang dirilis oleh militer AS mengungkapkan bahwa 13 anggota militer telah tewas dalam perang sejauh ini dan 200 tentara telah terluka, tanpa pasukan di darat.

  • Dunia Penerbangan
  • perang timur tengah

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.