Pemerhati: Konflik Global Momentum Dorong Percepatan Swasembada Pangan

Sabtu, 14 Mar 2026, 00:05 WIB

JAKARTA - Ketegangan di Timur Tengah yang dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Iran dinilai belum berdampak langsung terhadap ketahanan pangan Indonesia. Namun situasi tersebut tetap perlu diantisipasi, jika konflik berlangsung berkepanjangan.

Hal ini ditegaskan Ketua Dewan Pakar DPP Pemuda Tani Indonesia, Bayu Dwi Apri Nugroho. Meski demikian, ia mengatakan potensi gangguan pasokan global tetap harus menjadi perhatian pemerintah.

Ket. Foto: Ketua Dewan Pakar DPP Pemuda Tani Indonesia, Bayu Dwi Apri Nugroho — Sumber: Istimewa

Menurut Bayu, konflik global justru dapat menjadi momentum mempercepat kemandirian pangan nasional. Indonesia diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pangannya tanpa bergantung pada negara lain.

“Kalau konflik ini terus berlanjut, mungkin nanti akan berpengaruh. Tetapi sisi positifnya, Indonesia didorong untuk lebih cepat mencapai swasembada pangan,” ujar dia, Jumat (13/3).

Ia menilai sejumlah program pemerintah sebenarnya sudah mengarah pada penguatan produksi pangan nasional. Program tersebut antara lain optimalisasi lahan, cetak sawah baru, serta modernisasi pertanian melalui mekanisasi.

Bayu menjelaskan peningkatan produktivitas penting, karena minat generasi muda menjadi petani terus menurun. Karena itu modernisasi alat dan teknologi pertanian diperlukan untuk menjaga produksi tetap tinggi.

Selain faktor geopolitik, sektor pertanian juga dihadapkan pada potensi kemarau panjang tahun ini. Informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut musim kemarau diprediksi mulai April dan berpotensi berlangsung cukup lama.

Menurut Bayu, ada tiga langkah yang dapat dilakukan untuk menghadapi ancaman kekeringan. Pertama, memperkuat komunikasi antara penyuluh pertanian dan petani di lapangan.

“Petani kita rata-rata sudah berusia di atas 50 tahun, sehingga perlu pendampingan dari penyuluh,” kata Bayu.

Ia menambahkan penyuluh berperan menyampaikan informasi cuaca dan strategi tanam yang tepat.

Langkah kedua adalah mendorong inovasi teknologi pertanian. Salah satunya melalui pengembangan varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan tetapi tetap berproduksi tinggi.

Ketiga, informasi cuaca harus tersedia hingga tingkat desa. Hal ini penting karena tidak semua wilayah Indonesia mengalami kondisi cuaca yang sama.

Bayu juga menekankan ketahanan pangan seharusnya dimulai dari tingkat rumah tangga. Masyarakat dapat memanfaatkan lahan kosong untuk menanam sayuran secara mandiri, termasuk dengan metode hidroponik.

“Ketahanan pangan harus dimulai dari rumah tangga, kemudian RT, desa, hingga tingkat nasional,” ujar dia.

Menurut dia, kebiasaan menanam sendiri dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Sebelumnya, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menilai dinamika geopolitik global dapat menjadi peluang mempercepat transformasi ekonomi nasional. Hal tersebut disampaikan dalam acara Tasyakuran HUT ke-1 Danantara Indonesia di Jakarta, Rabu (11/3).

Presiden Prabowo menyatakan sejarah menunjukkan negara yang mampu beradaptasi saat krisis akan menjadi lebih kuat. Menurut dia, tekanan global justru dapat mendorong percepatan agenda pembangunan strategis.

“Krisis menurut saya adalah blessing in disguise yang memaksa kita mempercepat berbagai agenda pembangunan strategis,” kata Presiden Prabowo.

Ia menilai Indonesia memiliki keunggulan melalui sumber daya alam yang melimpah.

Potensi tersebut mencakup sektor pertanian, perkebunan, serta energi terbarukan. Sektor-sektor tersebut dinilai dapat memperkuat ketahanan ekonomi dan mengurangi ketergantungan impor. ils/I-1

  • dampak konflik
  • ketahanan pangan nasional

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.