Maskapai Internasional Ramai-ramai Naikkan Tarif karena Tekanan Konflik Timur Tengah

Rabu, 11 Mar 2026, 01:00 WIB

Singapura – Maskapai penerbangan Australia Qantas Airways dan Air New Zealand pada Selasa (10/3), menyatakan menaikkan tarif penerbangan akibat lonjakan tajam harga bahan bakar yang dipicu konflik di Timur Tengah.

Kenaikan biaya operasional tersebut menyoroti kesulitan maskapai global dalam menghadapi lonjakan harga bahan bakar secara tiba-tiba.

Ket. Foto: Para staf darat Qantas Airways terlihat di landasan pacu dekat pesawat di terminal domestik Bandara Internasional Sydney. — Sumber: AFP/DAVID GRAY

Dikutip dari Channel NewsAsia, Air New Zealand menyebut harga bahan bakar jet yang sebelumnya berada di kisaran 85–90 dollar AS per barel sebelum konflik kini melonjak tajam menjadi 150–200 dollar AS per barel dalam beberapa hari terakhir. Maskapai itu juga menangguhkan proyeksi keuangan tahun 2026 akibat ketidakpastian situasi geopolitik.

Perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran turut mendorong kenaikan harga minyak dunia, mengganggu perjalanan global, serta memicu kekhawatiran terhadap penurunan sektor pariwisata dan potensi pembatasan operasional penerbangan.

Gangguan juga terjadi pada lalu lintas udara di kawasan Timur Tengah. Layanan pelacakan penerbangan Flightradar24 melaporkan sejumlah pesawat yang hendak mendarat di Dubai sempat berada dalam pola penahanan di udara pada Selasa pagi karena potensi serangan rudal, sebelum akhirnya mendarat dengan aman.

Qantas menyatakan selain menaikkan tarif internasional, maskapai tersebut juga mempertimbangkan untuk mengalihkan kapasitas penerbangan ke Eropa karena maskapai dan penumpang berupaya menghindari rute yang terdampak konflik.

Maskapai itu mencatat tingkat keterisian penerbangan ke Eropa mencapai lebih dari 90 persen pada Maret, meningkat dari rata-rata normal sekitar 75 persen pada periode yang sama setiap tahun.

Lonjakan harga tiket juga terjadi pada rute Asia–Eropa akibat penutupan wilayah udara dan keterbatasan kapasitas. Cathay Pacific Airways dari Hong Kong bahkan menambah penerbangan ekstra ke London dan Zurich selama Maret.

Sementara itu, Air New Zealand menaikkan tarif kelas ekonomi sekali jalan sebesar 10 dollar Selandia Baru untuk rute domestik, 20 dollar untuk penerbangan internasional jarak pendek, serta 90 dollar untuk penerbangan jarak jauh. Maskapai tersebut juga membuka kemungkinan penyesuaian jaringan dan jadwal jika harga bahan bakar tetap tinggi.

Maskapai lain juga melakukan penyesuaian biaya tambahan bahan bakar. Hong Kong Airlines mengumumkan kenaikan biaya tambahan hingga 35,2 persen mulai Kamis, dengan kenaikan tertinggi pada rute Hong Kong–Maladewa, Bangladesh, dan Nepal.

Di Vietnam, Vietnam Airlines meminta pemerintah menghapus pajak lingkungan pada bahan bakar jet karena biaya operasional maskapai meningkat sekitar 60–70 persen akibat kenaikan harga bahan bakar.

Harga Minyak

Di sisi lain, pasar saham maskapai penerbangan mulai menunjukkan tanda stabil setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan perang kemungkinan segera berakhir. Harga minyak yang sempat mencapai 119 dollar AS per barel pada Senin (9/3), turun ke sekitar 90 dollar AS per barel pada Selasa.

Di Asia, saham beberapa maskapai juga menguat, di antaranya Air New Zealand naik 2 persen, Korean Air naik 8 persen, Qantas Airways naik 1,5 persen, dan Cathay Pacific naik lebih dari 4 persen.

Bahan bakar merupakan komponen biaya terbesar kedua bagi maskapai setelah tenaga kerja, biasanya menyumbang sekitar 20–25 persen dari total biaya operasional.

Lonjakan harga bahan bakar juga berpotensi berdampak pada sektor pariwisata global. Perusahaan perjalanan Korea Selatan HanaTour Service telah membatalkan tur kelompok yang mencakup penerbangan ke Timur Tengah dan menangguhkan seluruh paket wisata ke kawasan tersebut selama bulan Maret.

Sementara itu, Kementerian Pariwisata Thailand memperkirakan jika konflik berlangsung lebih dari delapan minggu, negara itu berpotensi kehilangan sekitar 595.974 wisatawan dengan potensi kerugian pariwisata mencapai 40,9 miliar baht.

  • Tarif Penerbangan

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.