Krisis Energi Global, Bank Sentral Asia Terjepit

Rabu, 11 Mar 2026, 00:00 WIB

Krisis geopolitik di Timur Tengah membuat bank-bank sentral di Asia menghadapi dilema antara menjaga pertumbuhan ekonomi dan menahan inflasi akibat gangguan pasokan global.

JAKARTA – Krisis geopolitik di Timur Tengah (Timteng) menempatkan bank-bank sentral di Asia pada posisi yang cukup dilematis. Di satu sisi, mereka perlu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi agar tidak melambat, namun di sisi lain tekanan inflasi meningkat akibat gangguan pasokan global, terutama pada sektor energi dan logistik.

Ket. Foto: Krisis geopolitik di Timur Tengah (Timteng) menempatkan bank-bank sentral di Asia pada posisi yang cukup dilematis. — Sumber: istimewa

Kondisi ini membuat otoritas moneter harus lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan, agar stabilitas harga tetap terjaga tanpa mengorbankan pemulihan ekonomi.

Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, menjelaskan dampak gejolak ekonomi global terhadap nilai tukar rupiah terjadi melalui proses transmisi yang membutuhkan waktu. Ketika terjadi guncangan ekonomi, pelaku pasar yang membutuhkan dollar AS untuk transaksi cenderung menyimpan mata uang tersebut atau beralih ke aset aman seperti emas.

“Peningkatan permintaan dollar di tengah pasokan terbatas pada akhirnya dapat menekan nilai rupiah,” ujarnya di Jakarta, Selasa (10/3).

Untuk mengurangi tekanan tersebut, dia menyarankan beberapa strategi, antara lain meningkatkan pemasukan devisa seperti dari sektor pariwisata, melakukan hedging dalam kontrak ekspor-impor, serta memperluas penggunaan mata uang selain dollar AS—misalnya yuan—dalam transaksi perdagangan dengan negara mitra.

Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko menilai konflik antara AS, Israel, dan Iran memicu kenaikan harga BBM yang berpotensi mendorong inflasi. Sebelum konflik terjadi, lanjutnya, kebijakan Bank Indonesia (BI) lebih difokuskan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penurunan suku bunga, insentif likuiditas makroprudensial, serta penguatan sistem pembayaran digital.

“Namun jika konflik berkepanjangan, BI diperkirakan perlu menggeser prioritas kebijakannya dengan memperkuat aspek stabilitas dibandingkan pertumbuhan,” katanya.

Dia juga menekankan pentingnya koordinasi fiskal dan moneter untuk menekan inflasi, termasuk melalui intervensi pasar, peningkatan subsidi dan cadangan BBM, serta penerapan harga eceran tertinggi guna menjaga stabilitas harga di dalam negeri.

Tekanan Inflasi

Krisis yang memanas di Timur Tengah mengubah arah kebijakan bank-bank sentral di Asia karena guncangan pasokan energi meningkatkan tekanan inflasi sekaligus mengancam pertumbuhan ekonomi. Dalam kondisi ini, langkah menurunkan suku bunga menjadi semakin berisiko bagi negara berkembang karena dapat memperparah tekanan harga dan memicu arus keluar modal.

Sejumlah bank sentral diperkirakan akan lebih fokus menjaga stabilitas pasar valuta asing melalui intervensi untuk menahan pelemahan mata uang, seperti yang kemungkinan dilakukan oleh Bank Sentral India.

“Kami tidak melihat kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat di India — kami juga tidak melihat harga bahan bakar eceran akan langsung naik,” kata Suvodeep Rakshit, ekonom di Kotak Institutional Equities yang berbasis di Mumbai.

Sementara itu, negara seperti Thailand dan Filipina mungkin harus meninjau kembali kebijakan moneter longgar mereka, meskipun kenaikan biaya bahan bakar merugikan perekonomian mereka, kata Toru Nishihama. “Banyak bank sentral akan menghadapi keputusan sulit karena mereka berada di bawah tekanan dari pasar dan pemerintah," kata kepala ekonom pasar negara berkembang di Dai-ichi Life Research Institute di Tokyo.

Dengan harga minyak yang melonjak dan dollar AS menguat sebagai aset aman, risiko stagflasi di kawasan Asia pun semakin meningkat, terutama bagi negara yang bergantung pada perdagangan global dan bahan baku murah seperti Korea Selatan dan Jepang.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.