• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Kesadaran Memelihara Lingk...

Kesadaran Memelihara Lingkungan Makin Meluas seperti dilakukan Gemabudhi

Senin, 09 Mar 2026, 02:11 WIB

TANGERANG – Lingkungan tempat kita tinggal memang harus dipelihara, jangan malah dirusak demi kerakusan. Beruntung kini kesadaran untuk memelihara lingkungan ternyata juga mulai meluas, seperti disampaikan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama, Supriyadi. Dia menyatakan penebaran ekoenzim oleh Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi), Kementerian Lingkungan Hidup, dan Kemenag di Sungai Jeletreng yang tercemar pestisida merupakan praktik nyata ekoteologi.

“Inilah bentuk praktik nyata dari ekoteologi seperti yang diarahkan oleh Menteri Agama. Mudah-mudahan gerakan ini terus berkembang karena teman-teman berkomitmen untuk terus membuat ekoenzim,” ujar Supriyadi di sela-sela penebaran ekoenzim di Sungai Jeletreng, Kota Tangerang Selatan, Minggu.

Ket. Foto: air kali cisadane tercemar — Sumber: ist

Sungai Jeletreng tercemar bahan pestisida imbas kebakaran yang terjadi di gudang penyimpanan bahan tersebut pada Februari lalu. Air sisa pemadaman bercampur dengan residu bahan kimia kemudian mengalir ke badan sungai dan menyebabkan pencemaran. Sungai Jeletreng ini bermuara ke Sungai Cisadane.

Supriyadi menjelaskan ajaran Buddha menekankan pentingnya menjaga alam, karena manusia hidup dan bergantung pada lingkungan. Terdapat nilai yang menekankan kewajiban manusia untuk merawat alam, termasuk hutan, dan sumber daya alam lainnya.

“Dalam praktik keagamaan Buddha kita juga diajarkan menjaga hutan. Ada ajaran yang menekankan pentingnya merawat alam karena dari alam semesta inilah kita memperoleh sumber kehidupan,” ujarnya. Selain itu, konsep Paticca Samuppada atau saling keterhubungan juga mengajarkan bahwa seluruh makhluk hidup saling bergantung satu sama lain.

Menurut Supriyadi, pemahaman tentang keterhubungan tersebut menjadi dasar moral bagi umat Buddha untuk menjaga lingkungan sebagai bagian dari kehidupan bersama. “Prinsipnya adalah saling keterhubungan atau interbeing. Semua makhluk saling berkaitan sehingga harus saling menghargai dan saling menjaga,” katanya.

Ia menambahkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha juga telah menggerakkan umat Buddha untuk memproduksi ekoenzim secara lebih luas, termasuk dalam rangka menyambut perayaan Hari Raya Waisak.

“Nanti kami akan punya gerakan pembuatan ekoenzim secara masif. Hasilnya akan kita gunakan di tempat-tempat yang memang membutuhkan, tidak hanya di Sungai Jeletreng,” katanya. Aksi penebaran 10.000 liter ekoenzim ini tercatat di Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai penuangan ekoenzim terbanyak di sungai.

Kegiatan tersebut dipimpin langsung Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, didampingi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Buddha Kementerian Agama Supriyadi, Ketua Umum Gemabudhi Bambang Patijaya, Wakil Wali Kota Tanggerang Selatan, dan Ketua DPRD Tanggerang Selatan.

Aksi ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Lahir ke-40 Gemabudhi sekaligus sebagai upaya membantu pemulihan kualitas lingkungan Sungai Cisadane. “Pada kali ini Muri menjadi saksi aksi anak-anak Buddhis Indonesia yang menuangkan eco enzyme dalam rangka menyambut 40 tahun usia Gemabudhi,” ujar Direktur Operasional Muri, Jusuf Ngadri.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.