Cegah Gangguan Produksi Pangan 2026, Kementan Percepat Rehabilitasi Irigasi Tersier
Rabu, 04 Mar 2026, 10:06 WIBJAKARTAâ Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat rehabilitasi dan pemeliharaan saluran irigasi tersier sebagai langkah strategis mengamankan produksi pangan nasional pada Triwulan I tahun 2026. Percepatan ini dilakukan untuk mengoptimalkan pengelolaan air di tengah tingginya curah hujan serta meningkatkan kesiapan menghadapi musim tanam berikutnya.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP) Kementan, Hermanto, menyampaikan bahwa saluran tersier merupakan ujung tombak distribusi air ke lahan petani. Saat hujan berlebih, saluran yang tidak terpelihara akibat sedimentasi dan kerusakan bangunan pembagi kerap memicu genangan tidak merata hingga risiko puso.
âKarena itu, kami lakukan identifikasi kondisi saluran, normalisasi melalui pengerukan sedimen dan perkuatan talud, serta perbaikan pintu air agar debit dapat dikendalikan dan air terdistribusi merata,â ujar Hermanto di Jakarta, Selasa (3/3).
Selain rehabilitasi fisik, Kementan juga mendorong penerapan teknologi drainase terkendali dan panen air hujan. Air berlebih dapat ditampung sementara di petakan sawah atau embung, lalu dimanfaatkan kembali saat kebutuhan meningkat. Integrasi irigasi dan drainase ini menjadikan sistem lebih hemat air, adaptif terhadap iklim, dan efisien biaya.
Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025, Kementan diamanahkan mengusulkan rehabilitasi irigasi tersier pada daerah irigasi kewenangan pusat dengan luas di atas 3.000 hektare, serta memfasilitasi pemeliharaan jaringan melalui penguatan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum juga diperkuat guna memastikan sistem irigasi primer dan sekunder berfungsi optimal.
Sebagai contoh, pada tahun 2025 di Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatanâsalah satu sentra padi nasional dengan usulan terbesar rehabilitasi saluran irigasi tersierâmenunjukkan kontribusi nyata dalam menjaga produksi pangan nasional. Fasilitasi rehabilitasi dilakukan di DI Palakka seluas 5.000 hektare, DI Sanrego seluas 1.700 hektare, dan DI Pattiro seluas 3.000 hektare. Hasilnya, terjadi peningkatan Indeks Pertanaman (IP) padi di wilayah tersebut.
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa sistem irigasi yang berfungsi optimal menjadi kunci peningkatan frekuensi tanam serta kepastian pola tanam, karena ketersediaan air lebih terjamin dan tidak sepenuhnya bergantung pada curah hujan.
âDengan sistem irigasi yang berfungsi optimal, lahan sawah yang sebelumnya hanya dapat ditanami satu atau dua kali setahun dapat ditingkatkan menjadi dua hingga tiga kali tanam. Selain itu, ketersediaan air dapat lebih terjamin karena lahan pertanian tidak lagi bergantung sepenuhnya pada curah hujan, sehingga pola tanam dapat direncanakan dengan lebih pasti,â ujar Mentan.
Dengan langkah terukur dan kolaborasi lintas sektor, Kementan optimistis penguatan rehabilitasi irigasi tersier akan semakin memperkokoh sistem pengelolaan air pertanian yang adaptif dan berkelanjutan, sehingga produksi pangan nasional tetap terjaga sepanjang 2026.
- Sektor Pertanian
- irigasi
- Kementerian Pertanian (Kementan)
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Momentum Terakhir Musim Hujan! Kementan Pacu Tanam Serentak 50 Ribu Hektar Sebelum El Nino
-
Hadapi Kemarau, Pemerintah Salurkan 11.000 Pompa Air ke Daerah
-
Produksi Susu RI Cuma 20% Kebutuhan Nasional, Kementan: Ini Waktunya Swasembada!
-
Stok Melimpah: Kementan Gercep Serap Telur Peternak Magetan di Tengah Produksi Melimpah
-
Selat Hormuz Mulai Pulih, Arus Minyak Dunia Kembali Normal
-
Pemkab Banyuwangi Terus Promosikan Kuliner untuk Gerakkan Perekonomian
-
Progres Rata-Rata 59 Persen, Menteri PU Pastikan Kualitas Bangunan Sekolah Rakyat Tahap II Tetap Terjaga
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.