Investor Panik! Dana Mengalir ke Safe Haven Saat Konflik Iran-AS Memanas

Senin, 02 Mar 2026, 23:04 WIB

JAKARTA – Investor kini cenderung kabur dari aset-aset berisiko dan mengalihkan dananya ke instrumen yang dianggap lebih aman seiring eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta potensi dampaknya terhadap stabilitas ekonomi global.

Ketidakpastian geopolitik tersebut mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti emas dan obligasi, sementara permintaan terhadap saham dan instrumen berisiko menurun karena investor memilih melindungi modal dari volatilitas pasar yang meningkat.

Ket. Foto: Ilustrasi - Emas batangan pada Uang Kertas 100 Dolar AS. — Sumber: ANTARA/Shutterstock

Pengamat Pasar Modal Reydi Octa mengatakan investor global cenderung mengalihkan dananya ke aset safe haven seperti emas, dolar Amerika Serikat (AS), dan obligasi pemerintah AS.

Pengalihan dana investasi itu dilakukan seiring meningkatnya tensi konflik antara Iran dengan AS dan Israel, yang menyebabkan investor mengurangi eksposurnya dari pasar saham, utamanya emerging markets termasuk Indonesia.

“Di domestik, investor akan selektif ke saham energi atau komoditas yang diuntungkan kenaikan harga minyak,” ujar Reydi saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, Senin.

Sejauh ini, Reydi melihat bahwa konflik antara ketiga negara tersebut dampaknya akan cenderung ke jangka pendek dan berbasis sentimen.

Apabila konflik tidak meluas dan tidak mengganggu pasokan energi global secara signifikan, menurutnya, pasar biasanya cepat berkonsolidasi dan rebound (berbalik menguat)

“Namun bila eskalasi membesar, efeknya bisa lebih dalam dan berkepanjangan,” ujar Reydi.

Bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Ia menyebut dampaknya cenderung negatif untuk jangka pendek karena investor asing mengurangi eksposur di emerging markets, bersamaan dengan tertekannya Rupiah, dan volatilitas meningkat.

“Kenaikan harga minyak juga menambah kekhawatiran inflasi,” ujar Reydi.

Sementara itu, untuk sentimen pada pekan ini selain konflik geopolitik, Reydi menyebut pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan suku bunga global, pergerakan harga minyak, data inflasi, serta arus dana asing.

“Faktor teknikal IHSG juga penting, karena posisi indeks menentukan apakah koreksi ini hanya pullback sehat atau awal tekanan lanjutan,” ujar Reydi.

Data perdagangan di BEI pada Senin (02/03) pukul 15.00 WIB, IHSG tercatat melemah 195,22 poin atau 2,33 persen ke posisi 8.040,16.

Adapun, frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.981.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 44,09 miliar lembar saham senilai Rp22,97 triliun. Sebanyak 99 saham naik, 727 saham menurun, dan 132 tidak bergerak nilainya.

  • BEI
  • safe haven
  • Perang AS-Israel dengan Iran

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.