• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Tenun Dayak Iban Tembus Pa...

Tenun Dayak Iban Tembus Pasar Internasional dan World Expo Osaka

Minggu, 01 Mar 2026, 19:58 WIB

JAKARTA – Berangkat dari potensi tenun Dayak Iban sebagai komoditas unggulan lokal di Kapuas Hulu, Aram Bekelala Tenun Iban, sebuah program dari Yayasan Kawan Lama, hadir sebagai upaya pemberdayaan perempuan yang menghubungkan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi.

Program tersebut dijalankan di empat dusun dengan fokus pada peningkatan kapasitas penenun melalui pelatihan terstruktur, pengembangan produk berbasis nilai budaya, serta pembukaan akses pasar yang berkelanjutan.

Ket. Foto: Para penenun dari suku Dayak Iban. Program Aram Bekelala Yayasan Kawan Lama sukses meningkatkan pendapatan penenun Dayak Iban hingga 360%. Melalui inovasi 69 warna alami dan pelatihan terstruktur, tenun lokal Kapuas Hulu kini merambah panggung mode nasional dan dunia. — Sumber: Yayasan Kawan Lama

Dalam satu tahun pelaksanaan, program Aram Bekelala mencatat peningkatan kesejahteraan penenun Dayak Iban dengan rata-rata pendapatan meningkat drastis hingga 360%. Capaian ini didorong oleh pendampingan berkelanjutan yang mencakup penguatan teknik tenun, pewarnaan alami, literasi keuangan, hingga strategi pemasaran. Program ini juga mencetak fasilitator lokal melalui Training of Trainers (ToT) serta melibatkan generasi muda dalam edukasi budaya dan lingkungan untuk menjaga

“Program Aram Bekelala Tenun Iban dirancang sebagai upaya jangka panjang untuk memperkuat kemandirian komunitas. Melalui peningkatan kapasitas dan pembukaan akses pasar, kami ingin memastikan pelestarian budaya berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat sehingga manfaatnya dirasakan secara berkelanjutan,” ujar Ketua Yayasan Kawan Lama, Tasya Widyakrisnadi, melalui keterangannya pada hari Jumat (27/2).

Wakil Bupati Kapuas Hulu, Sukardi, turut mengapresiasi inisiatif ini. “Kami mengapresiasi program Aram Bekelala yang membuka ruang bagi perempuan penenun untuk meningkatkan kemandirian ekonomi. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mendorong pemberdayaan berbasis potensi lokal. Tenun Dayak Iban bukan hanya identitas budaya, tetapi juga sumber penghidupan yang perlu terus dikembangkan,” ujarnya.

Salah satu penenun binaan, Kristina Anyun, mengungkapkan perubahan nyata yang dirasakannya. “Melalui pelatihan ini, kami tidak hanya meningkatkan kualitas tenun, tetapi juga lebih percaya diri mengelola dan memasarkan hasil karya. Sekarang, kami memiliki bekal untuk mengembangkan usaha tenun secara mandiri,” tuturnya.

Dari sisi inovasi produk, program ini berhasil mengembangkan lima motif baru serta mendokumentasikan 58 motif tenun sebagai upaya pelestarian warisan budaya. Selain itu, teknik pewarnaan alami diperluas dari enam menjadi 69 variasi warna menggunakan tanaman lokal seperti ketapang, daun kratom, dan kayu tebelian.

Kualitas produk yang meningkat membawa karya binaan ini ke panggung nasional dan internasional, termasuk partisipasi dalam Fashion Nation XIX, Jakarta Fashion Week 2026, hingga World Expo Osaka 2025. Program ini juga berkolaborasi dengan Cita Tenun Indonesia serta desainer Wilsen Willim. Untuk memperluas jangkauan pasar, para penenun didorong melalui proses kurasi untuk masuk ke kanal distribusi Pendopo.

“Ke depan, pada tahun 2026, program ini akan berfokus pada penguatan kualitas desain, eksplorasi pewarna alam baru, serta peningkatan kapasitas perencanaan bisnis. Kami meyakini pemberdayaan berbasis budaya adalah fondasi penting untuk menciptakan peluang ekonomi yang inklusif,” tambah Tasya.

  • Ekonomi Kreatif
  • Pewarna Alami
  • Yayasan Kawan Lama
  • Aram Bekelala
  • Dayak Iban
  • Tenun Dayak Iban
  • Pemberdayaan Perempuan
  • Kapuas Hulu
  • Pelestarian Budaya
  • Jakarta Fashion Week 2026
  • World Expo Osaka 2025
  • Tasya Widyakrisnadi

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.