Junta Kembali Lancarkan Serangan Udara

Kamis, 26 Feb 2026, 02:40 WIB

YANGON – Serangan udara militer Myanmar terhadap pasar desa di negara bagian paling barat negara itu menewaskan sedikitnya 17 orang, menurut dua sumber lokal pada Rabu (25/2).

Myanmar telah dilanda perang saudara sejak junta dengan merebut kekuasaan dalam kudeta tahun 2021, yang mempertentangkan militer dengan berbagai kelompok bersenjata etnis minoritas dan gerilyawan pro-demokrasi.

Ket. Foto: Sejumlah rumah terbakar setelah jet tempur junta Myanmar menyerang sebuah pasar di Desa Yoe Ngu di Kotapraja Ponnagyun di Negara Bagian Rakhine pada Selasa (24/2). Akibat serangan udara ini dilaporkan sedikitnya 17 orang tewas. — Sumber: irrawaddy.com

Negara Bagian Rakhine di pesisir barat termasuk di antara wilayah yang paling parah terkena dampaknya. Hampir seluruh wilayahnya dikuasai oleh Tentara Arakan yang merupakan kelompok etnis minoritas dan wilayah ini telah diblokade oleh junta dan dihujani serangan udara secara berkala.

“Angkatan udara junta telah menyerang Desa Yoe Ngu di Kotapraja Ponnagyun, sekitar 33 kilometer timur laut ibu kota Negara Bagian Sittwe pada 24 Februari,” lapor kelompok oposisi bersenjata dan kelompok sukarelawan lokal.

Juru bicara militer Myanmar tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar terkait laporan ini.

Pernyataan Tentara Arakan mencantumkan nama 17 warga sipil tak bersalah, termasuk tiga anak, yang tewas dalam serangan di pasar sekitar pukul 14.00 waktu setempat pada 24 Februari. Pernyataan itu juga menyebutkan 15 orang lainnya terluka.

Pyae Phyo Naing, ketua Asosiasi Pemuda Ponnagyun, mengatakan: “Dalam daftar kami, ada 18 orang yang dipastikan meninggal dan 16 orang terluka.”

Sesampainya di lokasi kejadian setelah serangan udara, ia menggambarkan dampaknya sebagai sangat buruk; empat atau lima bangunan terbakar dan banyak bangunan hancur.

“Beberapa orang menangis, sementara banyak mayat berserakan di area tersebut,” ungkap pemuda berusia 23 tahun itu. “Beberapa orang berlari menjauh dari lokasi kejadian karena masih ada rumah-rumah yang terbakar ketika kami tiba,” imbuh dia.

Kian Memburuk

Kelompok-kelompok bantuan telah secara teratur menyuarakan kekhawatiran atas krisis yang semakin memburuk di Rakhine, yang berbatasan dengan Bangladesh.

Blokade militer di tengah konflik dan pemotongan besar-besaran bantuan internasional baru-baru ini telah menyebabkan peningkatan drastis kelaparan dan kekurangan gizi di negara tersebut, demikian peringatan Program Pangan Dunia pada tahun 2025.

Meskipun militer telah dituduh melakukan kekejaman di negara bagian tersebut, Tentara Arakan memiliki catatan pelanggaran hak asasi manusia sendiri, menurut para pengawas yang telah mencatat insiden dugaan penculikan, penyiksaan, dan eksekusi.

Kelompok ini telah muncul sebagai salah satu faksi paling kuat yang menentang pemerintahan junta dengan mendorong pasukan ke sejumlah posisi yang terkepung di Rakhine, termasuk Sittwe.

Militer sejauh ini masih mampu bertahan dengan bantuan pengiriman pasokan melalui udara dan serangan yang dilakukan oleh armada jet buatan Tiongkok dan Russia. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.