Harga Dijagain, Warga Diuntungkan: Jawa Tengah Siapkan 308 Kali Gerakan Pangan Murah

Jumat, 13 Feb 2026, 22:00 WIB

DEMAK – Menjelang Ramadan, Gerakan Pangan Murah (GPM) jadi semacam “penolong di saat genting” buat banyak keluarga.

Program yang digencarkan Badan Pangan Nasional ini hadir buat meredam lonjakan harga bahan pokok sekaligus menjaga daya beli masyarakat.

Ket. Foto: Gubernur Jateng Ahmad Luthfi saat meninjau Gerakan Pangan Murah di Halaman Kantor TVRI Jawa Tengah di Pucang Gading Mranggen, Demak, Jumat (13/2/2026). — Sumber: ANTARA/ Humas Pemprov Jateng

Soalnya, setiap mau masuk bulan puasa, permintaan biasanya naik—dan kalau tak diantisipasi, harga bisa ikut melonjak.

Lewat GPM, warga bisa dapat beras, minyak, gula, hingga kebutuhan dapur lain dengan harga lebih ramah kantong. Intinya sederhana: supaya Ramadan di Indonesia tetap terasa hangat, tanpa harus pusing mikirin belanja harian.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menjadwalkan 308 kali gerakan pangan murah (GPM) untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok penting selama Ramadhan dan Idul Fitri 2026.

"Jadi, kita sudah punya jadwal untuk kegiatan gerakan pangan murah ini. Nantinya akan diselenggarakan di seluruh daerah di Provinsi Jateng bekerja sama dengan pemerintah kabupaten/kota sampai Maret 2026," kata Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat meninjau Gerakan Pangan Murah di Halaman Kantor TVRI Jawa Tengah di Pucang Gading Mranggen, Kabupaten Demak, Jumat (13/2).

Luthfi menjelaskan gerakan pangan murah ini juga menjadi program nasional. Di Jawa Tengah diawali di daerah Pucang Gading, Mranggen, Demak. Lokasi tersebut dipilih karena merupakan daerah perbatasan dengan Kota Semarang.

Ia juga mengapresiasi antusiasme masyarakat sekitar terkait kegiatan tersebut.

Secara umum, ketersediaan pangan pokok strategis di Jawa Tengah dalam kondisi surplus. Namun, awal Februari 2026 ini memang terindikasi ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga, terutama menjelang Ramadhan.

Beberapa bahan pokok naik harganya, antara lain cabai naik 35,7 persen dari Harga Acuan Pembelian (HAP) menjadi Rp77.800/kg; MinyaKita Rp16.300/liter atau naik 3,4 persen dari Harga Acuan Tertinggi (HET) Rp15.700/liter; daging kerbau beku Rp110.000/kg atau naik 38,4 persen dari HPP Rp80.000/kg; jagung pakan ternak ayam petelur Rp6.250/kg atau naik 7,4 persen dari HPP Rp5.500/kg.

"Ada kenaikan tapi belum signifikan, kecuali cabai yang hampir mendekati angka Rp80 ribu. JTAB (Perusahaan Perseroan Daerah Jateng Agro Berdikari) sudah kita perintahkan untuk melakukan penetrasi harga di seluruh pasar," jelasnya.

Oleh karenanya, GPM menjadi salah satu langkah strategis guna mengendalikan harga bahan pokok supaya stabil dan terjangkau oleh masyarakat.

Dalam kegiatan GPM di Pucang Gading, setidaknya ada 11 pelaku usaha yang terlibat, termasuk kelembagaan lain seperti Bulog, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), PPI, JTAB, UMKM Binaan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Gapoktan Catur Tani Demak, Poktan Mudo Manunggal Roso, CV. Futago Farm Demak, UMKM Sedap Arum Demak, Ayam Komsiah Semarang, dan Primafood.

Selain GPM, langkah strategis lain untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok penting adalah melakukan penyisiran yang dilakukan oleh Satgas Pangan Jawa Tengah. Penyisiran juga untuk mengantisipasi adanya spekulan-spekulan.

"Harus kita sisir, mulai dari hilirisasi petani, distributor, sampah ke tempat penjualan dan konsumen," tegasnya.

Salah seorang warga Pucang Gading, Nuraini mengaku senang dan sangat terbantu sekali dengan adanya gerakan pangan murah tersebut. Apalagi harga yang dijual lebih murah dari di pasar. Semoga kegiatan serupa lebih sering diselenggarakan.

"Ini ada beras, telur, cabai. Cabai ini jauh lebih murah, segini kalau di pasar hampir Rb100 ribu, di sini cuma Rp65 ribu. Minyak juga lebih murah," ujarnya usai belanja bersama warga lain sembari menunjukkan barang belanjaan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.