- Home
-
- Luar Negeri
-
- ISIS Klaim Bertanggung Jaw...
ISIS Klaim Bertanggung Jawab atas Ledakan Bom Bunuh Diri di Masjid Pakistan
Sabtu, 07 Feb 2026, 09:32 WIBISLAMABAD - Kelompok ISIS mengklaim bertanggung jawab atas ledakan bom bunuh diri di sebuah masjid Syiah di Islamabad yang menewaskan 31 orang pada hari Jumat (6/2). Sebuah serangan paling mematikan di ibu kota Pakistan sejak pengeboman hotel Marriott tahun 2008.
Pejabat kota mengatakan 31 orang tewas dalam ledakan di masjid Imam Bargah Qasr-e-Khadijatul Kubra di daerah Tarlai di pinggiran kota, puluhan lainnya dirawat karena luka-luka. Jumlah korban tewas diperkirakan akan meningkat lebih lanjut.
Ledakan itu terjadi saat salat Jumat, ketika masjid-masjid di seluruh negeri dipenuhi jamaah. "Pelaku dihentikan di gerbang dan meledakkan diri," kata seorang sumber keamanan kepada AFP.
ISIS mengatakan salah satu militannya telah menargetkan jemaah tersebut, meledakkan rompi berisi bahan peledak dan "menyebabkan banyak kematian dan luka-luka", menurut SITE Intelligence Group, yang memantau komunikasi kelompok tersebut.
Muhammad Kazim, seorang jemaah berusia 52 tahun, mengatakan sebuah ledakan "sangat dahsyat" mengguncang bangunan tersebut saat salat baru saja dimulai.
"Saat rukuk pertama Namaz (ritual salat), kami mendengar suara tembakan," katanya kepada AFP.Â
"Dan saat kami masih dalam posisi membungkuk, terjadilah ledakan," katanya.
Seorang jamaah lainnya, Imran Mahmood, mengatakan kepada AFP bahwa terjadi baku tembak antara pelaku bom bunuh diri, kemungkinan seorang kaki tangan, dan personel keamanan sukarelawan di masjid tersebut.
"Pelaku bom bunuh diri itu mencoba bergerak maju, tetapi salah satu relawan kami yang terluka menembaknya dari belakang, mengenai pahanya," katanya kepada AFP.
Kemudian dia "meledakkan bahan peledak," tambah Mahmood, yang berusia lima puluhan.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bersumpah bahwa mereka yang berada di balik ledakan itu akan ditemukan dan dibawa ke pengadilan.
Serangan itu merupakan yang paling mematikan di ibu kota Pakistan sejak September 2008, ketika 60 orang tewas dalam ledakan bom truk bunuh diri yang menghancurkan sebagian hotel bintang lima Marriott.
Mayat, Pakaian Berlumur Darah, Puing-puingÂ
Para jurnalis AFP di rumah sakit Institut Ilmu Kedokteran Pakistan melihat beberapa orang, termasuk anak-anak, dibawa masuk dengan tandu atau dengan memegang lengan dan kaki mereka.
Tim jurnalis AFP lainnya melihat pasukan keamanan bersenjata di luar masjid, di mana genangan darah terlihat di tanah.
Video yang beredar di media sosial, yang belum dapat diverifikasi oleh AFP, menunjukkan beberapa mayat tergeletak di dekat gerbang depan masjid, dengan orang-orang dan puing-puing berserakan di ruang salat yang berkarpet merah.
Wakil Perdana Menteri Ishaq Dar menyebut serangan itu sebagai "kejahatan keji terhadap kemanusiaan dan pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip-prinsip Islam".
"Pakistan bersatu melawan terorisme dalam segala bentuknya," katanya dalam sebuah unggahan di X.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan "serangan terhadap warga sipil dan tempat ibadah tidak dapat diterima", menurut juru bicaranya.
Meningkatnya PemberontakanÂ
Serangan itu terjadi ketika pasukan keamanan Pakistan berjuang melawan pemberontakan yang semakin intensif di provinsi-provinsi selatan dan utara yang berbatasan dengan Afghanistan.
Pakistan adalah negara mayoritas Sunni, tetapi Syiah berada di antara 10 dan 15 persen dari populasi dan telah menjadi sasaran serangan di seluruh wilayah di masa lalu.
Islamabad mengatakan kelompok-kelompok bersenjata separatis di Balochistan selatan, serta Taliban Pakistan dan militan Islam lainnya di provinsi Khyber Pakhtunkhwa utara dekat Islamabad, telah menggunakan wilayah Afghanistan sebagai tempat berlindung yang aman untuk melancarkan serangan.
Pemerintah Taliban Afghanistan telah berulang kali membantah tuduhan Pakistan.
Hubungan bilateral telah merosot tajam, dengan pasukan dari kedua belah pihak secara teratur bentrok di sepanjang perbatasan.
Serangan besar terakhir di Islamabad terjadi pada bulan November ketika sebuah ledakan bom bunuh diri di luar gedung pengadilan menewaskan 12 orang dan melukai puluhan lainnya, insiden pertama yang melanda ibu kota dalam hampir tiga tahun.
Di Balochistan, serangan yang diklaim oleh pemberontak separatis pekan lalu menewaskan 36 warga sipil dan 22 personel keamanan, memicu gelombang operasi balasan di mana pihak berwenang mengatakan pasukan keamanan menewaskan hampir 200 militan.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Aldila Sutjiadi Siap Bertanding di DC Open dengan Pasangan Baru dari Meksiko
-
Disdik DKI Jakarta Nonaktifkan Pegawai SMPN 138 Cakung Berinisial DI untuk Pemeriksaan Intensif
-
Jepang Beri Subsidi BBM untuk Cegah Kenaikan Harga Imbas Konflik Timteng
-
Pemkab Natuna Pasang Internet Gratis hingga ke Objek Wisata
-
Bom Bunuh Diri di Pakistan Tewaskan 10 Orang, Disusul Baku Tembak Mencekam
-
Distamhut DKI Jakarta Tingkatkan Pengawasan dan Perawatan Pohon Demi Keselamatan
-
Sinergi Anak Muda dan Polisi, Dorong Medan Jadi Kota Wisata Tertib dan Berbudaya
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.