Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Free Float 15% Jadi Tameng Baru, Ekonom Klaim Manipulasi Harga Saham Bisa Ditekan

📅 Jumat, 06 Feb 2026, 19:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Free Float 15% Jadi Tameng Baru, Ekonom Klaim Manipulasi Harga Saham Bisa Ditekan Doc: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja
Ket. Pekerja memantau grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Treasury BTN, Jakarta.

JAKARTA – Penyesuaian batas free float mencerminkan upaya regulator memperdalam likuiditas pasar sekaligus meningkatkan kualitas tata kelola emiten.

Dengan porsi saham publik yang lebih besar, volatilitas akibat transaksi berukuran kecil diharapkan menurun dan pembentukan harga menjadi lebih efisien.

Namun, kebijakan ini juga menuntut kesiapan korporasi—terutama emiten dengan kepemilikan terkonsentrasi—untuk melakukan divestasi terukur agar tidak menekan valuasi saham dalam jangka pendek.

Ekonom keuangan dan praktisi pasar modal Hans Kwee mengatakan penyesuaian batas free float (saham yang dimiliki publik) dari sebelumnya 7,5 persen menjadi 15 persen merupakan langkah yang positif bagi pasar saham Indonesia.

Namun demikian, menurutnya, perlunya alokasi waktu bagi perusahaan tercatat (emiten) untuk melakukan penyesuaian terkait peraturan tersebut.

“Ini bagus, tapi tentu butuh waktu untuk emiten melakukan penyesuaian,” ujar Hans saat dihubungi di Jakarta, Jumat (6/2).

Seiring batas free float yang lebih besar, menurutnya, hal itu berpotensi meminimalkan dilakukannya transaksi saham yang terkoordinasi atau sering disebut tindakan memanipulasi harga saham dari harga wajarnya.

“Free float yang besar membuat potensi terjadi perdagangan terkoordinasi mengecil,” ujar Hans.

Selain itu, Ia melanjutkan, batas free float yang lebih besar berpotensi meningkatkan likuiditas pasar, bersamaan dengan meminimalisir potensi tindakan manipulasi harga saham tersebut.

“Positif untuk meningkatkan likuiditas pasar, dan mengurangi potensi manipulasi harga,” ujar Hans.

Di sisi lain, Ia tidak memungkiri bahwa batas free float yang lebih besar berpotensi menurunkan minat perusahaan untuk melakukan penawaran umum perdana saham atau Intiital Public Offreing (IPO) di pasar saham Indonesia.

“Mungkin minat IPO menurun,” ujar Hans.

Alasannya, Ia menjelaskan bahwa seiring batas free float yang lebih besar, maka akan mempersulit perusahaan yang melangsungkan IPO untuk mendapatkan investor barunya.

“Negatif bagi perusahaan baru mau IPO, sulit mendapatkan investor (free float) sampai 25 persen,” ujar Hans.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Megapolitan
Transjakarta Larang Aktivit...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.