Pasokan Pangan Lokal Perkuat Program MBG agar Tepat Sasaran dan Terukur

Jumat, 30 Jan 2026, 14:23 WIB

Integrasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan potensi pangan lokal dan inisiatif strategis pemerintah seperti, Peternakan Ayam Merah Putih dari Kementerian Pertanian, merupakan langkah krusial untuk menjamin keberlanjutan fiskal MBG. Tidak sampai di sana, integrasi ini sekaligus mampu menciptakan multiplier effect bagi perekonomian daerah. Dengan mengandalkan rantai pasok dari peternakan rakyat dan komoditas pangan lokal, program ini tidak hanya memastikan pemenuhan standar gizi nasional, tetapi juga memberdayakan masyarakat lokal secara inklusif dan bertahap melalui sinergi kebijakan yang lebih efisien.

Hal ini sejalan dengan pendapat,Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina, yang memberikan masukan terkait implementasi MBG yang sudah berjalan 1 tahun. “Menurut saya MBG ini suatu ide yang revolusioner, meski dalam tataran implementasi masih perlu evaluasi,” ujarnya.

Ket. Foto: Peserta didik di salah satu sekolah di Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur, menyantap menu program MBG — Sumber: Antara Foto

Selain itu, Wijayanto juga melihat MBG mampu mendorong ekonomi nasional. Namun menurutnya perlu kajian lebih lanjut untuk mengetahui potensi dampak maksimal dari program MBG ini kedepannya.

Dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang lebih mudah diakses, segar, dan harganya relatif stabil akan menjamin keberlanjutan jalannya program ini. Apabila implementasi di tingkat lokal mampu dilakukan secara masif, terukur, dan tertarget, tingkat kesuksesan program untuk mencapai hasil yang diinginkan bisa lebih terpenuhi.

MBG Sebagai Intervensi Spesifik Pemenuhan Gizi

Dari sisi pemenuhan nutrisinya, dr. Agus Triwinarto, SKM., MKM, Analis Kebjiakan Ahli Muda, Kementerian Kesehatan, melihat potensi pemanfaatan pangan lokal untuk pemenuhan pasokan harian MBG akan menjamin keberlangsungan program.

“Dengan peningkatan keragaman pangan lokal, dan penjaminan keamanan pangan dan makanan higienis, MBG yang diberikan memang akan sesuai dengan kecukupan gizi,” ujar Agus.

Kombinasi antara implementasi pengawasan keamanan pangan, higienitas, keragaman pangan lokal yang bernutrisi, juga ketepatan sasaran program diyakini akan mampu mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Desain program MBG yang telah menyasar 55,1 juta penerima manfaat setiap hari memang merupakan upaya intervensi pemerintah untuk memenuhi gizi masyarakat. Guna mewujudkan generasi emas Indonesia 2045, sekaligus menurunkan prevalensi stunting, sasaran diperluas dari yang awalnya siswa sekolah, ke ibu hamil, menyusui, dan bayi di bawah dua tahun.

Ketua Tim Kerja Gizi Kementerian Kesehatan, Yuni Zahraini, SKM, MKM menyampaikan, “untuk intervensi spesifik, utamanya dalam upaya mencegah stunting dan masalah gizi lainnya, ada tiga sasaran pokok yaitu, remaja putri, ibu hamil, dan balita. Harapannya melalui MBG ini, intervensi gizinya akan menggantikan satu kali porsi makan yang berkualitas. Didukung dengan MBG yang kaya protein hewani, program intervensi gizi ini bisa saling melengkapi,” ujarnya.

Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada keberanian pemerintah untuk melakukan evaluasi tata kelola hingga di tingkat implementasi. Harapannya program ini tidak sekadar pemenuhan janji politik Presiden, namun juga menjadi program unggulan yang berdampak untuk membangun generasi emas Indonesia 2045 mendatang.

  • Program MBG

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Yebdi Trismar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.