• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Melung, Swiss van Java di ...

Melung, Swiss van Java di Lereng Gunung Slamet

Jumat, 30 Jan 2026, 06:47 WIB

BERADA di kawasan berbukit yang dahulu masuk dalam kategori desa tertinggal, Melung kini tampil sebagai salah satu desa wisata paling berprestasi di tingkat nasional. Berkat kreativitas dan kegigihan warganya, desa di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, ini berhasil mematahkan stigma keterisolasian dan keterbatasan.

Meski sempat berstatus sebagai desa tertinggal, dalam beberapa tahun terakhir Melung mencatatkan sejumlah pencapaian membanggakan. Pada 2023, desa ini meraih Juara 7 Lomba Desa Wisata Nusantara, menjadi langkah awal menembus jajaran elit desa wisata nasional.

Ket. Foto: Desa Melung memiliki destinasi populer untuk dikunjungi, yaitu Wisata Alam Pagubugan dan Bukit Agaran. Untuk masuk ke kawasan ini, wisatawan hanya dikenakan tarif Rp10.000 per orang. Destinasi ini juga menyediakan camping ground bagi pengunjung yang berminat bermalam dengan tarif Rp250.000 plus bonus edukasi pengolahan produk lokal. — Sumber: Dinas Kominfo Kabupaten Banyumas

Setahun berselang, pada 2024, Melung naik ke peringkat keempat dalam kategori Desa Tertinggal/Berkembang. Puncaknya, pada 2025, Desa Wisata Melung meraih Juara Pertama Lomba Desa Wisata Nusantara, dengan penghargaan resmi diserahkan pada Januari 2026. Pengakuan ini semakin menegaskan posisinya sebagai model transformasi desa berbasis inovasi dan keberlanjutan.

Lanskap Alam

Berada di sisi selatan Gunung Slamet, wilayah Desa Melung memanjang dari dataran rendah hingga mendekati kawasan punggungan gunung. Alamnya didominasi hutan hijau yang masih rapat dan terjaga, menciptakan suasana sejuk sekaligus menyegarkan mata.

Jarak Desa Melung dari pusat Kota Purwokerto sekitar 17,9 kilometer, dengan waktu tempuh kurang lebih 40 menit menggunakan kendaraan roda empat melalui Jalan Raya Baturraden. Jalur ini relatif lurus, meski menanjak dengan kemiringan yang cenderung landai.

Begitu memasuki gerbang desa, atmosfer kawasan wisata langsung terasa. Bukan hanya udara dingin khas pegunungan, tetapi juga aroma tanah basah, keheningan, dan ketenangan, sebuah kontras yang menyegarkan bagi wisatawan urban yang terbiasa dengan kebisingan kota.

Desa ini tidak hanya menawarkan lanskap hutan pegunungan, tetapi juga hamparan sawah terasering yang meliuk mengikuti kontur lereng Gunung Slamet, membentuk panorama agraris yang estetik dan menenangkan.

Lebih dari sekadar destinasi wisata, Melung tengah merajut narasi masa depan: perpaduan organik antara pelestarian alam, kekuatan budaya, dan kedaulatan digital, yang kini telah diakui secara nasional. Ketersediaan air yang melimpah—terlihat dari aliran sungai dan mata air yang jernih serta tak pernah surut, bahkan saat musim kemarau—menjadi salah satu aset ekologis terbesarnya.

“Swiss van Banyumas”

Secara visual, Melung kerap disandingkan dengan destinasi pegunungan populer lainnya di Jawa Tengah. Namun, berbeda dengan kawasan tetangganya, Baturraden, yang telah berkembang secara komersial dan relatif ramai, Melung menawarkan wajah pariwisata yang lebih alami, jujur, dan bersahaja.

Sejauh mata memandang, pengunjung disuguhi panorama lembah hijau yang sesekali diselimuti gumpalan kabut putih, menciptakan suasana magis yang membuat warga setempat menjuluki kawasan ini sebagai “Swiss van Banyumas.”

Daya tarik utama desa wisata ini adalah Pagubugan, sebuah kolam renang unik yang berada di tengah hamparan sawah. Airnya bersumber langsung dari mata air pegunungan, jernih dan dingin. Berenang di Pagubugan menghadirkan sensasi khas: tubuh berendam di air alami, sementara mata dimanjakan oleh pemandangan persawahan dan hutan lindung di kejauhan.

Ekowisata Komunitas

Di Desa Wisata Melung, pariwisata tidak diposisikan sebagai industri yang eksploitatif, melainkan sebagai alat konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat merancang konsep perjalanan yang menjadikan wisatawan bukan sekadar penonton, tetapi pelaku pengalaman desa.

Melalui program live-in, wisatawan dapat menginap di rumah warga (homestay) yang masih mempertahankan arsitektur tradisional. Pada pagi hari, mereka diajak mengikuti kegiatan jungle trekking menyusuri jalur setapak di tepi hutan.

Pemandu lokal akan memperkenalkan keanekaragaman hayati, pentingnya menjaga kawasan tangkapan air, serta berbagai tanaman herbal yang digunakan sebagai obat tradisional. Di sini, pariwisata dimaknai sebagai pariwisata kesadaran yaitu kesadaran akan pentingnya menjaga alam dan keberlanjutan hidup.

Pokdarwis setempat tidak menjual beton, melainkan oksigen, lanskap alami, dan kearifan lokal. Salah satu wujud inovasi berkelanjutan adalah keberhasilan desa mengolah limbah ternak sapi perah menjadi biogas, yang kini juga dikembangkan sebagai wisata edukasi bagi pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah.

Digital Nomad

Salah satu keunikan Melung dibanding desa wisata lain di Indonesia adalah infrastruktur digitalnya. Sejak ditetapkan sebagai Desa Melek Teknologi Informasi, Melung menyediakan akses internet di ruang publik, termasuk di area wisata.

Memasuki 2026, kondisi ini melahirkan segmen pasar baru: digital nomads. Tak jarang terlihat pengunjung bekerja secara daring dari saung-saung bambu di tepi sawah, memangku laptop sambil menyeruput kopi lokal hasil kebun warga.

Melung membuktikan bahwa produktivitas tidak harus lahir dari ruang kantor yang sempit. Ia dapat tumbuh di antara gemericik irigasi, kabut tipis pagi hari, dan kicauan burung yang masih mudah dijumpai di kawasan ini.

Menikmati Mendoan

Perjalanan ke Desa Wisata Melung terasa belum lengkap tanpa menyentuh aspek kulinernya. Pengunjung dapat menikmati mendoan khas Banyumas, disajikan panas dengan sambal kecap pedas.

Namun, primadona gastronomi desa ini adalah Kopi Melung. Kopi yang tumbuh di bawah naungan pepohonan hutan memiliki profil rasa earthy dengan tingkat keasaman rendah, mencerminkan karakter tanah vulkanik Gunung Slamet yang subur.

Wisatawan juga diajak menyaksikan proses pemerahan susu sapi segar di peternakan rakyat, lalu menikmati produk olahannya langsung di lokasi, memberikan pengalaman literasi pangan yang edukatif, terutama bagi anak-anak perkotaan.

Wisata dan Kelestarian

Kini, Melung bergema sebagai destinasi bagi mereka yang mencari ketenangan dan kualitas pengalaman wisata. Tantangan terbesar ke depan adalah menjaga keseimbangan antara jumlah kunjungan dan daya dukung lingkungan (carrying capacity).

Pengembangan pariwisata dilakukan secara hati-hati agar tidak menggerus nilai sosial dan budaya warga, yang masih menjunjung tinggi semangat gotong royong. Pembangunan akomodasi baru diatur secara ketat agar tidak mengubah fungsi lahan produktif.

Sebagai sebuah oase ­bagi masyarakat kota, Melung sejauh ini berada di jalur ­yang tepat. Di tangan komunitas yang melek informasi dan sadar ekologi, desa di lereng Gunung Slamet ini ­membuktikan bahwa ­destinasi kelas dunia dapat dibangun tanpa kehilangan jati diri.

Kini, Desa Melung menjadi model percontohan nasional dalam mentransformasi diri dari “desa tertinggal” menjadi “desa maju” melalui inovasi teknologi dan ekowisata. Di sini, setiap langkah kaki serasa menjadi ziarah alam, dan setiap tarikan napas menghadirkan rasa syukur atas keagungan ciptaan Tuhan yang terhampar di bumi ­Banyumas. hay

  • destinasi ekowisata dunia

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.