Lapak Sepi, Pisau Terdiam: Pedagang Daging Banten Mogok karena Harga Melonjak
Selasa, 27 Jan 2026, 17:25 WIBSERANG â Pagi itu, deretan los daging di sejumlah pasar tradisional Banten tampak lengang. Meja potong yang biasanya dipenuhi daging sapi segar hanya menyisakan talenan kosong dan pisau yang tergeletak diam.
Ratusan pedagang yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha dan Pedagang Daging (Gappenda) Provinsi Banten memilih menutup lapak mereka selama dua hari.
Bukan tanpa alasanâharga daging sapi yang terus meroket sejak akhir tahun lalu membuat mereka terjepit di antara modal yang kian mahal dan daya beli masyarakat yang kian menurun.
Bagi para pedagang, kenaikan harga ini bukan sekadar soal untung dan rugi harian. Setiap kilogram daging yang tak terjual berarti kerugian, sementara konsumen semakin banyak yang berbalik arah saat mendengar harga.
Aksi mogok berjualan pun menjadi bahasa terakhir yang mereka miliki untuk menyampaikan keresahan.
Di balik lapak-lapak yang sepi itu, tersimpan harapan agar pemerintah segera turun tangan, menata pasokan, dan menghadirkan solusi sebelum daging sapi benar-benar menjadi barang mewah di meja makan rakyat.
Ketua Gappenda Banten, Aeng Khaeruzzaman di Serang, Selasa (27/1), mengatakan aksi mogok massal ini disepakati berlangsung pada Senin (26/1) hingga Selasa (27/1).
"Kami pedagang bersepakat untuk mogok berjualan dua hari. Ini karena harga daging sapi hidup saat ini sudah mencapai Rp56.000 per kilogram, padahal harapan pedagang ada di angka Rp52.000 per kilogram," ujar Aeng.
Pantauan di Pasar Induk Rau (PIR) Kota Serang pada Selasa, menunjukkan dampak dari aksi tersebut. Kios-kios daging yang biasanya ramai oleh aktivitas jual beli kini tampak lengang, hanya menyisakan meja-meja lapak yang kosong ditinggal pemiliknya.
Aeng menjelaskan, tingginya harga sapi hidup memaksa pedagang menaikkan harga jual ke konsumen menjadi Rp135.000 per kilogram, naik dari harga sebelumnya Rp125.000 per kilogram.
"Jika pemerintah tidak turun tangan, kami memprediksi harga daging akan terus melonjak naik saat memasuki bulan Ramadan nanti," tegasnya.
Menanggapi aksi tersebut, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Dinkopukmperindag) Kota Serang, Wahyu Nurjamil, menjelaskan bahwa kenaikan harga bukan disebabkan oleh kelangkaan stok, melainkan dampak menguat nya nilai tukar mata uang Australia.
Pihaknya bersama Pemerintah Provinsi Banten telah melayangkan surat ke pemerintah pusat untuk meminta intervensi Kementerian Pertanian (Kementan).
"Sudah diupayakan ada intervensi dari Kementan untuk mengeluarkan stok lama agar bisa disalurkan ke masyarakat. Mudah-mudahan harga kembali stabil di kisaran Rp130.000 per kilogram dan pedagang bisa berjualan kembali," kata Wahyu.
- Banten
- aksi mogok pedagang daging sapi
- Gappenda
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Karya Lokal Mendunia, Ekspor Fesyen–Kriya Tembus Rp476 Triliun
-
Alumni Penerima Beasiswa LPDP Tak Bangga Jadi Orang Indonesia, Kemenkeu Harap untuk Hormati Rakyat Indonesia karena Itu Uang Rakyat
-
Bazar Ramadan Lebak Bulus: Upaya Pemprov DKI Majukan UMKM
-
Hari MRT 2026: Tarif Naik MRT Jakarta Hanya Rp243 pada 24 Maret
-
WALHI Kalbar Temukan 1.316 Titik Panas Karhutla di Lahan Gambut Sepanjang Februari 2026
-
BMKG Ingatkan Nelayan Waspadai Gelombang Tinggi di Perairan Sumut hingga 19–22 April
-
Indonesia Kontra Malaysia, Ubed Turun Pertama, Ginting Ketiga
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.