Anak Tampak Sehat Belum Tentu Cukup Gizi, Ini Penjelasan Dokter
Minggu, 25 Jan 2026, 00:45 WIBJAKARTA â Di tengah penurunan angka stunting nasional menurut SSGI 2024 sebesar 19,8% dibandingkan 21,5% pada 2023, Indonesia justru menghadapi tantangan baru berupa hidden hunger pada anak. Dokter memperingatkan, banyak anak yang tampak sehat dan aktif ternyata mengalami kekurangan gizi penting, terutama zat besi, zinc, dan vitamin D, akibat pola makan yang tidak seimbang.
dr. Monique Carolina Widjaja, M. Gizi, Sp.GK, sebagai Dokter Gizi Klinik yang berpraktik di Primaya Hospital Tangerang menjelaskan bahwa kesalahan nutrisi pada anak kerap terjadi tanpa disadari orang tua dan dianggap sebagai hal yang wajar.
âBanyak orang tua fokus pada rasa kenyang, bukan kandungan gizi. Akibatnya, anak mendapat asupan karbohidrat berlebih, tetapi kekurangan protein hewani dan mikronutrien penting,â ujar dr. Monique melalui keterangannya pada hari Jumat (23/1).
Saat ini, Indonesia menghadapi tantangan triple burden of malnutrition, yakni stunting, obesitas, dan defisiensi mikronutrien pada anak. Meski angka stunting menunjukkan tren penurunan, masalah gizi lain justru semakin menguat.
Menurut dr. Monique, peningkatan konsumsi makanan ultra-proses (ultra processed food/UPF) seperti nugget, sosis, sereal manis, dan camilan kemasan menjadi salah satu pemicu utama masalah gizi anak saat ini.
âMakanan ini sangat lezat dan praktis, tapi rendah kualitas gizi. Dalam jangka panjang, dapat merusak sinyal kenyang alami, memicu obesitas, serta meningkatkan risiko penyakit metabolik sejak usia muda,â katanya.
Masalah nutrisi anak kerap tidak terdeteksi karena gejalanya tidak selalu kasat mata. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai orang tua antara lain, anak mudah lelah dan sulit konsentrasi, sariawan berulang atau gusi mudah berdarah, rambut kusam, mudah rontok, dan kuku rapuh, sering sakit atau mengalami infeksi berulang.
âAnak bisa terlihat sehat dan aktif, tapi secara biologis tubuhnya kekurangan zat gizi penting. Inilah yang disebut hidden hunger. Gejala-gejala ini sering dianggap sepele atau bagian dari fase tumbuh kembang, padahal bisa menjadi sinyal awal malnutrisi,â tambahnya.
Karena itu, skrining gizi rutin menjadi penting, meskipun anak terlihat sehat dan aktif. Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi hidden hunger sejak dini, memantau pertumbuhan jangka panjang, serta mencegah stunting terselubung, obesitas, dan penyakit tidak menular di masa depan.
Skrining gizi yang ideal meliputi: pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkar kepala dan lengan); pemeriksaan fisik seperti kulit, rambut, mulut, konjungtiva; dan evaluasi pola makan harian; serta pemeriksaan laboratorium bila diperlukan, termasuk darah lengkap dan status mikronutrien
Dengan edukasi yang tepat dan pemantauan rutin, masalah gizi pada anak sebenarnya dapat dicegah sejak dini. Kesalahan nutrisi pada masa anak-anak tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga daya tahan tubuh dan produktivitas di masa depan.
âNutrisi anak tidak boleh ditunda atau disepelekan. Apa yang masuk ke piring anak hari ini akan menentukan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan daya saing di masa depan. Skrining gizi sebaiknya menjadi bagian dari perawatan kesehatan anak, sama pentingnya dengan imunisasi,â tutup dr. Monique.
- Malnutrisi
- Primaya Hospital
- Stunting
- gizi anak
- hidden hunger
- defisiensi mikronutrien
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
‘Raja di atas segalanya’: Kebangkitan Asim Munir, Panglima Militer Pakistan yang Makin Berkuasa
-
Paus Ingatkan Risiko Algoritma AI
-
Program Gizi Nestle Indonesia Sukses Turunkan Prevalensi Underweight Anak Sebesar 22,5%
-
KKP Pastikan Layanan Pelabuhan Perikanan Tetap Optimal di Libur Lebaran 2026
-
Update Banjir Jakarta: Lalu Lintas di WTC Mangga Dua Masih Lumpuh Total Karena Banjir di Gunung Sahari,
-
Warga Aceh Waspada Setelah Diguncang Gempa 6,4 M
-
Malut Komit Sokong Program Pemerintah Pusat, Termasuk Sekolah Rakyat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.