Rupiah Makin Dekat ke Angka Sensitif

Rabu, 21 Jan 2026, 00:00 WIB

JAKARTA – Nilai tukar rupiah melemah sepanjang tahun ini mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal terhadap pasar keuangan domestik. Penguatan dollar AS, ketidakpastian arah kebijakan moneter global, serta sikap hati-hati investor mendorong aliran modal cenderung defensif.

Meski fundamental ekonomi dalam negeri relatif terjaga, pergerakan rupiah menunjukkan pasar masih sensitif terhadap sentimen global, sehingga stabilisasi nilai tukar tetap menjadi tantangan dalam jangka pendek.

Ket. Foto: Nilai tukar rupiah melemah — Sumber: istimewa

Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menilai Bank Indonesia (BI) perlu memperkuat pengelolaan pasokan valuta asing di pasar domestik, menyusul pelemahan rupiah yang mendekati 17.000 rupiah per dollar AS. Dia menjelaskan tekanan rupiah terutama disebabkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan dolar di dalam negeri.

Permintaan valas masih stabil, terutama dari kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri, sementara pasokan dolar terbatas karena eksportir, khususnya sektor sumber daya alam nonmigas, belum optimal mengonversi devisa hasil ekspor ke rupiah. Ketimpangan ini mendorong penguatan dolar dan menekan nilai tukar rupiah.

“Itu kalau dilihat dari sisi kita (faktor di domestik). Karena, menurut saya, faktor fundamental kita itu sebenarnya mengarah ke kondisi di mana seharusnya rupiah mengalami penguatan terhadap dollar. Tapi ini malah terjadi sebaliknya,” kata dia saat dihubungan dari Jakarta, Selasa (20/1).

Myrdal Gunarto menilai Bank Indonesia perlu mendorong peningkatan pasokan valuta asing di pasar domestik, salah satunya dengan mengimbau eksportir agar segera mengonversi devisa hasil ekspor ke rupiah. Dia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam memperkuat kebijakan yang mendorong perputaran devisa di dalam negeri.

Menurutnya, pelemahan rupiah terjadi di tengah kondisi fundamental yang sebenarnya positif, seperti adanya aliran modal masuk, surplus neraca dagang selama 67 bulan berturut-turut, serta surplus neraca transaksi berjalan. Selain itu, BI dinilai perlu terus melakukan intervensi stabilisasi melalui pasar surat berharga negara (SBN), pasar spot rupiah, instrumen NDF (non-deliverable forward) dan DNDF (domestic non-deliverable forward), serta transaksi swap valas.

Kombinasi Kebijakan

Pada kesempatan lain, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman menilai stabilisasi nilai tukar rupiah tidak cukup jika hanya mengandalkan intervensi di pasar spot. Dia menekankan perlunya kombinasi kebijakan, termasuk intervensi di pasar derivatif valas dan stabilisasi pasar obligasi, untuk menahan volatilitas dan menjaga kepercayaan investor.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.