- Home
-
- Luar Negeri
-
- Imbas Perubahan Iklim, Mus...
Imbas Perubahan Iklim, Musim Berkembang Biak Penguin Antarktika Bergeser Drastis
Selasa, 20 Jan 2026, 17:25 WIBJAKARTA - Perubahan iklim diduga kuat memicu pergeseran besar pada musim berkembang biak penguin di Antarktika. Hasil penelitian terbaru menunjukkan, sejumlah spesies penguin kini memulai periode reproduksi jauh lebih awal dibandingkan catatan sebelumnya, dengan pergeseran waktu mencapai lebih dari tiga pekan.
Temuan tersebut berasal dari studi selama satu dekade yang dilakukan Penguin Watch bersama peneliti dari University of Oxford dan Oxford Brookes University. Penelitian ini mengamati perubahan waktu âsettlementâ, yakni saat pertama penguin secara konsisten menempati area sarang di koloni.
âTingkat pergeseran ini sangat mengkhawatirkan. Penguin kini berkembang biak lebih awal daripada semua catatan yang pernah ada,â kata peneliti utama, Ignacio Juarez MartÃnez.
Menurutnya, perubahan yang terlalu cepat berpotensi memutus keselarasan antara waktu menetasnya anak penguin dan ketersediaan makanan di laut. Kondisi tersebut bisa berdampak fatal bagi anak penguin pada fase awal kehidupan mereka.
Penelitian ini melibatkan tiga spesies utama, yakni penguin Adélie, chinstrap, dan gentoo, dengan ukuran koloni mulai dari puluhan hingga ratusan ribu sarang. Data dikumpulkan melalui 77 kamera time-lapse yang dipasang di 37 koloni di Antarktika dan wilayah sub-Antarktika selama periode 2012â2022.
Hasil analisis menunjukkan seluruh spesies mengalami percepatan musim berkembang biak. Penguin gentoo mencatat perubahan paling ekstrem, dengan rata-rata maju 13 hari dalam satu dekade dan hingga 24 hari di beberapa koloni. Angka ini disebut sebagai pergeseran fenologi tercepat yang pernah tercatat pada burung, bahkan kemungkinan pada vertebrata secara umum. Sementara itu, penguin Adélie dan chinstrap masing-masing maju sekitar 10 hari.
Perubahan ini juga diperkirakan meningkatkan persaingan antarpopulasi penguin. Gentoo yang lebih adaptif terhadap suhu hangat dinilai diuntungkan, sementara Adélie dan chinstrap justru menunjukkan tren penurunan populasi di Semenanjung Antarktika. Selain itu, gentoo memiliki pola makan lebih fleksibel karena mampu beralih dari krill ke ikan saat pasokan krill menurun.
Pergeseran musim berkembang biak juga berisiko memicu perebutan ruang sarang. Selama ini, ketiga spesies dapat hidup berdampingan karena waktu reproduksi yang berbeda. Namun, ketika jadwal tersebut semakin tumpang tindih, persaingan untuk makanan dan lokasi sarang bebas salju diperkirakan makin meningkat.
Para peneliti menegaskan penguin memiliki peran penting dalam rantai ekosistem Antarktika. Penurunan populasi beberapa spesies dikhawatirkan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem secara luas dan meningkatkan risiko keruntuhan ekologi di kawasan tersebut.
- Iklim
- Perubahan Iklim
- Antartika
- Dampak Perubahan Iklim
- penguin
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Muhammad Daniel Ramadhan
Berita Terkait:
-
Liga Inggris: Tottenham Selamat, West Ham Terdegradasi di Hari Perpisahan Guardiola dan Salah
-
Diskon Tumbler Estetik di Jakarta Fair 2026, Lock n Lock Obral Potongan hingga 85 Persen
-
Produk Wisata Tematik dari Berbagai Daerah Digencarkan
-
Mendorong Prestasi 23 Peserta MTQ Tingkat Provinsi NTT
-
Blackout Sumatera Bongkar Rapuhnya Ketahanan Listrik Nasional
-
Tolak Narasi Perang, Paus Leo XIV Tegaskan Konflik AS-Iran Jauh dari Kata Adil
-
Kemnaker Buka Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional Batch 3, Targetkan 20 Ribu Peserta
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.