Destinasi Cakep Tak Ada Artinya Kalau Susah Dijangkau, Kemenpar Ingatkan: Konektivitas Penting

Senin, 19 Jan 2026, 19:20 WIB

JAKARTA – Mendorong pertumbuhan pariwisata menjadi langkah penting untuk menggerakkan ekonomi, terutama di daerah.

Sektor ini punya efek berantai yang panjang—dari transportasi, penginapan, UMKM, hingga tenaga kerja lokal. Namun pertumbuhan tak cukup hanya mengejar jumlah wisatawan, melainkan juga kualitas layanan dan keberlanjutan destinasi.

Ket. Foto: Obyek wisata di Desa wisata Pujon Kidul yang berstatus desa mandiri, yang terletak di wilayah Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur. — Sumber: ANTARA/ Vicki Febrianto

Jika dikelola dengan tepat, pariwisata bisa menjadi mesin ekonomi yang stabil: ramai saat musim liburan, tapi tetap hidup sepanjang tahun.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Ni Made Ayu Marthini mengatakan konektivitas merupakan pilar penting dari pertumbuhan pariwisata Indonesia.

“Pilar pariwisata pilarnya ada beberapa, ya. Ada atraksi, akomodasi, dan connectivity, ini penting,” kata Made Marthini di Jakarta, Senin (19/1).

Menurut dia, konektivitas memiliki peran vital dalam laju mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi yang menyertai di sektor pariwisata.

Untuk itu, Made Marthini mendorong adanya kolaborasi strategis antara para pemangku kepentingan, termasuk di dalamnya pemerintah, industri transportasi, hingga pelaku usaha terkait guna mendukung pariwisata Indonesia.

“Bagaimana kalau connectivity-nya tidak bagus antara satu negara ke negara lain, atau satu pulau ke pulau lain? Tidak mungkin kita bisa mendapatkan atau mencapai apa yang kita dapatkan,” ujar dia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) pada November 2025 dengan total jumlah perjalanan wisnus mencapai 96,45 juta perjalanan, atau meningkat 0,47 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).

Sementara itu, secara tahunan, jumlah perjalanan wisnus pada November 2025 mengalami kenaikan signifikan sebesar 19,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, Kemenpar menyebut sebanyak 13,98 juta wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung ke Indonesia di sepanjang bulan Januari hingga November 2025.

Melalui Laporan Bulanan Kementerian Pariwisata, angka kunjungan wisatawan mancanegara tercatat naik 10,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 12,66 juta kunjungan. Kunjungan masih didominasi oleh wisatawan dari negara Malaysia, Australia, Singapura, China, dan Timor Leste.

“Mengapa wisatawan domestik atau mancanegara itu penting? Karena keduanya adalah men-serve dari ekonomi, perputaran ekonomi. Ketika kita berwisata, sejatinya wisata itu adalah spending,” kata Made Marthini menjelaskan.

Menurut dia, wisatawan merupakan penggerak ekonomi karena dapat berpengaruh langsung kepada pelaku usaha di berbagai sektor terkait. Mulai dari makanan dan minuman (food and beverage/F&B), penginapan (hospitality), hingga transportasi.

“Spending ini diperlukan untuk mengangkat atau menggerakkan ekonomi. UKM (usaha kecil dan menengah) pasti akan bergerak. Ekosistem pariwisata lainnya, termasuk transportasi darat, kendaraan online, kemudian rental (kendaraan) restoran, hotel, penginapan, dan sebagainya,” katanya.

  • Destinasi Wisata
  • konektivitas

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.