Demi Keselamatan Perjalanan, KAI Menutup Ratusan Perlintasan Sebidang
Sabtu, 17 Jan 2026, 07:40 WIBJAKARTA â Sepanjang 2025, PT Kereta Api Indonesia (KAI) tampaknya makin serius urusan keselamatan. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 316 perlintasan sebidang ditutup di berbagai daerah.
Langkah ini diambil bukan untuk mempersulit pengguna jalan, tapi justru demi perjalanan kereta yang lebih aman dan mobilitas masyarakat yang lebih lancar.
Penutupan perlintasan ini menyasar titik-titik yang dinilai rawan kecelakaan dan kerap memicu kemacetan. Dengan berkurangnya perlintasan sebidang, potensi konflik antara kereta api dan kendaraan diharapkan bisa ditekan.
Kereta melaju lebih aman, pengguna jalan pun tak perlu lagi waswas menunggu palang pintu yang kadang datang tak terduga.
KAI juga menegaskan, kebijakan ini dilakukan bertahap dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta pihak terkait. Di sejumlah lokasi, penutupan perlintasan dibarengi dengan penyediaan jalur alternatif atau pembangunan fasilitas penyeberangan yang lebih aman.
Meski ada sedikit penyesuaian di awal, tujuannya agar semua pihak sama-sama diuntungkan dalam jangka panjang.
Singkatnya, menutup perlintasan bukan berarti menutup akses, melainkan membuka jalan menuju perjalanan kereta yang lebih selamat dan arus lalu lintas yang lebih tertib. Sebuah langkah yang mungkin tak selalu populer, tapi penting demi keselamatan bersama.
"KAI telah menutup 316 perlintasan sebidang sepanjang 2025 yang dinilai rawan kecelakaan melalui kolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah, kepolisian, TNI, serta kementerian dan lembaga terkait," kata Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dalam keterangan di Jakarta, Jumat (16/1).
Dia menuturkan setiap perlintasan sebidang adalah ruang temu antara perjalanan dan keselamatan. Di titik inilah peran pengguna jalan dan perjalanan kereta api saling melengkapi untuk menciptakan mobilitas yang aman dan nyaman.
Sepanjang 2025, lanjutnya, KAI memperkuat komitmen keselamatan melalui penutupan perlintasan berisiko, peningkatan edukasi publik, serta penguatan penegakan aturan demi melindungi pengguna jalan dan perjalanan kereta api.
"Penutupan ini dilakukan untuk menciptakan lingkungan lalu lintas yang lebih tertib, sekaligus mendukung agenda nasional peningkatan keselamatan transportasi," ujar Anne.
Selain itu KAI memperkuat pendekatan edukatif guna membangun budaya disiplin berlalu lintas.
Sepanjang 2025, kata Anne, KAI melaksanakan 2.016 kegiatan sosialisasi keselamatan di sekitar jalur kereta api, 212 kegiatan edukasi ke sekolah, 687 pemasangan spanduk keselamatan, serta 655 kegiatan TJSL di lingkungan stasiun.
Seluruh rangkaian itu diarahkan untuk menumbuhkan pemahaman bahwa palang pintu, rambu, dan marka adalah bagian dari sistem perlindungan bersama.
Ia menegaskan keselamatan akan semakin kuat ketika didukung oleh kepatuhan dan partisipasi publik.
âKami mengajak masyarakat untuk berhenti sejenak di palang pintu, mematuhi rambu, dan menunggu hingga benar-benar aman sebelum melintas. Tindakan sederhana ini adalah bentuk kepedulian terhadap diri sendiri, keluarga, dan sesama pengguna jalan,â ucap Anne.
Dalam mendukung keselamatan operasional, KAI juga melakukan 52 penertiban bangunan liar di area yang berpotensi mengganggu perjalanan kereta api.
Penertiban itu merupakan bagian dari pengamanan Ruang Manfaat Jalur Kereta Api (RUMAJA), yaitu area terdekat dengan rel yang digunakan untuk operasional dan perawatan kereta.
"RUMAJA perlu dijaga tetap tertib dan bersih agar perjalanan kereta api dapat berlangsung lancar," ucap Anne.
KAI terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat setempat untuk memastikan area ini dimanfaatkan sesuai peruntukannya, demi kenyamanan dan keselamatan bersama.
Ketentuan mengenai RUMAJA diatur dalam Undang Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, dan KAI berkomitmen menjalankannya secara persuasif, edukatif, serta mengedepankan dialog dengan masyarakat.
âPenertiban kami lakukan dengan pendekatan humanis dan kolaboratif. Tujuan utamanya adalah menciptakan ruang yang aman dan tertib bagi semua, bukan sekadar menegakkan aturan,â kata Anne.
Pelibatan komunitas juga menjadi penguat strategi keselamatan. Hingga kini, KAI membina 56 komunitas railfans dengan 6.455 anggota terdata. Sepanjang 2025, KAI melaksanakan 1.509 kegiatan bersama komunitas, terutama terkait kampanye keselamatan perjalanan dan edukasi publik di lingkungan perkeretaapian.
âKami percaya, budaya selamat tumbuh dari kebiasaan baik yang dilakukan bersama. Tidak menerobos palang pintu, tidak melintas di jalur rel, dan menjaga area sekitar rel tetap tertib adalah kontribusi nyata masyarakat bagi keselamatan,â tambah Anne.
Melalui penutupan perlintasan berisiko, penguatan edukasi keselamatan, penertiban bangunan liar, serta pengamanan RUMAJA, KAI menegaskan komitmennya untuk menghadirkan perjalanan kereta api yang semakin aman, nyaman, dan andal.
KAI mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan tertib di perlintasan sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Berhenti sejenak, patuh pada rambu, dan menunggu dengan sabar adalah langkah kecil yang berdampak besar bagi keselamatan bersama.
âKeselamatan adalah wujud kepedulian. Dengan tertib hari ini, kita menjaga masa depan yang lebih aman untuk semua," kata Anne.
- KAI
- perlintasan sebidang
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Manchester City Kalahkan Arsenal 2-1, Persaingan Juara Liga Inggris Makin Panas
-
Pengembangan EBT Produksi Lokal, Cara Terbaik Membangun Keamanan Energi
-
Orang Masuk Parpol Bisa Korupsi? Perlu Merenung Ini Parpol
-
Lebaran Depok 2026 Hadirkan UMKM Unggulan, Budaya, dan Kreasi Komunitas
-
DPR Minta Pengawasan Dua Taman Nasional di Lampung Diperketat
-
KAI Percepat Proyek Peron Baru Stasiun Bogor untuk KRL 12 Rangkaian
-
Kodam Pattimura Dampingi Korban Kecelakaan Truk TNI di Ambon
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.