Keluarga SIGAP Jadi Pilar Penguatan Layanan Kesehatan Primer
Kamis, 15 Jan 2026, 22:25 WIBJAKARTA â Setelah keberhasilan pilot program, Program Keluarga SIGAP diperluas di Brebes, Jawa Tengah; Sukabumi, Jawa Barat; serta Banjar, Kalimantan Selatan. Program ini merupakan inisiatif kolaboratif yang mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat praktik kesehatan keluarga guna melindungi anak dari penyakit yang dapat dicegah, dengan fokus pada tiga perilaku utama yang saling terkait, yaitu imunisasi, cuci tangan pakai sabun (CTPS), dan gizi sesuai usia bagi anak di bawah dua tahun (Baduta).
Fase scale-up ini dibangun melalui kemitraan lintas sektor antara Gavi, the Vaccine Alliance; Unilever Lifebuoy; dan The Power of Nutrition, yang bekerja bersama pemerintah serta sistem kesehatan di tingkat pusat dan daerah. Alih-alih membangun struktur baru, Keluarga SIGAP memperkuat platform yang sudah digunakan keluarga, seperti layanan Posyandu, kunjungan rumah, satuan pendidikan anak usia dini, serta kanal digital. Pendekatan ini membantu mendekatkan pesan kesehatan ke rumah tangga dan membuatnya lebih mudah dipahami, dipercaya, serta diterapkan.
Dalam acara diseminasi pembelajaran Program SIGAP, Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas, dr. Niken Wastu Palupi, menegaskan keselarasan Keluarga SIGAP dengan prioritas nasional.
âDi Kementerian Kesehatan, prioritas kami yaitu Pilar Pertama: Layanan Primer, melalui upaya promotif dan preventif. Melalui Keluarga SIGAP, masyarakat tidak sekadar mengetahui isu kesehatan, tetapi benar-benar mengubah perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita berhasil memperkuat layanan primer melalui Keluarga SIGAP, berarti kita sedang menyiapkan pondasi bagi Indonesia Emas 2045,â ujarnya dalam acara Desiminasi Keluarga SIGAP di Jakarta pada hari Kamis (15/1).
Seiring dengan perluasan program, Keluarga SIGAP menghadirkan pembelajaran penting tentang bagaimana perubahan perilaku terintegrasi dapat dijalankan melalui sistem layanan kesehatan primer, dengan menyoroti area kemajuan yang paling kuat, faktor pendukung keberhasilan, serta respons keluarga ketika dukungan diberikan secara konsisten pada berbagai perilaku kunci.
Imunisasi: Mengurangi Dosis Terlewat, Melindungi Lebih Banyak Anak
Program Keluarga SIGAP mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat imunisasi rutin di Indonesia, dengan dampak nyata pada peningkatan cakupan di tiga kabupaten scale-up. Rata-rata cakupan imunisasi dasar anak meningkat sekitar 15%, dengan Banjar mencatat lonjakan paling signifikan, dari 37% menjadi 59%.
Hal itu berarti hampir enam dari 10 anak di Banjar kini terlindungi, dibandingkan kurang dari empat dari 10 anak sebelumnya. Meningkatnya kepercayaan terhadap vaksin juga mendorong lebih banyak orang tua menyelesaikan jadwal imunisasi lengkap, tercermin dari hampir dua kali lipatnya cakupan dosis akhir pneumonia di Brebes dan booster polio di Banjar yang mencapai sekitar 80%.
Direktur Pelaksana Kemitraan Inovatif di Gavi, the Vaccine Alliance, Augustin Flory, menuturkan bahwa peningkatan kepercayaan ini terkait erat dengan cara pesan imunisasi disampaikan bersamaan dengan perilaku pengasuhan sehari-hari lainnya.
âKeluarga SIGAP menunjukkan bagaimana agenda imunisasi Indonesia yang dipimpin pemerintah dapat diperkuat melalui aksi lintas sektor yang terkoordinasi,â ungkapnya.
âDengan mengintegrasikan imunisasi ke dalam praktik pengasuhan sehari-hari seperti nutrisi dan kebersihan, program ini membantu membangun kepercayaan terhadap vaksin dan memungkinkan lebih banyak keluarga menyelesaikan imunisasi rutin, sehingga melindungi anak-anak dari penyakit yang dapat dicegah seperti polio dan pneumonia,â tambahnya.
Pendekatan terintegrasi ini tidak hanya meningkatkan cakupan, tetapi juga memperkuat kepercayaan orang tua. Para pengasuh menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai efek samping ringan vaksin, melaporkan kunjungan ke fasilitas kesehatan yang lebih sedikit untuk reaksi ringan, serta lebih konsisten dalam menyelesaikan jadwal imunisasi anak. Permintaan terhadap dukungan praktis juga tergolong tinggi, dengan lebih dari 80% orang tua pengguna WhatsApp Bot SIGAP memilih untuk menerima pengingat imunisasi yang dipersonalisasi.
CTPS: Menciptakan Lingkungan yang Mendukung Praktik Sehari-hari
Pembelajaran di bidang CTPS menunjukkan bahwa perubahan perilaku terjadi lebih cepat ketika keluarga memiliki motivasi sekaligus sarana yang memadai. Hampir 7% lebih banyak rumah tangga SIGAP kini memiliki fasilitas cuci tangan dengan sabun, sehingga menciptakan kondisi praktis yang memudahkan penerapan kebiasaan cuci tangan dalam rutinitas harian.
Lingkungan yang mendukung ini berkontribusi pada perubahan perilaku di enam momen penting CTPS, termasuk sebelum memberi makan anak dan setelah membersihkan anak, dengan tingkat kepatuhan meningkat sebesar 6,4%.
Motivasi juga mengalami pergeseran, di mana semakin banyak orang tua atau pendamping anak menyebut kesehatan dan kebersihan sebagai alasan utama mencuci tangan, bukan sekadar penampilan atau norma sosial. Keterlibatan ayah meningkat sebesar 13%, menandai semakin kuatnya peran bersama orang tua dalam menjaga kebersihan di rumah.
Menanggapi temuan tersebut, Global Brand Director Lifebuoy, Parnil Sarin, menyampaikan, âSIGAP menunjukkan bagaimana perilaku perlindungan utama, yaitu imunisasi, cuci tangan pakai sabun, dan gizi, dapat menjadi kebiasaan nyata ketika keluarga dapat melihat, merasakan, dan mempraktikkannya dalam rutinitas sehari-hari.
Dengan memperluas pembelajaran dari rumah dan sekolah ke platform digital serta media massa, program ini membantu mempertahankan perilaku tersebut dalam skala yang lebih luas dan menjadikan CTPS sebagai bagian dari perjalanan kesehatan anak.â
Nutrisi: Mendukung Praktik Pemberian Makan Anak yang Lebih Baik di Rumah
Pembelajaran terkait nutrisi menunjukkan peningkatan nyata dalam praktik pemberian makan anak pada 1.000 hari pertama kehidupan.
Sementara itu praktik inisiasi menyusu dini meningkat sebesar 4,4%, sementara proporsi anak yang mencapai Keanekaragaman Pangan Minimum naik 6,8%. Hal ini mencerminkan kualitas pola makan yang lebih baik serta keputusan pemberian makan yang lebih sesuai usia di tingkat rumah tangga.
Peningkatan ini didukung oleh alat bantu praktis yang selaras dengan dinamika keluarga. Rata-rata, 96% pengguna menyatakan bahwa alat pelacak gizi SIGAP membantu mereka memahami pola makan harian anak, termasuk konsumsi camilan tidak sehat, serta mendorong peran bersama ibu dan ayah dalam pemenuhan gizi anak.
CEO The Power of Nutrition, Chris Skeet, menyampaikan, âSIGAP mencerminkan kekuatan kemitraan dalam mendukung gizi di tempat yang paling penting, yaitu di rumah, setiap hari. Dengan menggabungkan alat praktis, pembelajaran bersama bagi orang tua, serta keterlibatan tenaga kesehatan di lapangan, program ini menunjukkan bagaimana pesan berbasis bukti dan komunikasi perubahan perilaku dapat membantu keluarga mempertahankan praktik pemberian makan yang lebih sehat dan membangun ketahanan jangka panjang.â
Memperluas Jangkauan melalui Media dan Digital
Fase scale-up Keluarga SIGAP juga memanfaatkan media dan platform digital untuk memperluas pembelajaran di luar titik interaksi langsung. Pada periode 1 Mei hingga 30 November 2025, iklan layanan masyarakat SIGAP menjangkau lebih dari 4,7 juta orang secara nasional melalui tayangan televisi dan penempatan built-in, sehingga memperkuat kesadaran terhadap program.
Di media sosial, lebih dari 1,14 miliar impresi konten SIGAP disalurkan melalui Meta, YouTube, dan TikTok di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Selatan untuk mendorong perubahan perilaku. Di YouTube, sebanyak 8,1 juta tayangan selesai menunjukkan tingkat retensi yang kuat terhadap ketiga perilaku SIGAP secara berurutan, sementara iklan bumper berdurasi enam detik mencatat lebih dari 130 juta tayangan selesai.
Kampanye Always On di Instagram dan Facebook menghasilkan 722 juta impresi dan menjangkau lebih dari 40 juta orang, mengantarkan audiens dari tahap kesadaran hingga pembelajaran aktif. Konten influencer yang menggabungkan tren, cerita keseharian, humor, serta suara ahli yang terpercaya menjangkau 17,9 juta orang di Instagram dan 11,8 juta orang di TikTok.
Dengan keterlibatan komunitas yang kuat, pelatihan interaktif, serta dukungan media dan digital, Keluarga SIGAP dirancang agar dapat berkelanjutan dan terus diperluas. Pembelajaran dari fase scale-up ini akan menjadi dasar bagi pengembangan program ke depan, membantu lebih banyak keluarga menerapkan perilaku pencegahan, serta berkontribusi pada masa depan anak Indonesia yang lebih sehat.
- pencegahan penyakit
- Indonesia Emas 2045
- gizi anak
- imunisasi anak
- Program Keluarga SIGAP
- kesehatan keluarga
- CTPS
- Baduta
- layanan kesehatan primer
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Ericsson Dorong Percepatan 5G di Indonesia, Disebut Kunci Daya Saing Ekonomi Digital Menuju 2045
-
Stok KTP-el Rejang Lebong Aman Beberapa Bulan dengan 8.989 Blangko
-
Aksi Kamisan ke-900 di Jakarta
-
Tak Hanya Perempuan, Laki-laki Juga Berisiko Terkena Kanker Terkait HPV
-
Malut Komit Sokong Program Pemerintah Pusat, Termasuk Sekolah Rakyat
-
Hapus tato gratis di Jakarta
-
Program Gizi Nestle Indonesia Sukses Turunkan Prevalensi Underweight Anak Sebesar 22,5%
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.