Rial Iran Makin Ambruk Brutal: Dari 70 ke 1,45 Juta per Dolar
Rabu, 14 Jan 2026, 15:00 WIBJAKARTA - Nilai mata uang Iran kembali mencetak rekor terburuk dalam sejarah modern setelah menembus level 1.457.000 rial per dolar AS pada awal 2026. Angka ini menandai kejatuhan ekstrem dari posisi 70 rial per dolar AS pada masa Revolusi Iran tahun 1979.
Lonjakan nilai tukar tersebut berarti rial Iran telah kehilangan sekitar 20 ribu kali nilainya dalam kurun empat dekade. Pelemahan terbaru terjadi setelah periode gejolak sosial dan demonstrasi yang meluas di berbagai wilayah.
Sanksi internasional, inflasi kronis, serta isolasi diplomatik selama bertahun-tahun disebut sebagai faktor utama runtuhnya mata uang Iran. Kondisi tersebut terus menekan fondasi ekonomi nasional dan mempersempit ruang gerak kebijakan moneter.
Perserikatan Bangsa-Bangsa kembali memberlakukan sanksi terhadap Iran pada September 2025. Keputusan ini diambil setelah Dewan Keamanan PBB gagal menyepakati resolusi untuk mempertahankan keringanan sanksi sebelumnya.
Keringanan tersebut berkaitan dengan perjanjian nonproliferasi yang bertujuan membatasi kemampuan Iran dalam mengembangkan senjata nuklir. Dengan dicabutnya keringanan itu, berbagai pembatasan kembali diberlakukan secara penuh.
Langkah PBB mencakup embargo senjata konvensional, pembatasan terkait program rudal balistik, pembekuan aset tertentu, serta larangan perjalanan bagi individu yang masuk daftar sanksi. Tekanan ini semakin mempersempit akses Iran ke pasar dan sistem keuangan global.
Uni Eropa juga menerapkan sanksi serupa terhadap Iran. Sanksi tambahan diberlakukan terkait catatan hak asasi manusia serta peran Iran dalam memasok drone ke Russia yang digunakan dalam konflik Ukraina.
Menurut laporan proyek jurnalisme data nirlaba Iran Open Data, sanksi berdampak langsung pada pendapatan negara. Proyek tersebut mencatat Iran kehilangan sekitar 20 persen potensi pendapatan ekspor minyak akibat upaya menghindari sanksi Amerika Serikat.
"Iran kehilangan sekitar 20 persen dari potensi pendapatan ekspor minyaknya karena mencoba menghindari sanksi AS," tulis Iran Open Data.
Disebutkan pula bahwa meski pengiriman minyak ke negara seperti Tiongkok dan Malaysia meningkat, nilainya tetap tertekan.
Pendapatan minyak Teheran juga tergerus karena Iran terpaksa menjual minyak melalui jalur tidak langsung yang lebih mahal. Skema ini membuat margin keuntungan menyusut dan arus devisa menjadi tidak stabil.
Depresiasi terbaru melanjutkan tren pelemahan tajam sepanjang 2025. Para pengamat pasar memperkirakan rial kehilangan sekitar 45 persen nilainya hanya dalam satu tahun.
Kondisi tersebut memperpanjang krisis jangka panjang yang menggerus daya beli masyarakat. Tabungan rumah tangga menyusut dan kepercayaan terhadap sistem keuangan domestik terus menurun.
Inflasi tahunan Iran tercatat mencapai 42,2 persen pada Desember berdasarkan data resmi. Angka ini menempatkan Iran di jajaran negara dengan tingkat inflasi tertinggi di dunia.
Harga kebutuhan pokok seperti makanan, perumahan, dan barang impor terus melonjak. Tekanan biaya hidup semakin dirasakan oleh rumah tangga dan pelaku usaha di dalam negeri.
Para ekonom menilai arah pergerakan rial kini bergantung pada kemampuan pemerintah menstabilkan inflasi. Selain itu, Iran dinilai perlu mengamankan arus devisa yang konsisten dan memulihkan kepercayaan terhadap kebijakan moneter.
Kemerosotan nilai tukar mencerminkan pola yang berulang dalam ekonomi Iran. Setiap lonjakan harga mendorong masyarakat memindahkan aset ke dolar AS, emas, atau properti.
Peralihan ini menguras likuiditas dari rial di pasar domestik. Dampaknya, nilai tukar kembali melemah dan biaya impor semakin mahal.
Selama inflasi belum terkendali secara signifikan, tekanan terhadap mata uang Iran diperkirakan akan terus berlanjut. Situasi ini mempertegas betapa rapuhnya posisi rial di tengah kombinasi sanksi, inflasi, dan krisis kepercayaan.
- Ekonomi
- konflik timur tengah
- Iran
- Inflasi
- Krisis Timur Tengah
- Mata Uang
- Sanksi
- Timur Tengah
- Rial Iran
- Nilai Tukar
- Konflik di Timur Tengah
- Mata Uang Iran
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
JD Vance: Kekuatan Militer Bukan Solusi
-
Menlu Marco Rubio Tegaskan Perang AS-Iran Telah Berakhir
-
Rupiah Melemah, Konflik Timur Tengah hingga Lonjakan Harga Minyak Guncang Ekonomi Indonesia
-
Gencatan Senjata di Timur Tengah Terancam Setelah Iran Lancarkan Serangan Rudal ke Israel
-
Aparat Lakukan Pengamanan Pascaledakan Pabrik Kimia Cilegon
-
Trump Mengaku Bicara dengan Hezbollah dan Netanyahu, Konflik Lebanon Memasuki Babak Baru
-
AS dan Iran Tandatangani MoU, Lalu Lintas Selat Hormuz Dibuka
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.