Rudal Oreshnik Rusia Picu Kecaman di PBB, Perang Ukraina Masuk Babak Berbahaya

Selasa, 13 Jan 2026, 15:23 WIB

JAKARTA - Penggunaan rudal balistik Oreshnik oleh Rusia dalam serangan ke Ukraina memicu kecaman keras di Dewan Keamanan PBB. Amerika Serikat dan Inggris menilai serangan tersebut sebagai eskalasi serius yang berpotensi memperluas konflik, terutama karena Oreshnik merupakan rudal yang mampu membawa hulu ledak nuklir.

Dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, Wakil Duta Besar AS Tammy Bruce menyebut serangan Rusia ke Lviv sebagai langkah berbahaya dan tidak dapat dijelaskan. Inggris melalui Pelaksana Duta Besar PBB James Kariuki juga menilai tindakan Moskow sembrono dan mengancam stabilitas keamanan regional maupun internasional.

Ket. Foto: — Sumber: ABC News

Rusia mengklaim rudal Oreshnik menargetkan fasilitas perbaikan pesawat. Namun, pihak Ukraina belum mengonfirmasi sasaran tersebut dan menyebut serangan terjadi dalam rangkaian serangan besar yang melibatkan drone serta roket lainnya. Oreshnik sendiri tergolong rudal langka dengan hulu ledak ganda dan diyakini hanya dimiliki Rusia dalam jumlah terbatas.

Sejumlah analis menilai penggunaan Oreshnik lebih bersifat simbolik dan politis. Dugaan kuat menyebut Rusia menggunakan hulu ledak tiruan, sehingga kerusakan yang terjadi kemungkinan besar berasal dari efek gelombang suara dan benturan fisik, bukan ledakan nuklir. Akurasi Oreshnik juga dipertanyakan jika digunakan untuk serangan non-nuklir yang menuntut ketepatan tinggi.

Di medan perang, serangan Rusia terus berlanjut. Kyiv dan Kharkiv kembali digempur pada Selasa dini hari, dengan sedikitnya empat orang tewas di Kharkiv dan enam lainnya luka-luka. Di Odesa, bangunan tempat tinggal, rumah sakit, serta taman kanak-kanak dilaporkan rusak akibat dua gelombang serangan yang melukai sedikitnya lima warga sipil.

Ukraina juga menuduh Rusia menyerang kapal-kapal sipil di Laut Hitam. Sebuah kapal tanker berbendera Panama dilaporkan terkena serangan drone saat menunggu masuk pelabuhan untuk memuat minyak nabati, melukai satu awak. Kapal lain berbendera San Marino yang membawa muatan jagung juga menjadi sasaran di sekitar Pelabuhan Chornomorsk. Pemerintah Ukraina menilai serangan ini sebagai bukti bahwa Rusia secara sengaja mengincar perdagangan sipil dan keselamatan maritim.

Di tengah eskalasi tersebut, PBB mencatat 2025 sebagai tahun paling mematikan bagi warga sipil Ukraina sejak 2022. Sepanjang tahun lalu, konflik menewaskan lebih dari 2.500 warga sipil dan melukai lebih dari 12 ribu orang, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, Kyiv mengumumkan konsorsium investor yang didukung AS memenangkan hak penambangan cadangan litium Dobra. Langkah ini menunjukkan Ukraina tetap berupaya mengamankan kepentingan ekonomi strategisnya di tengah perang yang belum menunjukkan tanda mereda.

Perkembangan terbaru ini memperlihatkan perang Ukraina memasuki fase yang semakin sensitif, dengan penggunaan persenjataan strategis dan dampak kemanusiaan yang kian meluas.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Muhammad Daniel Ramadhan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.