Trump Pertimbangkan Opsi Militer Keras ke Iran di Tengah Lonjakan Korban Demonstran

Senin, 12 Jan 2026, 17:20 WIB

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tengah mempertimbangkan opsi militer yang “sangat kuat” terhadap Iran, menyusul laporan meningkatnya jumlah korban tewas dalam aksi penindakan aparat terhadap gelombang demonstrasi di negara tersebut. Trump juga mengklaim bahwa Teheran telah menghubungi Washington dan mengajukan negosiasi.

Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan saat berada di pesawat kepresidenan Air Force One. Ia ditanya apakah Iran telah melampaui garis merah yang sebelumnya ia sebut terkait pembunuhan demonstran.

Ket. Foto: — Sumber: ABC News

“Mereka tampaknya mulai melampaui itu,” ujar Trump. Ia menegaskan pemerintahannya sedang menelaah situasi dengan sangat serius, termasuk meninjau berbagai pilihan yang melibatkan militer Amerika Serikat.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Trump menyebut Iran ingin membuka jalur perundingan. Menurutnya, tekanan yang diberikan Amerika Serikat membuat pemerintah Iran berada dalam posisi terdesak. Klaim tersebut muncul tidak lama setelah Amerika Serikat melakukan langkah drastis dengan menyingkirkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dari kekuasaan.

Kelompok pemantau hak asasi manusia melaporkan jumlah korban tewas akibat kekerasan selama demonstrasi terus bertambah. Lembaga berbasis di Amerika Serikat menyebut sedikitnya 538 orang meninggal dunia, termasuk ratusan demonstran, serta lebih dari 10 ribu orang ditangkap. Sementara kelompok pemantau lain yang berbasis di Norwegia mencatat angka korban tewas lebih rendah, namun mengakui data tersebut kemungkinan besar belum mencerminkan kondisi sebenarnya akibat pemadaman internet di Iran.

Pemerintah Iran sendiri belum merilis data resmi, dan angka korban sulit diverifikasi secara independen. Pemadaman internet nasional disebut dimanfaatkan aparat keamanan untuk memperluas operasi penindakan, termasuk penggunaan amunisi tajam untuk membubarkan massa.

Trump kembali menegaskan ancamannya untuk turun tangan jika pemerintah Iran terus menewaskan warga sipil. Ia menyatakan Amerika Serikat siap membantu para demonstran yang menuntut perubahan.

Respons keras datang dari Teheran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melakukan “kesalahan perhitungan”. Ia menyebut kepentingan Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah akan menjadi target sah jika Iran diserang.

Di dalam negeri, tekanan terhadap pemerintah Iran juga meningkat. Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran yang kini bermukim di Amerika Serikat, menyerukan aparat keamanan dan pegawai negara untuk berpihak kepada rakyat. Ia meminta mereka memilih berdiri bersama demonstran atau dianggap bersekongkol dengan kekerasan negara.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, di sisi lain, menuding pihak asing berupaya memperkeruh situasi dengan menyusupkan kekuatan dari luar negeri. Ia mengajak warga untuk mengikuti aksi yang disebutnya sebagai pawai perlawanan nasional guna menolak kekerasan.

Gelombang demonstrasi ini disebut sebagai yang terbesar di Iran dalam beberapa tahun terakhir. Aksi protes yang awalnya dipicu kejatuhan nilai mata uang dengan cepat berkembang menjadi tuntutan reformasi politik dan seruan untuk menjatuhkan pemerintahan yang berkuasa.

Aparat keamanan Iran dilaporkan telah menangkap sejumlah tokoh kunci gerakan protes. Kepala kepolisian nasional menyatakan penangkapan besar telah dilakukan dan para tersangka akan diproses secara hukum. Jaksa Agung Iran bahkan sebelumnya mengingatkan bahwa demonstran atau pihak yang membantu aksi protes dapat dikenai dakwaan berat dengan ancaman hukuman mati.

Situasi ini membuat kawasan Timur Tengah berada dalam kondisi siaga tinggi, dengan berbagai pihak menunggu langkah selanjutnya dari Washington di tengah ketegangan yang terus meningkat.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Muhammad Daniel Ramadhan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.