Trump Ancam Kuba Putus Total Minyak Venezuela: Bikin Kesepakatan Sekarang atau Tidak Sama Sekali

Senin, 12 Jan 2026, 20:45 WIB

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memanaskan tensi geopolitik dengan melontarkan ancaman keras kepada Kuba terkait pasokan minyak dan dukungan keuangan dari Venezuela. Trump menegaskan Kuba harus segera membuat kesepakatan atau bersiap menghadapi konsekuensi serius yang akan berdampak langsung pada stabilitas ekonomi negara tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Trump melalui unggahan di platform Truth Social miliknya pada Minggu waktu setempat. Ia secara terbuka memperingatkan bahwa aliran minyak dan uang dari Venezuela ke Kuba akan dihentikan sepenuhnya tanpa kompromi.

Ket. Foto: Donald Trump kembali memanaskan tensi geopolitik dengan melontarkan ancaman keras kepada Kuba terkait pasokan minyak dan dukungan keuangan dari Venezuela — Sumber: SANA

"Tidak akan ada lagi minyak atau uang yang mengalir ke Kuba nol! Saya sangat menyarankan mereka membuat kesepakatan sebelum terlambat," tulis Trump dalam unggahannya.

Nada ancaman tersebut menunjukkan eskalasi sikap keras Washington terhadap Havana yang kembali mengemuka.

Trump menuding Kuba selama bertahun-tahun telah menikmati keuntungan besar dari pasokan minyak murah dan bantuan finansial Venezuela. Menurutnya, imbal balik yang diberikan Kuba adalah dukungan keamanan dan perlindungan terhadap para pemimpin Venezuela dari satu rezim ke rezim berikutnya.

Ia menegaskan bahwa pola hubungan tersebut tidak akan lagi ditoleransi oleh pemerintah Amerika Serikat. Trump menyebut pengaturan lama antara Kuba dan Venezuela sebagai praktik yang merugikan stabilitas kawasan dan harus segera diakhiri.

Ancaman penghentian pasokan ini berpotensi memberi tekanan berat bagi perekonomian Kuba yang selama ini bergantung pada energi dan bantuan eksternal. Venezuela selama bertahun-tahun menjadi salah satu pemasok utama minyak bagi Kuba di tengah embargo ekonomi yang masih membelit negara tersebut.

Menanggapi pernyataan Trump, Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel langsung melontarkan penolakan tegas terhadap segala bentuk campur tangan asing. Ia menegaskan bahwa Kuba merupakan negara berdaulat yang tidak akan tunduk pada tekanan dari negara mana pun.

"Kuba adalah negara yang bebas dan merdeka, yang membuat keputusannya sendiri," ujar Díaz-Canel dalam pernyataan resminya. Ia menilai ancaman dari Amerika Serikat sebagai bentuk intervensi yang tidak bisa diterima oleh pemerintah Kuba.

Meski nada ancaman Trump terbilang keras, ia sebelumnya menyatakan bahwa intervensi militer Amerika Serikat terhadap Kuba bukanlah opsi yang realistis. Trump bahkan menyebut bahwa Kuba berada dalam kondisi rapuh dan berada di ambang kehancuran dengan sendirinya tanpa perlu campur tangan militer.

Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa tekanan ekonomi dan diplomatik menjadi senjata utama Washington dalam menghadapi Havana. Strategi ini dinilai sejalan dengan pendekatan keras Trump terhadap negara-negara yang dianggap berseberangan dengan kepentingan Amerika Serikat.

Situasi ini berpotensi memperburuk kondisi ekonomi Kuba yang sudah tertekan oleh krisis energi, inflasi, dan keterbatasan devisa. Jika ancaman Trump benar-benar direalisasikan, dampaknya bisa langsung terasa pada pasokan listrik, transportasi, hingga daya beli masyarakat Kuba.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.