Obat Kemoterapi dari Cendawan Himalaya
Senin, 12 Jan 2026, 06:33 WIBJAMUR menjadi objek penelitian karena dinilai menawarkan harapan bagi pengobatan penyakit kanker. Kemitraan industri-akademik baru antara Universitas Oxford dan perusahaan biofarmasi NuCana pada 2021 mengumumkan penemuan obat kemoterapi NUC-7738, yang berasal dari jamur Himalaya, memiliki potensi 40 kali lebih besar untuk membunuh sel kanker daripada senyawa induknya.
Para peneliti Universitas Oxford telah bekerja sama dengan pemimpin industri NuCana untuk menilai obat kemoterapi baru yang berasal dari jamur. Sebuah studi dalam Clinical Cancer Research menunjukkan bahwa obat baru NUC-7738, yang dikembangkan oleh NuCana, memiliki potensi hingga 40 kali lebih besar untuk membunuh sel kanker daripada senyawa induknya, dengan efek samping toksik yang terbatas.
Analog nukleosida alami yang dikenal sebagai Cordycepin (a.k.a 3â-deoxyadenosine) ditemukan dalam jamur Himalaya Cordyceps sinensis dan telah digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok selama ratusan tahun untuk mengobati kanker dan penyakit inflamasi lainnya. Namun, Cordycepin cepat terurai dalam aliran darah, sehingga hanya sedikit obat penghancur kanker yang sampai ke tumor.
Untuk meningkatkan potensinya dan menilai secara klinis aplikasinya sebagai obat kanker, perusahaan biofarmasi NuCana telah mengembangkan Cordycepin menjadi terapi klinis, menggunakan teknologi ProTide baru mereka, untuk menciptakan obat kemoterapi dengan efikasi yang jauh lebih baik.
Setelah masuk ke dalam tubuh, Cordycepin membutuhkan transportasi ke dalam sel kanker oleh transporter nukleosida (hENT1), harus diubah menjadi metabolit antikanker aktif, yang dikenal sebagai 3â-dATP, oleh enzim fosforilasi (ADK), dan dengan cepat dipecah dalam darah oleh enzim yang disebut ADA.
Teknologi ProTide adalah pendekatan baru untuk mengirimkan obat kemoterapi ke dalam sel kanker. Teknologi ini bekerja dengan menempelkan gugus kimia kecil ke analog nukleosida seperti Cordycepin, yang kemudian dimetabolisme setelah mencapai sel kanker pasien, melepaskan obat yang telah diaktifkan. Teknologi ini telah berhasil digunakan dalam obat antivirus Remsidivir dan Sofusbuvir yang disetujui FDA untuk mengobati berbagai infeksi virus seperti Hepatitis C, Ebola, dan Covid-19. hay
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.