Kolaborasi Berbasis Sains Jadi Kunci Percepatan Cegah Stunting dan Anemia di Indonesia
Kamis, 08 Jan 2026, 19:33 WIBJAKARTA â Tantangan kesehatan ibu dan anak masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Persoalan pemenuhan gizi, keterbatasan akses layanan kesehatan, hingga rendahnya edukasi kesehatan sejak dini terus membayangi kualitas tumbuh kembang generasi masa depan. Padahal, periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) telah lama diakui sebagai fondasi paling menentukan dalam membentuk kesehatan dan kecerdasan anak sepanjang hidupnya.
Di tengah upaya nasional menekan angka stunting yang ditargetkan turun hingga 14,2 persen pada 2029 menurut Kementerian Kesehatan, penanganan anemia dan penguatan kesehatan saluran cerna (gut health) kian dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi kesehatan yang komprehensif. Ketiganya saling berkaitan dan menuntut pendekatan berbasis kolaborasi lintas sektor, riset ilmiah, serta inovasi berkelanjutan demi mendukung visi Indonesia Emas 2045.
Isu-isu tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk âAksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasiâ yang digelar Danone, Kamis (8/1). Forum ini menyoroti tantangan kesehatan utama yang masih dihadapi kelompok ibu dan anak, mulai dari anemia, kesehatan saluran cerna, hingga stuntingâtiga persoalan yang dipahami saling terhubung dan membutuhkan intervensi sejak dini.
Anemia akibat defisiensi zat besi, misalnya, masih menjadi salah satu masalah gizi paling umum di Indonesia. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan ibu, tetapi juga memengaruhi pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Karena itu, edukasi gizi dan intervensi nutrisi sejak awal kehidupan menjadi krusial.
Sejalan dengan upaya pemerintah mempercepat pencegahan stunting dan anemia, penguatan kesehatan remaja turut menjadi fokus kebijakan nasional. Direktur Bina Ketahanan Remaja Kemendukbangga/BKKBN, Dr. Edi Setiawan, menegaskan bahwa remaja merupakan kelompok strategis dalam memutus mata rantai masalah gizi sejak dini.
âPendekatan promotif dan preventif melalui edukasi gizi, kesehatan reproduksi, serta penguatan peran keluarga dan komunitas harus terus diperkuat. Kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan mitra swasta seperti Danone Indonesia, menjadi kunci,â ujarnya. Menurut Edi, sinergi program GenRe (Generasi Berencana) dan Gesid (Generasi Sehat Indonesia) diharapkan menjadi model kemitraan strategis dalam menyiapkan generasi muda yang sehat dan berdaya.
Dari sudut pandang ilmiah, Presiden Indonesian Nutrition Association (INA) Dr. dr. Luciana Sutanto menekankan pentingnya riset berbasis konteks lokal. Penanganan anemia, kata dia, perlu ditopang bukti ilmiah yang relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia.
âBerbagai studi intervensi, termasuk kolaborasi riset INA bersama Danone SN Indonesia, menunjukkan bahwa susu pertumbuhan terfortifikasi sebagai bagian dari pola makan seimbang dapat membantu meningkatkan kecukupan zat besi pada anak usia 1â3 tahun,â jelas Luciana.
Di lini pelayanan kesehatan, bidan memegang peran strategis sebagai garda terdepan pendampingan ibu dan anak. Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Dr. Ade Jubaedah menyoroti peran edukatif bidan dalam mendorong konsumsi gizi seimbang dan kepatuhan suplementasi zat besi.
âPenguatan kapasitas bidan menjadi kunci terciptanya dampak kesehatan masyarakat yang berkelanjutan. Salah satunya melalui program kolaboratif Bidan Generasi Maju yang mendorong peningkatan kompetensi dan berbagi praktik baik di tingkat komunitas,â ujarnya.
Lebih jauh, kesehatan saluran cerna juga berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Dr. dr. Diana Sunardi, Spesialis Gizi Klinik FKUI, menjelaskan bahwa nutrisi lengkap dan seimbang mendukung mikrobiota usus, proses pencernaan, serta penyerapan nutrisi secara optimal.
âKeragaman diet dan asupan serat menjadi kunci. Namun, keterbatasan akses pangan, kebiasaan konsumsi rendah serat, dan tantangan di wilayah pedesaan masih menjadi hambatan utama,â kata Diana. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi, tenaga kesehatan, dan industri untuk menghadirkan solusi yang efektif dan berkelanjutan.
Di tingkat komunitas, stunting masih menjadi persoalan nyata. Direktur Eksekutif YPCII, dr. Agustini E. Raintung, mengingatkan bahwa dampak stunting melampaui persoalan tinggi badan. Stunting juga memengaruhi perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga produktivitas ekonomi anak di masa depan.
âPencegahan stunting harus dilakukan secara konvergen pada periode 1.000 HPK, melalui intervensi spesifik dan sensitif, mulai dari edukasi gizi, pola asuh, hingga perbaikan sanitasi dan ketahanan pangan,â ujarnya.
Menjawab kompleksitas tantangan tersebut, riset ilmiah menjadi fondasi penting dalam merancang intervensi gizi yang tepat sasaran. Medical and Scientific Affairs Director Danone Specialized Nutrition Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, menyebut sepanjang 2025 pihaknya menghasilkan lebih dari 46 publikasi ilmiah terkait anemia, stunting, kesehatan saluran cerna, hingga imunitas.
âTemuan-temuan ini kami diskusikan secara aktif di forum ilmiah nasional dan internasional, seperti ESPGHAN dan ISPOR, sebagai kontribusi nyata bagi penguatan pendekatan berbasis sains,â ujarnya.
Hasil riset tersebut menjadi dasar berbagai inisiatif kolaboratif, termasuk gerakan Bersama Cegah Stunting dan Generasi Maju Bebas Stunting, serta pengembangan Kalkulator Zat Besi untuk meningkatkan kesadaran dan deteksi dini anemia. Inovasi nutrisi juga diwujudkan melalui produk fortifikasi zat besi dan formulasi yang mendukung kesehatan pencernaan anak.
Komitmen kesehatan itu, menurut CEO Danone Specialized Nutrition Indonesia Joris Bernard, dimulai dari penguatan internal perusahaan. Melalui program DanCares, termasuk kebijakan cuti melahirkan enam bulan dan dukungan kesehatan mental karyawan, Danone berupaya membangun fondasi organisasi yang sehat dan berkelanjutan.
âPendekatan internal ini kemudian diperluas melalui riset, inovasi nutrisi, dan kolaborasi lintas sektor, sebagai kontribusi nyata bagi peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia,â kata Joris.
Dengan pendekatan berbasis sains dan kolaborasi, upaya memperkuat kesehatan ibu dan anak diharapkan tidak hanya menekan stunting, tetapi juga membangun fondasi generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan berdaya saing di masa depan.
- Danone Indonesia
- Indonesia Emas 2045
- Anemia
- Stunting
- gizi anak
- kesehatan ibu dan anak
- 1000 hari pertama kehidupan
- kesehatan saluran cerna
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Stok KTP-el Rejang Lebong Aman Beberapa Bulan dengan 8.989 Blangko
-
KKP Pastikan Layanan Pelabuhan Perikanan Tetap Optimal di Libur Lebaran 2026
-
Aksi Kamisan ke-900 di Jakarta
-
Deteksi Kelainan Saluran Kemih Anak Bisa Dilakukan Sejak Dalam Kandungan
-
Ericsson Dorong Percepatan 5G di Indonesia, Disebut Kunci Daya Saing Ekonomi Digital Menuju 2045
-
Pemerintah: Sejumlah Ruas Tol Tambahan Dibuka untuk Arus Mudik Lebaran
-
Langka! Bunga Bangkai Raksasa Mekar di Agam, Jadi Magnet Wisatawan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.