Impor RI 2025 Masih Didominasi Bahan Baku
Kamis, 08 Jan 2026, 01:05 WIBJakarta â Impor Indonesia sepanjang JanuariâNovember 2025 masih didominasi oleh bahan baku atau barang penolong. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut, komponen tersebut menyumbang porsi terbesar dalam struktur impor nasional.
Seperti dikutip dari Antara, dalam keterangan resmi Kemendag, Rabu (7/1), porsi impor bahan baku atau penolong mencapai 70,27 persen, diikuti barang modal 20,55 persen dan barang konsumsi 9,18 persen. Impor barang modal tercatat naik 18,54 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, impor barang modal mengalami kenaikan signifikan sebesar 18,54 persen. Menurut Budi, peningkatan tersebut didorong oleh naiknya impor central processing unit (CPU), ponsel pintar, mobil listrik, serta base station.
âKenaikan impor barang modal yang mencapai 18,54 persen turut disebabkan naiknya impor CPU, ponsel pintar, mobil listrik, dan base station,â ujar Budi.
Impor produk bahan baku atau penolong dengan penurunan terdalam pada Januari-November 2025, yaitu bahan bakar minyak, gula tebu, kacang kedelai, bungkil untuk pakan ternak dan polipropilena.
Di sisi lain, impor barang konsumsi turun terutama untuk mesin pengatur suhu udara, bawang putih, mobil listrik (CKD), non-dairy creamer dan obat-obatan.
Secara kumulatif, nilai impor Indonesia pada JanuariâNovember 2025 mencapai 218,02 miliar dollar AS atau tumbuh 2,03 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh impor nonmigas yang naik 4,37 persen menjadi 188,61 miliar dollar AS.
Berdasarkan negara asal, impor nonmigas Indonesia pada Januari-November 2025 didominasi Tiongkok, Jepang, dan AS dengan kontribusi gabungan mencapai 52,87 persen terhadap total impor nonmigas.
Di tengah kinerja impor tersebut, neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 kembali mencatatkan surplus sebesar 2,66 miliar dollar AS, sehingga mempertahankan tren surplus selama 67 bulan berturut-turut.
Ketergantunan Industri
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda yang diminta pendapatnya mengatakan tingginya porsi impor bahan baku dan penolong masih menjadi persoalan, terutama karena sebagian di antaranya juga merupakan barang konsumsi akhir, seperti manik-manik.
âJadi, porsi bahan baku dan penolong ini sangat besar, padahal di dalamnya juga terdapat barang konsumsi,â ujar Huda.
Meski demikian, menurut Huda, kondisi tersebut juga mencerminkan tingginya ketergantungan industri dalam negeri terhadap bahan baku dan penolong impor. Akibatnya, Indonesia kerap hanya menjadi lokasi proses akhir atau bahkan sekadar perakitan.
Ia menjelaskan, berbeda dengan impor barang modal yang berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kapasitas produksi karena berupa mesin dan peralatan produksi, impor bahan baku dan penolong tidak selalu memberikan nilai tambah yang optimal.
âBahan baku dan penolong memang bisa menjadi indikator ekonomi bergerak. Namun akan jauh lebih baik jika pasokannya berasal dari dalam negeri,â kata Huda.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.