Venezuela Krisis, Indonesia Malah Ngebut Produksi Minyak, Ini Alasannya!
Selasa, 06 Jan 2026, 17:20 WIBJAKARTA â Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Veneuela memicu memanasnya tensi geopoitik sehingga dikhawatirkan berimbas pada pasar komoditas global, terutama minyak mentah dunia.
Sebab, selama ini, Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia pada 2023 sebesar 303 miliar barel atau setara 17% dari cadangan minyak mentah dunia.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyampaikan peningkatan produksi minyak nasional merupakan salah satu langkah antisipasi Indonesia terhadap gejolak geopolitik, termasuk gejolak politik yang terjadi di Venezuela.
âSebagai antisipasi, kami terus meningkatkan cadangan strategis minyak nasional, optimalisasi produksi,â ujar Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia ketika dihubungi dari Jakarta, Selasa (6/1).
Langkah-langkah peningkatan produksi minyak nasional meliputi optimalisasi penggunaan teknologi dan teknik produksi, seperti fracking, EOR (enhanced oil recovery), serta horizontal drilling untuk peningkatan produksi minyak.
Selain itu, pemerintah juga menawarkan reformasi fiskal, percepatan perizinan, serta peningkatan investasi eksplorasi di wilayah frontier untuk menarik minat investor hulu migas.
Peningkatan produksi juga diupayakan pemerintah melalui reaktivasi 4.500 sumur idle.
âKondisi ini (situasi Venezuela) terus dipantau,â ucap Anggia.
Diwartakan sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan pemerintah belum melihat dampak langsung dari situasi di Venezuela terhadap pasokan maupun harga BBM pada saat ini.
âKita sumber crude-nya itu bukan dari sana. Jadi dari wilayah lain. Jadi masih stabil,â kata Laode usai penutupan Posko Nasional Sektor ESDM Nataru 2025-2026 di Jakarta, Senin (5/1).
Laode menambahkan pemerintah tetap melakukan langkah antisipasi dan pemantauan perkembangan situasi, termasuk potensi dampaknya terhadap harga minyak dunia.
âAntisipasi itu selalu ada,â ujar dia.
Pernyataan-pernyataan tersebut merespons gejolak politik yang berlangsung di Venezuela. Media internasional memberitakan AS menyerang secara militer Ibu Kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu (3/1).
Dalam pernyataannnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan pasukan AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya.
Segera setelah itu, Pemerintah Venezuela mengumumkan negaranya berada dalam kondisi darurat nasional. Beberapa negara sudah mengeluarkan pernyataan resmi terkait serangan unilateral AS tersebut.
Presiden Kolombia Gustavo Petro menyerukan pertemuan darurat PBB untuk menegaskan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan, larangan penggunaan kekerasan dan penyelesaian sengketa secara damai.
Rusia dan Iran, yang dikenal dekat dengan Venezuela, juga mengecam serangan militer AS itu.
- Produksi Minyak Nasional
- Konflik AS-Venezuela
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Angkatan Laut Russia Kerahkan Kapal Selam dan Kapal Perang untuk Mengawal Tanker Minyak dari Venezuela
-
32 Personel Pasukan Elit Baret Hitam Kuba Tewas dalam Serangan Delta Force AS di Venezuela
-
Keterangan pers kondisi terkini di Venezuela
-
2 Jam 28 Menit: Bagaimana Pasukan Delta Force AS Menculik Presiden Venezuela Nicolás Maduro
-
Operasi Penangkapan Maduro Gagalkan Ratusan Penerbangan di Seluruh Karibia
-
Maduro Ucapkan Selamat Tahun Baru - Mahkamah Agung Venezuela Tunjuk Wapres Delcy Rodriguez sebagai Presiden Sementara
-
Konflik AS-Venezuela: Amerika Serikat Sudah Rencanakan Misi Penangkapan Maduro Berbulan-bulan dan Kerahkan 150 Pesawat Berbagai Jenis
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.