Situasi Masih Tegang di Perbatasan Venezuela–Kolombia Usai Penangkapan Maduro

Senin, 05 Jan 2026, 15:15 WIB

JAKARTA - Arus lalu lintas pejalan kaki dan kendaraan di Jembatan Internasional Simón Bolívar, yang menghubungkan Venezuela dan Kolombia di atas Sungai Táchira, masih berjalan seperti biasa. Namun di balik aktivitas yang tampak normal itu, suasana penuh ketidakpastian menyelimuti kawasan perbatasan sehari setelah Amerika Serikat menangkap dan membawa Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

Di sisi Venezuela, seorang anggota Garda Nasional Bolivarian mengatakan bahwa hingga kini tidak ada perubahan perintah dari pimpinan militer. Meski begitu, ia mengakui situasi terasa lebih tegang dari biasanya. Pernyataan Donald Trump bahwa AS akan “mengelola” Venezuela dalam masa transisi belum terasa dampaknya di wilayah perbatasan yang berjarak sekitar 640 kilometer dari Caracas. “Siapa pun yang memerintah, seharusnya orang Venezuela,” ujar petugas tersebut, sebelum pembicaraan dihentikan paksa oleh atasannya yang menyebut kondisi saat ini “rumit”.

Ket. Foto: — Sumber: Geo News

Ketegangan juga terasa di Kolombia. Presiden Gustavo Petro mengecam langkah AS sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Amerika Latin dan memperingatkan potensi krisis kemanusiaan. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, mengingat lebih dari dua juta warga Venezuela telah mengungsi ke Kolombia dalam 15 tahun terakhir akibat krisis ekonomi dan politik di negara asal mereka.

Pernyataan Petro memicu respons keras dari Trump, yang melontarkan ancaman verbal terhadap pemimpin Kolombia tersebut. Menyusul situasi itu, Menteri Pertahanan Kolombia Pedro Sánchez menyatakan bahwa pengamanan presiden diperketat dan militer disiagakan untuk melindungi kedaulatan serta stabilitas demokrasi negara.

Sánchez menambahkan bahwa ancaman utama di sepanjang perbatasan sepanjang lebih dari 2.200 kilometer berasal dari kelompok kriminal terorganisasi dan kelompok bersenjata seperti Tren de Aragua dan Tentara Pembebasan Nasional (ELN). Dalam pernyataan terpisah, ELN mengecam penahanan Maduro dan menyebutnya sebagai bentuk imperialisme Amerika Serikat terhadap negara-negara Amerika Latin.

Di tengah kekhawatiran akan eskalasi konflik, pemerintah Kolombia menyiapkan rencana darurat kemanusiaan. Relawan Palang Merah Kolombia mulai bersiaga di perbatasan dengan tenda darurat dan ambulans. Meski belum terlihat gelombang besar pengungsi, skenario terburuk memperkirakan hingga 120 ribu orang bisa menyeberang jika situasi memburuk.

Di dalam Venezuela, pembatasan ketat terhadap jurnalisme membuat informasi sulit diverifikasi. Sepanjang 2025, setidaknya 21 jurnalis Venezuela ditangkap dengan tuduhan berat seperti pengkhianatan dan terorisme.

Warga sipil di perbatasan mulai bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Banyak toko di kota-kota Venezuela dekat perbatasan tutup setelah warga memborong kebutuhan pokok. Seorang pemilik toko, Nubiola Fanco, mengatakan stok habis dalam sehari karena warga takut akan ketidakpastian. “Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi,” ujarnya.

Di sisi lain, sebagian warga Venezuela di pengasingan menggelar perayaan kecil di kota Cúcuta, Kolombia. Mereka menyanyikan lagu kebangsaan dan meneriakkan “kebebasan”, meski dengan nada hati-hati. Harapan untuk kembali ke tanah air mulai muncul, tetapi banyak yang memilih menunggu hingga situasi benar-benar stabil.

“Keinginan pulang itu ada,” kata Rynna Mora, salah satu pengungsi. “Tapi saya harus melihat dulu bagaimana semuanya akan berakhir.”

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Muhammad Daniel Ramadhan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.