Menghirup Bau Kentut Sendiri dapat Kurangi Risiko Alzheimer hingga 37%, Kata Ilmuwan
Senin, 05 Jan 2026, 14:33 WIBMembayangkannya saja sudah membuat perut mual, namun para ilmuwan di Johns Hopkins Medicine baru-baru ini mengatakan bahwa gas kentut yang berbau busuk, dikenal sebagai hidrogen sulfida, dapat membantu melindungi sel-sel otak yang menua dari penyakit Alzheimer.
Dari Yahoo News, neskipun gas berbau menyengat ini sangat beracun dalam jumlah besar, dosis yang lebih kecil mungkin memberikan beberapa manfaat kesehatan yang serius, demikian catatan para peneliti Johns Hopkins dalam sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academies of Science.Â
âData baru kami secara tegas menghubungkan penuaan, neurodegenerasi, dan pensinyalan sel menggunakan hidrogen sulfida dan molekul gas lainnya di dalam sel,â kata ilmuwan utama studi tersebut, Bindu Paul.
Tubuh manusia secara alami menghasilkan sejumlah kecil hidrogen sulfida, yang membantu mengatur fungsi di seluruh tubuh. Gas-gas ini dapat memfasilitasi pengiriman pesan seluler ke otak.
Menurut salah satu penulis, Solomon Snyder, hidrogen sulfida memodifikasi protein target melalui proses yang disebut sulfhidrasi kimia.
Para ilmuwan mengatakan bahwa kadar sulfhidrasi di otak menurun seiring bertambahnya usia, dan mencatat bahwa tren ini lebih terlihat pada pasien Alzheimer.
âDi sini, dengan menggunakan metode yang sama, kami sekarang mengkonfirmasi penurunan sulfhidrasi di otak penderita Alzheimer,â kata kolaborator Milos Filipovic.
Sebagai bagian dari penelitian tersebut, para ilmuwan Johns Hopkins Medicine mengamati tikus yang dimodifikasi secara genetik untuk meniru penyakit Alzheimer pada manusia.
Tikus-tikus tersebut disuntik dengan senyawa pembawa hidrogen sulfida yang disebut NaGYY, yang secara perlahan melepaskan molekul hidrogen sulfida ke seluruh tubuh. Tikus-tikus tersebut diuji untuk melihat perubahan dalam memori dan fungsi motorik selama periode 12 minggu.
Uji perilaku pada tikus menunjukkan bahwa hidrogen sulfida meningkatkan fungsi kognitif dan motorik sebesar 50 persen dibandingkan dengan tikus yang tidak menerima suntikan tersebut.
Tikus yang menerima perawatan lebih mampu mengingat lokasi perubahan platform dan tampak lebih aktif secara fisik dibandingkan tikus yang disimulasikan menderita penyakit Alzheimer tetapi tidak menerima perawatan.
âHasil penelitian menunjukkan bahwa dampak perilaku penyakit Alzheimer dapat dibalikkan dengan memasukkan hidrogen sulfida, tetapi para peneliti ingin menyelidiki bagaimana otak bereaksi secara kimiawi terhadap molekul gas tersebut,â tulis Johns Hopkins Medicine dalam siaran pers tentang penelitian tersebut.
Serangkaian eksperimen mengungkapkan perubahan pada enzim umum yang disebut glikogen sintase β (GSK3β). Ketika kadar hidrogen sulfida dalam keadaan sehat, GSK3β bertindak sebagai molekul pemberi sinyal.
Para peneliti menemukan bahwa tanpa adanya hidrogen sulfida, GSK3β tertarik secara berlebihan ke protein lain di otak yang disebut Tau.
Ketika GSK3β dan Tau berinteraksi, Tau menyebabkan terbentuknya gumpalan di dalam sel saraf. Seiring pertumbuhan gumpalan tersebut, protein yang kusut mengh блоки komunikasi antar saraf, yang akhirnya menyebabkan saraf tersebut mati, menurut para peneliti.
âHal ini menyebabkan penurunan dan akhirnya hilangnya fungsi kognitif, memori, dan motorik yang merupakan ciri khas penyakit Alzheimer,â demikian bunyi siaran pers tersebut.
âMemahami rangkaian peristiwa ini penting untuk merancang terapi yang dapat memblokir interaksi ini, seperti yang mampu dilakukan oleh hidrogen sulfida,â kata mahasiswa doktoral Daniel Giovinazzo, penulis pertama studi tersebut.
Sampai beberapa tahun yang lalu, para peneliti kekurangan alat untuk meniru bagaimana tubuh menghasilkan sejumlah kecil hidrogen sulfida di dalam sel.
âSenyawa yang digunakan dalam penelitian ini melakukan hal itu dan menunjukkan bahwa dengan mengoreksi kadar hidrogen sulfida di otak, kita dapat berhasil membalikkan beberapa aspek penyakit Alzheimer,â kata kolaborator Matt Whiteman.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Warga Banyumas Mesti Bangga, Tari Lengger Populer di Tokyo
-
Perlu Anda Tahu! Cegah Faktor Penyebab Alzheimer pada Lansia dengan "Sleep Hygiene"
-
Gak Cuma Bikin Langsing, Rajin Gowes Ternyata Bisa Lindungi Otak dari Pikun!
-
DPR Peringatkan Agar Kementerian Haji yang Baru Terbentuk Cegah Korupsi Kuota Haji
-
Sekolah daring antisipasi unjuk rasa di Bekasi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.