Kamboja Tuntut Thailand Tarik Pasukannya

Senin, 05 Jan 2026, 02:10 WIB

PHNOM PENH - Kamboja pada Sabtu (3/1) menyerukan agar negara tetangganya, Thailand,  menarik pasukannya dari wilayah yang diklaim Phnom Penh sebagai wilayahnya, sepekan setelah gencatan senjata yang menghentikan bentrokan mematikan di sepanjang perbatasan yang disengketakan.

Perselisihan yang telah berlangsung selama beberapa dekade antara negara-negara tetangga di Asia tenggara ini meletus menjadi bentrokan militer beberapa kali tahun lalu, dengan pertempuran pada bulan Desember menewaskan puluhan orang dan menyebabkan sekitar satu juta orang mengungsi di kedua belah pihak.

Ket. Foto: Kontainer dan kawat berduri yang dipasang militer Thailand untuk menghalangi jalan menuju Desa Chouk Chey. Kamboja pada Sabtu (3/1) menyerukan agar Thailand  menarik pasukannya dari wilayah yang diklaim Phnom Penh sebagai wilayahnya. — Sumber: AFP/Agence Kampuchea Press

Pada 27 desember lalu, kedua negara sepakat untuk melakukan gencatan senjata demi mengakhiri bentrokan selama tiga pekan. Namun Kamboja mengatakan bahwa selama periode tersebut, Thailand merebut beberapa wilayah di empat provinsi perbatasan.

Dalam sebuah pernyataan pada Sabtu, Kementerian Luar Negeri Kamboja menuntut penarikan seluruh personel dan peralatan militer Thailand dari wilayah Kerajaan Kamboja ke posisi yang sepenuhnya sesuai dengan perbatasan yang ditetapkan secara hukum.

Kementerian Luar Negeri Kamboja juga menyerukan kepada Thailand untuk segera mengakhiri semua aktivitas militer yang bermusuhan di sepanjang perbatasan dan di dalam wilayah Kamboja.

Militer Thailand menolak klaim bahwa mereka telah menggunakan kekerasan untuk merebut wilayah Kamboja, dan bersikeras bahwa pasukan mereka hadir di daerah-daerah yang selalu menjadi milik Thailand.

Konflik perbatasan antara kedua negara tersebut berakar dari perselisihan mengenai penetapan batas wilayah sepanjang 800 kilometer pada era kolonial, di mana kedua belah pihak mengklaim wilayah dan sejumlah reruntuhan kuil berusia berabad-abad.

Aneksasi Ilegal

Sebelumnya pada Jumat (2/1), Menteri Informasi Kamboja, Neth Pheaktra, menuduh Thailand melancarkan aneksasi ilegal terhadap sebuah desa perbatasan.“Militer Thailand telah memulai aneksasi ilegal wilayah Kamboja ke Thailand, terutama di Desa Chouk Chey,” ucap Neth Pheaktra.

Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, membantah narasi Phnom Penh, danmengatakan negaranya tidak pernah melanggar kedaulatan negara lain dan telah bertindak sesuai dengan peraturan internasional.

Sementara militer Thailand dengan tanpa menyebutkan lokasi tertentu mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah menguasai wilayah yang selalu menjadi milik Thailand tetapi telah diduduki oleh Kamboja.

Sedangkan menteri Kamboja mengatakan bahwa pasukan Thailand telah merusak bangunan sipil, memasang kawat berduri dan kontainer untuk membuat “pagar perbatasan” dan memasangnya  untuk mengklaim wilayah yang disengketakan.

“Penegasan sepihak atas kedaulatan Thailand dengan kekerasan juga ditunjukkan dengan mengibarkan bendera nasional Thailand,” ucap Neth Pheaktra. “Kamboja tidak akan mengakui perubahan apapun pada garis batas akibat penggunaan kekerasan,” imbuh dia.

Sebuah peta yang diberikan kepada AFP oleh Kementerian Informasi Kamboja menunjukkan kehadiran militer Thailand di wilayah yang diklaim Kamboja sebagai miliknya di daerah Chouk Chey. Menurut peta Kamboja tersebut, Thailand sekarang menguasai daerah yang, pada titik terjauhnya, berjarak sekitar 750 meter dari garis batas yang ditarik oleh Phnom Penh melalui desa tersebut.

Chouk Chey, yang penduduknya mengungsi akibat pertempuran pada Desember lalu, terletak di sebidang tanah perbatasan antara Provinsi Banteay Meanchey di Kamboja dan Provinsi Sa Kaeo di Thailand.

Thailand pernah menampung pengungsi perang Kamboja ke daerah itu pada era ‘80-an, dengan beberapa keluarga yang tersisa tinggal setelah pertempuran berhenti dalam perang saudara Kamboja. Tentara Thailand mengatakan warga sipil Kamboja telah merambah wilayah Thailand, membangun komunitas dan tempat tinggal secara ilegal. AFP/I-1

  • thailand baht
  • cambodia

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

Berita Terbaru

5 Dialek Sunda, dari Priangan hingga Betawi Menggema saat Pembacaan Sejarah HUT Jawa Barat ke-81

Tijjani Reijnders Gabung Klub Arab Saudi, Al Qadsiah

Keren Bikin Bangga! Karya Modifikator Indonesia Bakal Mejeng di SEMA Show 2026

Industri Modifikasi Otomotif Jadi Ladang Ekraf Baru, Menekraf Dorong Jadi Nilai Tambah Ekonomi Nasional

Sampah Plastik Jadi Cuan! Pemkot Bima Kembangkan Nilai Ekonomi Lewat Gerakan Ini

Sembilan Perempuan Disandera di Jila, Mimika oleh KKB

Film Jason Statham ‘Mutiny’ Sempat Bocor di Amazon Prime Sebelum Tayang di Bioskop

Layanan Rail Library KAI untuk Meningkatkan Minat Baca dan Pengetahuan Masyarakat

Petugas Upacara HUT Ke-81 RI Diundang Presiden Prabowo ke Hambalang

Kejutan untuk Petugas Upacara HUT Ke-81 RI! Prabowo Undang Mereka ke Hambalang

Pemkot Cilegon Dukung Pengangkatan Guru PPPK Jadi PNS

KPK Usut Izin WNA, Dugaan Korupsi BPJS TKA Ikut Terungkap

Nasib Guru PPPK Terjawab! Pemkot Cilegon Dukung Pengangkatan Jadi PNS

Kabar Gembira! 25 Kreator Lokal Aceh Ketiban Berkah, Kemenkum Berikan Hak Cipta Gratis

Terobosan Baru Kemenhub! BRT Mebidang Didorong Jadi Solusi Transportasi Perkotaan

KPK Periksa WNA soal Dugaan Pemerasan Izin Tinggal, Penyidikan Kasus Rp145,5 Miliar Masuk Babak Akhir

Peragaan Busana Bambu Karya UMKM Promosikan Desa Gintangan

Terungkap! Ini Alasan KPK Memanggil Pegawai PT Adaro Andalan Indonesia

Bantu UMKM Berkembang, Univrab dan STTP Dampingi Usaha Bata Ringan di Pekanbaru

'Mutiny': Balas Dendam Brutal Jason Statham di Kapal Kargo

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.