Filosofi Glenn Murcutt Jadi Kompas Arsitektur Berkelanjutan di ASEAN
Senin, 05 Jan 2026, 20:28 WIBJAKARTA â Di tengah percepatan pembangunan infrastruktur Asia Tenggara yang kian agresif demi mengejar pertumbuhan ekonomi, muncul pertanyaan mendasar: bagaimana membangun tanpa merusak? Bagaimana arsitektur modern tetap menghormati identitas lokal sekaligus tangguh menghadapi krisis iklim?
Jawabannya mungkin terletak pada sebuah filosofi sederhana: âTouch this earth lightly,â sentuhlah bumi ini dengan lembut. Prinsip ini diperkenalkan oleh Glenn Murcutt, satu-satunya arsitek asal Australia peraih Pritzker Architecture Prize, penghargaan tertinggi di dunia arsitektur.
Filosofi tersebut kini menjadi kompas bagi pergerakan arsitektur berkelanjutan di kawasan ASEAN. Murcutt menegaskan bahwa bangunan yang baik bukanlah yang mendominasi alam, melainkan yang beradaptasi dengannya, menghormati budaya lokal, serta meninggalkan jejak karbon seminimal mungkin.
Dilema Pembangunan ASEAN: Ambisi dan Keberlanjutan
Asia Tenggara saat ini berada di persimpangan kritis. Di satu sisi, kawasan ini mengalami urbanisasi tercepat di dunia, dengan proyeksi ratusan juta penduduk tinggal di kawasan perkotaan pada 2030. Di sisi lain, wilayah ini juga termasuk yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim mulai dari kenaikan permukaan laut hingga gelombang panas ekstrem.
Kondisi tersebut menuntut pendekatan arsitektur yang tak lagi bisa bergantung pada pola lama buildâdemolishârebuild. Diperlukan material dan desain yang tidak hanya estetis, tetapi juga adaptif, tahan lama, dan ramah lingkungan. Dalam konteks inilah evolusi teknologi material, termasuk baja modern, mulai memainkan peran penting.
Pelajaran dari Maestro: Makna âSentuhan Lembutâ
Filosofi âTouch this earth lightlyâ bukan sekadar wacana normatif. Prinsip ini menjadi salah satu topik utama dalam simposium arsitektur ASEAN yang digelar di Jakarta pada akhir November lalu. Dalam forum tersebut, Ar. Nick Sissons dari Glenn Murcutt Architecture Foundation Australia membedah bagaimana filosofi ini dapat diterjemahkan secara kontekstual di Asia Tenggara yang kaya akan keragaman budaya.
Simposium bertajuk âShaping Resilient Futures: Heritage and Modernity in Steel Architectural Designâ ini menghadirkan sekitar 190 pakar arsitektur dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Australia. Mereka berkumpul dengan satu misi: merumuskan masa depan arsitektur kawasan yang tidak sekadar mengikuti tren global, tetapi juga berakar kuat pada kearifan lokal.
Ar. Budi Pradono, arsitek senior Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara. âKemitraan ini menegaskan vitalitas aliansi regional kita dan akan memotivasi komunitas arsitek ASEAN menuju pencapaian yang lebih berani dan berdampak,â ujarnya melalui siaran pers pada Senin (5/1).
Sementara itu, Ar. Steve Woodland dari COX Architecture Australia, yang menjadi keynote speaker, membahas bagaimana teknologi material modern termasuk baja berlapis dapat menjawab tantangan arsitektur masa depan yang kian kompleks.
Baja sebagai Medium, Bukan Tujuan
Salah satu gagasan menarik dari forum tersebut adalah pergeseran paradigma dalam memandang material baja. Baja tidak lagi diposisikan semata sebagai simbol modernitas yang monoton dan impersonal, melainkan sebagai medium untuk mencapai tujuan yang lebih besar: menciptakan harmoni antara manusia dan alam.
Jenny Margiano, Country President PT NS BlueScope Indonesia, menjelaskan bahwa baja modern memiliki karakteristik yang sejalan dengan kebutuhan arsitektur berkelanjutan. âMaterial ini dapat didaur ulang, fleksibel untuk berbagai desain, dan tangguh menghadapi kondisi iklim ekstrem. Kualitas tersebut sangat dibutuhkan ASEAN saat ini,â ujarnya.
Kemampuan baja untuk didaur ulang hingga 100 persen tanpa kehilangan kualitas menjadikannya pilihan logis dalam konteks ekonomi sirkular yang kini digalakkan di kawasan ASEAN. Fleksibilitasnya juga memungkinkan desain yang lebih responsif terhadap kondisi lokalâmulai dari optimalisasi ventilasi alami di iklim tropis hingga struktur yang lebih tahan gempa.
Momentum Perubahan: Steel Architectural Awards ASEAN 2026
Forum tersebut sekaligus menandai peluncuran Steel Architectural Awards ASEAN 2026, sebuah kompetisi yang terbuka bagi karya-karya inovatif dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Program ini mencakup berbagai kategori, mulai dari hunian, komersial, infrastruktur, hingga bangunan institusional.
âPenghargaan ini mengakui pencapaian para arsitek yang merekomendasikan produk kami di balik beragam struktur inovatif di kawasan ASEAN, sekaligus memperdalam kolaborasi dengan komunitas desain Australia untuk memperkuat pertukaran pengetahuan dan pertumbuhan profesional lintas negara,â kata Jenny.
Penilaian tidak hanya berfokus pada aspek estetika, tetapi juga pada kemampuan proyek merespons konteks lokal, mengintegrasikan prinsip keberlanjutan, serta memberikan dampak jangka panjang bagi komunitas.
Dewan juri yang terdiri dari para pakar arsitektur terkemuka seperti Ar. Firman Setia Herwanto (Wakil Ketua IAI), Ar. Asae Sukhyanga (Presiden ASA), serta akademisi dan praktisi dari Vietnam, Malaysia, dan Australiaâakan menilai sejauh mana setiap karya berhasil mewujudkan visi resilient futures, atau masa depan yang tangguh dan bertanggung jawab.
- Arsitektur Berkelanjutan
- Glenn Murcutt
- Touch This Earth Lightly
- Arsitektur ASEAN
- Krisis Iklim
- Pembangunan Berkelanjutan
- Baja Arsitektur
- Desain Ramah Lingkungan
- Steel Architectural Awards ASEAN
- Urbanisasi Asia Tenggara
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Krisis Iklim, Pencemaran, dan Sampah Ancaman Nyata Indonesia
-
Pemain Persib Bandung dalam Kondisi Bugar usai Jalani Masa Libur
-
BMKG Prakirakan Jakarta Akan Turun Hujan pada Sabtu dengan Intensitas Ringan
-
Penanganan Banjir dan Longsor di Sejumlah Kecamatan di Jember
-
OJK: Proses Demutualisasi BEI Masih Tunggu Terbitnya Peraturan Pemerintah
-
Korlantas Terbangkan ETLE Drone, Incar Pelanggar Ganjil Genap Jakarta dari Udara
-
PT Pelita Air Service Rampungkan Reaktivasi Bandara Pinang Kampai Dumai
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.