Ancaman Trump Picu Reaksi Keras Iran, Teheran Tegaskan Intervensi AS Garis Merah

Sabtu, 03 Jan 2026, 02:45 WIB

JAKARTA - Pemerintah Iran melontarkan peringatan keras kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah pernyataannya yang mengancam akan “menyelamatkan” para demonstran jika pemerintah Iran menewaskan warga sipil dalam gelombang protes yang tengah berlangsung. Pejabat senior Iran menegaskan bahwa setiap bentuk campur tangan AS akan dianggap melampaui “garis merah” keamanan nasional.

Trump sebelumnya menyatakan melalui media sosial bahwa Amerika Serikat siap bertindak apabila aparat Iran menembaki dan membunuh demonstran. Ia bahkan menyebut AS dalam kondisi “siap tempur”, tanpa merinci langkah konkret yang dimaksud.

Ket. Foto: — Sumber: Al Jazeera

Pernyataan tersebut langsung memicu respons dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Ia menyebut ancaman Trump sebagai sikap sembrono dan berbahaya, serta mengungkapkan bahwa militer Iran kini berada dalam status siaga. Araghchi menegaskan bahwa sebagian besar aksi unjuk rasa berlangsung damai, namun pemerintah tidak akan mentoleransi perusakan fasilitas publik.

Menurut Araghchi, Trump seharusnya memahami sikap tegas negara terhadap keamanan dalam negeri, mengingat AS sendiri pernah mengerahkan pasukan keamanan untuk meredam kerusuhan domestik. Pernyataan ini memperlihatkan upaya Teheran membalikkan narasi bahwa tindakan keras hanya dilakukan demi menjaga stabilitas.

Protes di Iran kini memasuki hari keenam dan disebut sebagai yang terbesar sejak 2022, ketika kematian Mahsa Amini dalam tahanan polisi memicu demonstrasi nasional. Gelombang unjuk rasa terbaru dipicu anjloknya nilai tukar rial secara drastis, yang mencapai sekitar 1,4 juta per dolar AS dan memperburuk krisis ekonomi yang telah lama membayangi negara tersebut.

Sedikitnya tujuh orang dilaporkan tewas sejak protes dimulai. Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan aparat keamanan membawa senapan laras panjang, disertai suara tembakan di sekitar lokasi demonstrasi.

Peringatan paling keras datang dari Ali Shamkhani, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Ia menegaskan bahwa keamanan nasional Iran bukan bahan untuk ancaman atau pernyataan sepihak. Shamkhani menyebut setiap upaya campur tangan asing akan dibalas dengan respons yang menimbulkan penyesalan.

Nada serupa disampaikan Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Ia menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik gelombang protes, tudingan yang kerap muncul dari pejabat Iran dalam setiap krisis domestik. Larijani memperingatkan bahwa intervensi AS berpotensi mengguncang stabilitas kawasan dan mengancam kepentingan Amerika sendiri, termasuk keselamatan tentaranya di Timur Tengah.

Ketegangan ini muncul hanya berselang beberapa hari setelah Trump menyatakan AS siap menyerang Iran jika terbukti membangun kembali program nuklirnya. Ancaman tersebut semakin memperuncing hubungan kedua negara yang sudah lama berada di titik panas.

Di dalam negeri, aksi protes menyebar dari Teheran ke sejumlah kota lain seperti Isfahan. Toko-toko tutup, kampus dikuasai mahasiswa, dan demonstran tak hanya menyoroti krisis ekonomi, tetapi juga menuding korupsi serta buruknya tata kelola pemerintahan.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian sempat mengambil pendekatan lebih lunak dengan mengajak perwakilan demonstran berdialog dan berjanji mendengar tuntutan mereka. Namun, meningkatnya jumlah korban jiwa memunculkan sinyal bahwa pemerintah bisa mengambil sikap lebih keras jika aksi terus berlanjut.

Di tengah tekanan domestik dan ancaman eksternal, Iran juga berusaha meredam tuduhan AS terkait program nuklir. Teheran menegaskan tidak lagi memperkaya uranium dan menyatakan terbuka untuk kembali bernegosiasi dengan negara-negara Barat.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Muhammad Daniel Ramadhan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.