TPA Cipeucang Tak Mampu Lagi Tampung Sampah, Tangsel Dipaksa Putar Arah Soal Krisis Ini

Senin, 29 Des 2025, 15:35 WIB

JAKARTA - Pemerintah Kota Tangerang Selatan mengakui bahwa Tempat Pembuangan Akhir Cipeucang sudah berada di titik kritis dan tidak lagi mampu menampung timbulan sampah dengan pola lama. Kondisi ini menjadi alarm keras yang memaksa Pemkot Tangsel melakukan perubahan besar dalam sistem pengelolaan sampah.

Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie menyebut krisis sampah yang terjadi bukan sekadar persoalan teknis, melainkan akibat keterbatasan daya tampung TPA Cipeucang. Penumpukan sampah di sejumlah titik kota menjadi dampak langsung yang dirasakan warga setiap hari.

Ket. Foto: Kondisi terkini TPA Cipeucang, Senin (29/12) di Tangerang Selatan. — Sumber: Koran Jakarta/Ichsan Satria

Benyamin menyadari ketidaknyamanan masyarakat akibat tumpukan sampah di pinggir jalan dan kawasan permukiman. Ia menegaskan Pemkot Tangsel tidak ingin lagi hanya memindahkan sampah dari satu titik ke titik lain.

"Kita harus berani jujur bahwa TPA Cipeucang sudah tidak mampu lagi menampung beban dengan cara lama. Memaksakan pembuangan di sana justru akan menciptakan bencana lingkungan yang lebih besar bagi anak cucu kita," ujar Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie.

TPA Cipeucang selama ini menjadi tumpuan utama pembuangan sampah Tangsel. Seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas perkotaan, kapasitas TPA tersebut kian tergerus dan mendekati ambang maksimal.

Pemkot Tangsel menilai pendekatan konvensional berupa pembuangan terbuka sudah tidak relevan. Tekanan terhadap lingkungan dan risiko longsoran sampah menjadi ancaman nyata jika pola lama terus dipertahankan.

Sebagai solusi jangka panjang, Benyamin memaparkan rencana pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik atau PSEL. Proyek ini diposisikan sebagai jawaban atas kebuntuan daya tampung TPA Cipeucang.

PSEL disebut telah melewati tahapan lelang yang ketat dan kini berada pada fase krusial sebelum konstruksi dimulai. Proyek ini juga masuk dalam program strategis nasional pengelolaan sampah perkotaan.

"PSEL ini nantinya akan memiliki kapasitas olah sangat besar, mencapai 1.000 hingga 1.100 ton sampah per hari," kata Benyamin.

"Angka itu setara dengan seluruh timbulan sampah warga Tangerang Selatan setiap harinya," tambahnya.

Dengan kapasitas tersebut, PSEL diharapkan mampu menghentikan ketergantungan Tangsel terhadap TPA Cipeucang. Sampah tidak lagi ditimbun, melainkan diolah secara tuntas melalui teknologi thermal.

Menurut Benyamin, teknologi yang digunakan memiliki standar emisi ketat dan ramah lingkungan. Sampah akan dikonversi menjadi energi listrik dengan residu yang sangat minim.

"Sistem ini mampu mereduksi volume sampah hingga 90 persen. Ini adalah jawaban atas keterbatasan lahan kita demi mencapai target zero landfill," kata Benyamin.

Meski PSEL menjadi solusi permanen, Pemkot Tangsel menyadari proses menuju operasional penuh membutuhkan waktu. Selama masa transisi, tekanan terhadap TPA Cipeucang tetap menjadi perhatian utama.

Untuk itu, Pemkot Tangsel menerapkan langkah darurat berlapis guna mencegah kemacetan sampah makin parah. Strategi ini difokuskan pada pengurangan beban Cipeucang dan penanganan cepat di lapangan.

"Saya mencatat langkah darurat yang bersifat empatik, salah satunya dengan mengerahkan armada tambahan di titik permukiman padat. Langkah ini penting agar tumpukan sampah tidak semakin mengganggu warga," tutur Benyamin.

Selain armada tambahan, Pemkot Tangsel juga menjalin kerja sama regional. Sampah sementara dialihkan ke TPA mitra seperti TPA Cilowong di Serang untuk mengurangi tekanan di Cipeucang.

Di tingkat kelurahan, lebih dari 36 Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle atau TPS3R kembali diaktifkan. Upaya ini dilakukan untuk menahan laju sampah sebelum sampai ke TPA.

Namun Benyamin menegaskan bahwa kondisi darurat tetap membutuhkan perhatian kesehatan lingkungan. Risiko bau, lalat, dan sanitasi buruk menjadi ancaman serius bagi warga.

"Aspek kesehatan warga tetap nomor satu. Saya memerintahkan penyemprotan disinfektan dan cairan pengurai bau secara rutin di titik tumpukan sampah," ujar Benyamin.

Ia juga mengajak masyarakat terlibat langsung dalam transisi besar ini. Menurutnya, pemilahan sampah dari sumber menjadi kunci agar TPA tidak terus terbebani.

"Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Mari kita mulai memilah sampah dari dapur masing-masing demi masa depan Tangsel yang lebih bersih," pungkasnya.

Pemkot Tangsel menegaskan bahwa langkah penanganan TPA Cipeucang saat ini adalah bentuk tanggung jawab lingkungan. Transisi menuju PSEL dinilai sebagai satu-satunya jalan keluar yang adil dan berkelanjutan bagi seluruh warga.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.