Bethlehem Rayakan Natal Pertama Kalinya Sejak Dua Tahun, Simbol Harapan di Tengah Luka Perang

Kamis, 25 Des 2025, 13:35 WIB

JAKARTA - Kota Bethlehem kembali menyambut Natal untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir. Sebuah pohon Natal setinggi 15 meter menyala di Manger Square, tepat di depan Gereja Kelahiran, menandai kembalinya perayaan yang sempat dihentikan sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina di Gaza.

Perayaan Natal di Bethlehem tahun ini berlangsung di tengah situasi yang masih rapuh. Gencatan senjata sementara di Jalur Gaza membuka ruang bagi dimulainya kembali aktivitas publik di Tepi Barat, meski ratusan ribu warga Gaza masih bertahan di tenda-tenda darurat dan membutuhkan bantuan dasar.

Ket. Foto: — Sumber: NBC News

Pembukaan perayaan dipimpin oleh Kardinal Pierbattista Pizzaballa. Latin Patriark Yerusalem itu tiba di Bethlehem setelah mengunjungi Gereja Keluarga Kudus di Gaza, satu-satunya paroki Katolik di wilayah tersebut. Dalam prosesi tradisional dari Yerusalem menuju Bethlehem, Pizzaballa membawa pesan solidaritas dari komunitas Kristen kecil di Gaza.

Setibanya di Manger Square, Kardinal Pizzaballa menyampaikan salam dari umat Katolik Gaza yang, menurutnya, memiliki tekad kuat untuk bangkit dan membangun kembali kehidupan mereka. Ia juga menekankan harapan agar Natal tahun ini menjadi momen yang dipenuhi cahaya, bukan hanya bagi umat Kristen, tetapi bagi seluruh masyarakat Palestina.

Kembalinya perayaan Natal di Bethlehem memiliki makna penting, baik secara simbolik maupun ekonomi. Di satu sisi, adanya gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat memunculkan harapan akan dimulainya proses rekonstruksi. Di sisi lain, perayaan ini memberi secercah optimisme bagi pemulihan sektor pariwisata, tulang punggung ekonomi kota tersebut.

Sekitar 85 persen keluarga di Bethlehem bergantung langsung atau tidak langsung pada sektor pariwisata. Selama dua tahun terakhir, hotel, toko suvenir rohani, restoran, sopir taksi, hingga pemandu wisata kehilangan mata pencaharian akibat konflik yang berkepanjangan. Kondisi ini diperparah dengan terbatasnya aktivitas ekonomi lain karena minimnya basis industri dan pertanian di kota tersebut.

Situasi sulit juga dirasakan secara lebih luas di Tepi Barat, menyusul pencabutan izin kerja bagi buruh Palestina ke wilayah Israel serta pembayaran gaji yang tidak penuh bagi pegawai Otoritas Palestina.

Meski demikian, Wali Kota Bethlehem Maher Nicola Canawati menegaskan bahwa warganya tetap memegang harapan. Ia menyebut perayaan Natal kali ini sebagai upaya membangkitkan semangat setelah masa sunyi yang panjang. Menurutnya, pesan dari Bethlehem ditujukan tidak hanya kepada rakyat Palestina, tetapi juga kepada dunia internasional.

Canawati menegaskan bahwa Bethlehem kini siap menyambut kembali pengunjung. Ia menekankan bahwa perayaan Natal dirasakan sebagai pesta bersama lintas agama. Bagi warga Bethlehem, Natal tahun ini bukan sekadar tradisi keagamaan, melainkan simbol ketahanan, persatuan, dan harapan akan perdamaian yang berkelanjutan.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Muhammad Daniel Ramadhan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.