Hasil SEA Games, Cabang-cabang Favorit Mengecewakan
Senin, 22 Des 2025, 01:35 WIBJAKARTA - Kontingen Indonesia menutup SEA Games 2025 Thailand dengan hasil sangat bagus dalam perolehan medali emas karena melampaui target 80 tapi dapat 91.
Sayang untuk cabor-cabor favorit mengecewakan. Sepak bola, misalnya, bukan hanya gagal mempetahankan medali emas, malah tidak lolos fase grup, amat menyedihkan. Padahal, lawannya hanya Filipina dan Myanmar. Demikian juga dengan voli putra, kalah di final dari Thailand, sehingga gagal mempertahanlan emas. Basket putra juga gagal meraih emas kalah dari Filipina.
Hingga upacara penutupan, Indonesia mengoleksi 91 medali emas, 111 perak, dan 131 perunggu, total 333 medali. Hasil itu menempatkan Indonesia di peringkat kedua klasemen akhir, melampaui target pemerintah yang mematok 80 emas. Thailand sebagai tuan rumah masih berada di puncak, namun jarak kekuatan kini terasa semakin realistis untuk dikejar.
Capaian ini sarat makna historis. Untuk pertama kalinya dalam 30 tahun terakhir, Indonesia kembali finis sebagai runner-up SEA Games saat tidak berstatus tuan rumah, mengulang kenangan manis edisi 1995 di Chiang Mai. Dari sisi produktivitas medali emas, ini juga menjadi raihan terbaik Indonesia di luar kandang sejak Kuala Lumpur 1989 (102 emas) dan Manila 1991 (92 emas), sekaligus melampaui SEA Games 2023 Kamboja yang berakhir dengan 87 emas.
Kunci utama keberhasilan kali ini adalah pemerataan prestasi. Indonesia tidak lagi bergantung pada satu atau dua cabang unggulan. Atletik tampil sebagai salah satu lumbung medali dengan sembilan emas, sementara kejutan datang dari cabang non-tradisional. Ice hockey (hoki es) dan futsal putra mencatatkan emas perdana, menandai keberanian Indonesia memperluas peta prestasi ke cabang-cabang baru yang sebelumnya minim ekspektasi.
Di balik angka-angka itu, SEA Games 2025 juga menjadi panggung sukses regenerasi atlet Generasi Z. Dari angkat besi, skateboard, panjat tebing, hingga renang, para debutan tampil tanpa beban. Mereka bukan sekadar pelapis, melainkan aktor utama yang menentukan hasil. Ini sejalan dengan Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang menempatkan SEA Games sebagai âsasaran antaraâ menuju Asian Games 2026 dan Olimpiade Los Angeles 2028.
Meski demikian, euforia tak boleh menutup mata. Fakta bahwa Indonesia masih berada di bawah Thailand menjadi cermin jujur peta kekuatan kawasan. Pemerintah, melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga, menegaskan akan menerapkan sistem promosi-degradasi bagi cabang olahraga yang gagal memenuhi target, sebuah langkah yang patut diapresiasi demi akuntabilitas.
Namun, dilema klasik tetap mengemuka: pembinaan versus prestise. Bulu tangkis menjadi contoh nyata. Keputusan menurunkan pemain berpengalaman terbukti efektif mengamankan emas beregu dan ganda putra, meski harus mengorbankan sebagian jam terbang atlet muda.
Ke depan, tantangan sesungguhnya adalah konsistensi. Kualitas pusat latihan, kalender kompetisi yang terukur, serta fasilitas berstandar internasional akan menentukan apakah âGenerasi Emas Thailand 2025â mampu berbicara banyak di level Asia dan dunia. SEA Games telah memberi sinyal positif.
- Kontingen SEA Games
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Wamen PKP: Kebijakan Perumahan Harus Berbasis Data Tunggal
-
Kondisi Terkendali, Pertamina EP Pastikan Pasokan Gas ke Konsumen Jargas Kembali Normal
-
Kampanye Olah Sampah lewat Festival Sepekan Pilah Sampah
-
Indonesia raih medali perak voli putra SEA Games 2025
-
Kisruh Transfer Bayangi Laga Newcastle kontra Liverpool
-
Penutupan SEA Games 2025. Berapa Perolehan Medali Kontingen Indonesia?
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.