Inovasi Transmigrasi: Agrowisata Alpukat Angkat Potensi Tanjung Banun Batam

Minggu, 21 Des 2025, 23:06 WIB

BATAM – Kementerian Transmigrasi mendorong pengembangan agrowisata alpukat di kawasan transmigrasi Tanjung Banun, Batam, Kepulauan Riau, sebagai strategi penguatan ekonomi berbasis potensi lokal.

Inisiatif ini mengintegrasikan sektor pertanian dengan pariwisata, sehingga nilai tambah tidak hanya berasal dari hasil panen, tetapi juga dari aktivitas wisata dan jasa pendukungnya.

Ket. Foto: Ilustrasi-Agrowisata Alpukat. — Sumber: Istimewa.

Secara analitis, pengembangan agrowisata alpukat berfungsi sebagai instrumen diversifikasi ekonomi masyarakat transmigran.

Dengan memanfaatkan komoditas unggulan yang adaptif terhadap kondisi setempat, program ini membuka peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan, serta memperkuat daya tarik kawasan.

Pendekatan tersebut juga mendorong kemandirian ekonomi dan keberlanjutan pembangunan di wilayah transmigrasi.

Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanegara menyebut pengembangan agrowisata alpukat di kawasan Transmigrasi Tanjung Banun dimulai tahun 2026.

“Jadi mulai tahun depan. Tadi kami diskusi dengan para ketua RT dan RW bagaimana di Tanjung Banun ditanam alpukat, karena ada pilot project-nya di Kediri sebagai brand mark, di sana tidak ada warga miskin karena semuanya produktif,” kata Iftitah di Tanjung Banun, Minggu (21/12).

Dalam mendukung program tersebut, Mentrans mendatangkan langsung Kepala Desa Jambu, Kabupaten Kediri, Agus Joko Susilo untuk mengecek langsung kelayakan lahan di Tanjung Banun.

Agus berhasil mengembangkan desanya lewat budidaya alpukat berbagai jenis, salah satunya alpukat aligator yang ukurannya lebih besar dari jenis alpukat pada umumnya.

“Pak Agus Joko Susilo ini mengembangkan agrowisata alpukat. Saya bertemu di ITS, dan hari ini saya bawa untuk melihat apakah Tanjung Banun cocok dikembangkan alpukat,” ujarnya.

Menurut Iftitah, dari hasil pengecekan Agus lokasi transmigrasi Tanjung Banun cocok untuk ditanami alpukat.

“Di sini sangat cocok sekali, nanti kami akan berikan pendampingan. Saya sudah sampaikan ke ketua RT, ketua RW,” terangnya.

Menurut Iftitah, inti dari transmigrasi sekarang adalah bagaimana membuat lahan dan manusianya produktif. Lahan yang menganggur dikelola menjadi produktif, begitupun manusia yang kurang produktif menjadi lebih produktif.

“Budidaya alpukat contohnya sangat baik, makanya saya hadirkan Kades Jambu untuk melihat langsung cocok tidaknya Tanjung Banun ditanami alpukat. Dikatakannya sangat cocok,” katanya.

Ada 72 varian atau jenis alpukat yang bisa ditanam di Tanjung Banun, dan diharapkan bisa menjadi daya tarik tersendiri.

Sementara itu, Agus Joko Susilo mengatakan siap berkolaborasi dengan masyarakat Rempang untuk menanam alpukat yang ukurannya besar.

“Kami punya kesempatan banyak atas arahan Pak Menteri untuk warga masyarakat yang ada di Tanjung Banun. Kawasan ini akan menjadi agrowisata buah, akan mendongkrak penghasilan masyarakat semua,” kata Agus.

  • Kementrans
  • Kawasan Transmigrasi
  • agrowisata alpukat
  • transmigrasi Tanjung Banun

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.