Dari Gen ke Genom, Revolusi Ilmu yang Mengubah Manusia
Selasa, 16 Des 2025, 07:34 WIBKETIKA genetika mempelajari satu gen secara terpisah, genomika melangkah lebih jauh dengan membaca keseluruhan cetak biru kehidupan yang tersimpan dalam sel manusia. Melalui Proyek Genom Manusia (Human Genome ProÂject/HGP) dan berbagai peneÂmuan penting setelahnya, mulai dari pemetaan genom lengkap hingga pemahamÂan peran RNA, ilmu ini terus Âberkembang.
Genomikan telah mengÂubah cara manusia dalam memahami penyakit, asal-usul, dan masa depan biologisnya, sekaligus memunculkan pertanyaan etika besar tentang batas intervensi manusia terÂhadap kehidupan itu sendiri.
Jika genetika mengacu pada studi satu gen pada satu waktu, genomika adalah studi tentang semua informasi genetik yang terkandung dalam sel. Dimulai pada tahun 1990 dan berakhir pada tahun 2003, Proyek Genom Manusia mengidentifikasi semua informasi genetik yang terkandung dalam DNA manusia, sekitar 30.000-35.000 gen.
Laman World History menyebut, pada tahun 2006, RoÂger D. Kornberg (lahir 1947), seorang ahli biologi Amerika, menemukan transkripsi, proÂses di mana DNA diubah menjadi RNA (asam ribonukleat), molekul penting untuk fungsi tubuh yang mentransmisikan informasi genetik ke berbagai bagian tubuh. Penyakit, seperti kanker atau penyakit jantung, seringkali disebabkan oleh komplikasi RNA.
Pada tahun 2022, para ilmuwan menyelesaikan peta lengkap pertama genom manusia. Kontroversi tentang arah penelitian genetika, kloning manusia, penelitian sel punca, dan makanan serta tanaman hasil rekayasa genetika telah mendominasi bidang ini dalam beberapa tahun terakhir.
Konsekuensi
Dalam kurun waktu sekitar 100 tahun, bidang genetika telah menghasilkan obat-obatan baru, tanaman yang tahan terhadap hama dan penyakit, identifikasi penyakit keturunan baru, membantu pasangan mengalami pengalaman menjadi orang tua, dan mengidentifikasi hubungan DNA di antara semua manusia (terutama dengan mengungkap nenek moyang bersama, Hawa Mitokondria & Adam Kromosom Y).
Penelitian genetika telah memungkinkan orang untuk meÂnelusuri migrasi leluhur mereka, terutama penting bagi warga Afrika-Amerika, karena perdaÂgangÂan budak transatlantik, untuk mencari Tanah Air dan orang-orang mereka di Afrika.
Para ilmuwan dan dokter yang bekerja di bidang ini secara teratur dihadapkan pada masalah etika dan sosial yang terkait dengan penelitian meÂreka. Haruskah rekayasa genetika digunakan untuk memodifikasi manusia guna meningkatkan kemampuan fisik mereka? Bagaimana dengan menciptakan âbayi hasil rekayasa genetikaâ di mana calon orang tua dapat memilih warna mata atau rambut, tinggi badan, atau warna kulit? hay
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.