Kota New Delhi Darurat Polusi Udara, Capai Level Bahaya Ekstrem

Senin, 15 Des 2025, 19:35 WIB

JAKARTA - Ibu kota India, New Delhi, kembali menghadapi krisis polusi udara parah saat kabut asap beracun menutupi kota dan membuat kualitas udaranya mencapai level yang sangat berbahaya. Kondisi ini memaksa otoritas memberlakukan pembatasan sementara dan peringatan kesehatan demi melindungi warga dari dampak asap yang semakin pekat.

Kondisi polusi kali ini membuat banyak penerbangan dibatalkan dan ratusan kereta tertunda karena jarak pandang sangat rendah dan kualitas udara yang buruk. Rumah sakit setempat juga melaporkan peningkatan pasien dengan gangguan pernapasan, iritasi mata, dan gejala lain akibat paparan udara berbahaya.

Ket. Foto: Orang-orang berjalan di pagi hari yang diselimuti polusi udara di New Delhi, India, Senin, 15 Desember 2025. — Sumber: AFP

Menurut data indeks kualitas udara, angka polusi di beberapa titik kota naik jauh di atas ambang yang dianggap aman oleh Organisasi Kesehatan Dunia. Para ahli lingkungan memperingatkan bahwa paparan jangka pendek pun dapat berdampak serius bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi medis tertentu.

Pihak berwenang menyarankan warga untuk menghindari aktivitas luar ruangan sebanyak mungkin selama periode buruk ini. Penggunaan masker N95 direkomendasikan terutama bagi yang harus beraktivitas di luar rumah, sementara sekolah-sekolah di beberapa area memilih mengurangi jam belajar di luar ruangan.

Krisis polusi yang terjadi di musim dingin ini sering dipicu oleh kombinasi asap dari pembakaran sisa panen di daerah sekitar, emisi kendaraan, serta kondisi cuaca yang menjebak partikel berbahaya di udara. Faktor-faktor itu memperburuk kualitas udara hingga mencapai tingkat yang sangat membahayakan kesehatan.

Para dokter dan praktisi kesehatan mengingatkan bahwa paparan kualitas udara seperti ini bisa meningkatkan risiko penyakit paru-paru kronis dan masalah kardiovaskular bila tidak ditangani dengan baik. Mereka menyerukan tindakan perlindungan jangka panjang yang lebih konkret, bukan sekadar solusi sementara.

Beberapa langkah sementara yang diterapkan termasuk pembatasan aktivitas konstruksi, larangan penggunaan generator diesel, serta penyemprotan air untuk mengurangi debu di permukaan jalan. Namun para aktivis lingkungan menilai upaya tersebut masih belum cukup untuk menangani akar permasalahan polusi ini.

Data sejarah menunjukkan bahwa New Delhi sering kali menjadi salah satu kota dengan kualitas udara paling buruk di dunia, terutama selama musim dingin ketika kondisi atmosfernya cenderung stagnan. Studi juga menunjukkan dampak jangka panjang yang signifikan terhadap kesehatan masyarakat akibat paparan polusi yang berkepanjangan.

Beberapa warga mengeluhkan sulitnya bernapas bahkan di dalam rumah, sementara yang lain mempertimbangkan menggunakan pembersih udara atau pindah sementara ke wilayah dengan kualitas udara yang lebih baik. Keluhan ini mencerminkan besarnya dampak sosial dari polusi yang sudah menjadi masalah tahunan.

Aktivis lingkungan menyerukan reformasi kebijakan yang lebih luas untuk mengurangi emisi dari sumber utama seperti kendaraan bermotor dan pembakaran biomassa. Mereka juga menyoroti perlunya investasi besar dalam transportasi bersih dan ruang hijau urban untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat.

Sementara itu, pemerintah India menyatakan sedang mengevaluasi serangkaian langkah jangka panjang untuk menangani polusi yang berulang ini. Mereka menyebut bahwa pendekatan komprehensif diperlukan agar krisis seperti ini tidak terus terulang setiap musim dingin.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.