Hadapi Nataru, Pemerintah Harus Siapkan Sistem Kesiapsiagaan Terpadu dan Responsif Demi Keselamatan Masyarakat
Senin, 15 Des 2025, 10:06 WIBMAKASSAR - Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam menghadapi Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta cuaca ekstrem.
Anggota Komisi V DPR RI Teguh Iswara Suardi menegaskan, di tengah meningkatnya mobilitas dan ancaman cuaca ekstrem, negara tidak boleh lengah dan harus hadir secara nyata melalui sistem kesiapsiagaan yang terintegrasi dan responsif.
Ia mengapresiasi langkah Basarnas yang telah membentuk unit-unit siaga di tingkat kabupaten, terutama di wilayah yang rawan bencana. Namun, ia menekankan, efektivitas unit tersebut akan jauh lebih optimal jika diperkuat dengan koordinasi lintas sektor.
Hal itu ia ungkapkan usai Kunjungan Kerja Reses membahas strategi, program kerja dan upaya-upaya Pemerintah dalam mendukung keselamatan, kenyamanan dan keamanan masyarakat dalam melaksanakan libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (14/12).
âAkan jauh lebih efektif jika unit siaga Basarnas terintegrasi dengan Kementerian PUPR, perhubungan, dan kepolisian. Dengan koordinasi yang jelas, penanganan di lapangan bisa lebih cepat, tepat, dan terukur,â kata Teguh seperti disiarkan media DPR RI.
Politisi Dapil Sulawesi Selatan II itu juga menyoroti pentingnya kesiapan posko-posko terpadu yang telah ditetapkan berdasarkan analisis dan simulasi risiko. Menurutnya, posko tidak boleh sekadar menjadi formalitas, melainkan harus benar-benar siap melayani masyarakat dalam kondisi darurat.
âPosko itu bukan simbol. Harus dilengkapi fasilitas yang memadai, termasuk layanan kesehatan, khususnya bagi ibu hamil dan kelompok rentan. Ini menyangkut keselamatan nyawa,â ujarnya dengan penekanan.
Teguh juga menyoroti persoalan kelelahan pengemudi yang kerap menjadi pemicu kecelakaan lalu lintas. Ia menilai keberadaan kantong-kantong parkir dan rest area sangat krusial, terutama di Pulau Jawa yang menjadi pusat pergerakan arus mudik dan balik Nataru.
âPengemudi butuh ruang untuk berhenti dan beristirahat. Kantong parkir dan rest area ini bukan fasilitas tambahan, tapi kebutuhan mendasar untuk mencegah kecelakaan akibat kelelahan,â katanya.
Teguh menegaskan bahwa cuaca ekstrem yang hampir selalu menyertai periode Nataru kini harus dipandang sebagai new normal. Oleh karena itu, ia meminta BMKG untuk memperkuat edukasi dan peringatan dini kepada masyarakat dengan pendekatan yang lebih kreatif dan masif.
âEdukasi cuaca tidak bisa lagi dilakukan secara biasa. Harus out of the box, memanfaatkan media sosial, media konvensional, bahkan pesan langsung seperti WhatsApp blast agar informasi benar-benar sampai ke masyarakat,â tandasnya.
Melalui penguatan sinergi antarinstansi, kesiapan infrastruktur, dan peningkatan kesadaran publik, Teguh berharap pelaksanaan Nataru tahun ini dapat berlangsung aman, lancar, dan menekan risiko kecelakaan seminimal mungkin di seluruh wilayah Indonesia.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Tim Koran Jakarta
Berita Terkait:
-
Bayar Zakat Fitrah dengan Uang Hasil Utang, Ini Kata Baznas
-
Tidak Produktif, Pemda Kembali Endapkan Belanja Daerah di Bank
-
Tawuran Celaka, Seorang Pelajar Tewas Tenggelam di Cengkareng
-
SPBU Shell Kehabisan Bahan Bakar, Pertamina Belum Jadi Penyelamat: Pasokan BBM Tersandung Negosiasi Base Fuel
-
Istana: Presiden Prabowo Bakal Berpidato di Hari Pertama Sidang Umum PBB pada 23 September 2025
-
Edukasi Kesiapsiagaan Bencana Alam di Sekolah
-
Dua Rumah Warga Situbondo Terkena Longsor
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.