Kemenag Gelar Muktamar Moderasi Beragama-Ekoteologi Pesantren
Minggu, 14 Des 2025, 11:20 WIBJAKARTA - Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Agama (BMBPSDM Kemenag) menyelenggarakan muktamar sebagai ikhtiar menggali pemaknaan, peran, dan rekomendasi ulama muda dalam isu moderasi beragama dan ekoteologi.
Dalam rilis yang disiarkan di Jakarta pada Sabtu, kegiatan bertajuk Muktamar Pemikiran Ulama Muda untuk Moderasi Beragama dan Eko-Teologi tersebut digelar pada tanggal 12-13 November 2025, dengan mengusung tema âTeologi Kerukunan Kosmik: Relasi Tuhan, Manusia, dan Alamâ.
Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Marhumah menegaskan perlunya pergeseran paradigma dalam memahami konsep manusia sebagai khalifah di bumi.
Menurutnya, tafsir antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat dan penguasa alam harus dikritisi.
âPerlu pergeseran pemaknaan khalifah di muka bumi, di mana manusia harus sejajar dengan bumi dalam aspek peran dan tanggung jawab,â ujarnya.
Ia juga menekankan alam semesta harus dipahami sebagai makhluk hidup karena seluruh ciptaan Tuhan memiliki nilai kehidupan.
Dalam konteks ini, ia mengatakan pesantren dinilai strategis untuk mengubah cara pandang relasi Tuhan, manusia, dan alam, bahkan mendorong agar hifdzul biah (menjaga lingkungan) ditambahkan sebagai tujuan baru dalam maqashid syariah.
Sementara itu, Guru Besar BRIN Alie Humaidi menyampaikan kritik tajam terhadap realitas ekologis Indonesia, khususnya bencana di Sumatra yang menurutnya merupakan cermin kerakusan manusia.
âBencana alam di Sumatera adalah potret kerusakan lingkungan akibat kerakusan manusia, terutama korporasi yang mengatasnamakan kebutuhan manusia,â katanya.
Ia menilai umat beragama hari ini mengalami krisis praksis ekologis.
âUmat beriman hanya mengejar kepuasan spiritual-ritual, tetapi tidak mempunyai aspek ekologi. Beragama tanpa jejak ekologi,â tegasnya.
Bahkan, ia menyimpulkan secara reflektif agamawan gagal dalam melestarikan lingkungan meskipun ajaran tentang lingkungan sangat banyak.
Alie juga menyoroti peran pesantren yang secara historis dekat dengan alam.
Ia mengingatkan bahwa pesantren dahulu hidup berdampingan dengan sungai, hutan, dan persawahan, serta memiliki kearifan lokal dalam menjaga lingkungan.
âBanyak pesantren mampu mendorong kelestarian lingkungan, tetapi pertanyaannya, berapa banyak pesantren yang punya skenario pendidikan lingkungan bagi santrinya?â ujarnya.
Dari perspektif fikih dan teologi Islam, KH. Moqsith Gazali dari MUI mengingatkan bahwa manusia dan alam memiliki hubungan ontologis yang sangat erat.
âDalam Al-Qurâan, manusia diciptakan dari elemen bumi. Artinya manusia bersaudara dengan alam semesta,â katanya.
Ia menjelaskan meskipun manusia memiliki fungsi eksploitasi, Al-Qurâan juga menegaskan tugas konservasi (imarah). Namun begitu, yang terjadi justru ketimpangan.
âManusia lebih ingat fungsi eksploitasi daripada fungsi konservasi,â ujarnya.
KH. Moqsith juga menyoroti keterbatasan hukum Islam kontemporer dalam merespons krisis lingkungan.
Menurutnya, kerusakan hari ini bukan lagi dilakukan individu, melainkan oleh korporasi dan bahkan negara.
âPandangan hukum kita masih menempatkan manusia sebagai satu-satunya objek hukum. Padahal kerusakan lingkungan dilakukan oleh persekutuan manusia, dan ini belum memiliki rujukan fikih yang memadai,â ujarnya.
Karena itu, ia mendorong perluasan tujuan syariat agar isu lingkungan mendapat posisi yang lebih kuat dalam bangunan hukum Islam.
Muktamar hari itu menegaskan satu pesan kunci, yakni agama, pesantren, dan ulama muda tidak cukup hanya berbicara keselamatan spiritual, tetapi juga dituntut hadir dalam upaya penyelamatan bumi sebagai amanah teologis dan tanggung jawab kemanusiaan.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Lili Lestari
Berita Terkait:
-
Arsenal Didenda FA Karena Langgar Alokasi Tiket Piala FA Lawan MU
-
Sekolah Rakyat Masih Banyak Kekurangan Sarana Prasarana
-
BMKG: Sebagian Jakarta Diprakirakan Hujan Ringan Kamis Pagi Ini
-
50 Titik WiFi Gratis Disiapkan Pemkot Palembang
-
Transmigrasi Bukan Lagi Soal Pindah Penduduk, tapi Distribusi Otak dan Tenaga Unggul
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.