Aliansi Produsen Mobil Besar Sebut Tiongkok 'Ancaman Nyata dan Langsung' bagi Industri Otomotif AS
Sabtu, 13 Des 2025, 09:41 WIBWASHINGTON - Sejumlah produsen mobil besar pada hari Kamis (11/12) mendesak Washington untuk mencegah produsen mobil dan baterai yang didukung pemerintah Tiongkok membuka pabrik manufaktur di AS, memperingatkan bahwa masa depan industri ini dipertaruhkan.
Menurut laporan Reuters, Aliansi untuk Inovasi Otomotif yang mewakili General Motors, Ford, Toyota Motor, Volkswagen, Hyundai, Stellantis, dan produsen mobil besar lainnya, membunyikan alarm dan mengatakan bahwa Kongres dan pemerintahan Trump perlu bertindak.
"Tiongkok menimbulkan ancaman nyata dan langsung terhadap industri otomotif di AS," tulis kelompok tersebut dalam sebuah pernyataan untuk sidang DPR AS tentang kendaraan buatan Tiongkok yang dikutip Reuters.
Kelompok itu juga mengatakan para anggota parlemen harus mempertahankan larangan Departemen Perdagangan AS terhadap impor teknologi dan layanan informasi dan komunikasi dari Tiongkok yang secara efektif melarang impor kendaraan dari produsen Tiongkok.
"Investasi sebesar apa pun yang dilakukan oleh produsen mobil dan baterai yang beroperasi di AS tidak akan mampu melawan Tiongkok yang didukung oleh subsidi untuk terus-menerus melakukan kelebihan pasokan di seluruh dunia. Ini adalah resep untuk praktik dumping yang harus dicegah oleh Kongres dan Pemerintahan Trump agar tidak terjadi di AS," kata kelompok industri otomotif tersebut.
Perwakilan John Moolenaar, seorang Republikan yang memimpin komite khusus DPR tentang Tiongkok, mengatakan Kongres harus mengesahkan larangan terhadap kendaraan yang terkait dengan Tiongkok yang diadopsi pada hari-hari terakhir pemerintahan mantan Presiden Joe Biden.
"Hanya dalam lima tahun, Tiongkok telah berubah dari eksportir kecil menjadi eksportir otomotif terbesar di dunia, mengirimkan 6 juta kendaraan ke luar negeri tahun lalu dengan harga di bawah harga pasar yang tidak dapat ditandingi oleh produsen mobil AS dan sekutunya," kata Moolenaar.
"Dengan subsidi besar-besaran, kendali atas bahan baku dan rantai pasokan, serta rezim peraturan yang bersifat eksploitatif, Beijing telah mengubah industri otomotifnya menjadi alat negara."
Ia juga menyebutkan kekhawatiran keamanan nasional terkait kendaraan impor dari Tiongkok dan kekhawatiran bahwa Beijing dapat menonaktifkan kendaraan dengan perangkat lunak atau komponen buatan Tiongkok jika terjadi konfrontasi besar.
Kedutaan Besar Tiongkok di Washington tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Lili Lestari
Berita Terkait:
-
Perusahaan Ban Lakukan PHK, Kemenperin Pastikan Perlindungan Pekerja dan Keberlanjutan Industri
-
Polda Sulawesi Tenggara Laksanakan Operasi Zebra Anoa 2025 Demi Keamanan Berlalu Lintas
-
Polri Bangun Lima Rumah Ibadah di SMA KTB Gunung Sindur untuk Perkuat Kebhinekaan
-
Normalisasi Kali Cakung Lama Siap Dilakukan, Banjir Jakarta Dibidik dari Hulu ke Hilir
-
Telkom Indonesia Dorong UMKM Binaan Naik Kelas Lewat Program Digitalisasi
-
Perusahaan Jepang Perkuat Kerja Sama Bisnis EBT dengan Indonesia
-
BNPB Fokus Penanganan Banjir di Titik Kritis Semarang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.