Berpotensi Melemah Lanjutan, 2 Juli 2026

Kamis, 02 Jul 2026, 08:25 WIB

JAKARTA – Rupiah berpotensi melanjutkan pelemahannya, hari ini (2/7), seiring pelaku pasar masih bersikap hati-hati menantikan sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat (AS), terutama yang berkaitan dengan inflasi, pasar tenaga kerja, dan arah ke bijakan suku bunga.

Data yang lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat dollar AS karena meningkatkan ekspektasi kebi jakan moneter yang tetap ketat, sehingga memicu arus modal keluar dari pasar negara ber kembang, termasuk Indonesia.

Ket. Foto: — Sumber: Istimewa

Analis Doo Financial Fu tures, Lukman Leong melihat investor tengah menantikan pidato Gubernur The Fed Kev in Warsh dan rilis data ISM Manufacturing AS yang dapat memberikan petunjuk menge nai kondisi sektor manufaktur Negeri Paman Sam.

Selain itu, lanjutnya, investor cenderung menghindari aset berisiko dan mata uang negara berkembang, menjelang rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat (AS) akhir pekan ini.

Karenanya, Lukman mem proyeksikan tara 0,5 persen terhadap PDB.

Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan catatan defisit APBN pada periode sama 2025 sebesar 21 triliun rupiah atau se kitar 0,1 persen terhadap PDB.

Risiko Berantai Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dipone goro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti memperingatkan de fisit APBN 2026 berpotensi me lampaui batas aman tiga persen terhadap PDB akibat kenaikan harga minyak dunia dan pe lemahan nilai tukar rupiah.

Menurutnya, setiap kenaikan 1 dollar AS per barel harga mi nyak dapat menambah beban APBN sekitar 6,8 triliun rupiah, sementara pelemahan rupiah 100 rupiah per dollar AS berpo tensi menambah beban sekitar 800 miliar rupiah.

“Kondisi tersebut mening katkan risiko fiskal secara be rantai,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta, kemarin.

Esther menjelaskan pelebar an defisit akan memaksa peme rintah meningkatkan pembia yaan melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) atau utang luar negeri, yang pada akhirnya memperbesar beban pembayaran pokok dan bunga kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang an tarbank, Kamis (2/7), bergerak di kisaran 17.900-18.050 rupiah per dollar AS.

Sebelumnya, nilai tukar ru piah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Rabu (1/7) sore, melemah 45 poin atau 0,25 persen dari sehari se belumnya menjadi 17.952 ru piah per dollar AS.

“Pelemahan rupiah dipengaruhi ketidak pastian atas kemajuan nego siasi perdamaian AS dan Iran,” ujar Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi di Jakarta.

Dia menambahkan keti dakpastian atas kemajuan ne gosiasi perdamaian AS-Iran mempertahankan premi risiko geopolitik di pasar, bahkan ke tika produksi minyak mentah AS yang mencapai rekor ter tinggi menggarisbawahi pe ningkatan pasokan global.

Para pedagang disebut tetap fokus pada perkembangan di Qatar setelah Iran menolak pembica raan langsung dengan utusan senior AS yang telah melakukan perjalanan ke wilayah tersebut, dan malah mengatakan bahwa setiap diskusi akan dilakukan melalui mediator di tingkat teknis.

  • Nilai Rupiah

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.