2025 Berpotensi Menjadi Tahun Terpanas Kedua Sepanjang Sejarah

Rabu, 10 Des 2025, 01:00 WIB

PARIS — Planet ini berada di jalur untuk mencatat tahun terpanas kedua sepanjang sejarah pada 2025, setara dengan 2023 setelah rekor tertinggi terjadi pada 2024, menurut badan pemantau pemanasan global Uni Eropa pada Selasa (9/12).

Dikutip dari The Straits Times, data dari Copernicus Climate Change Service menegaskan kembali bahwa suhu global sedang menuju ke level lebih dari 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri – ambang batas yang dianggap lebih aman dalam Perjanjian Paris 2015.

Ket. Foto: Warga berjalan menggunakan payung di tengah gelombang panas yang menerpa Distrik Shinjuku, Tokyo, beberapa waktu lalu. — Sumber: AFP/Philip FONG

Rata-rata suhu meningkat 1,48 derajat Celsius antara Januari hingga November, atau “saat ini setara dengan 2023 sebagai tahun terpanas kedua yang pernah tercatat,” menurut pembaruan bulanan lembaga tersebut.

“Rata-rata tiga tahun untuk 2023–2025 berada di jalur untuk melampaui 1,5 derajat Celsius untuk pertama kalinya,” kata Dr Samantha Burgess, pimpinan strategi iklim di Copernicus, dalam pernyataannya.

“Tonggak ini bukan sesuatu yang abstrak. Ini mencerminkan percepatan perubahan iklim, dan satu-satunya cara untuk mengurangi peningkatan suhu di masa depan adalah dengan segera menurunkan emisi gas rumah kaca,” ujarnya.

Cuaca Ekstrem

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan pada Oktober bahwa dunia tidak akan mampu menahan pemanasan global di bawah 1,5 derajat Celsius dalam beberapa tahun mendatang.

November 2025 tercatat sebagai November terpanas ketiga sepanjang sejarah, yaitu 1,54 derajat Celsius di atas level pra-industri, menurut Copernicus, dengan rata-rata suhu udara permukaan mencapai 14,02 derajat Celsius.

Kenaikan suhu yang bertahap tersebut mungkin tampak kecil, namun para ilmuwan memperingatkan bahwa hal itu sudah cukup untuk mengacaukan iklim dan membuat badai, banjir, serta bencana lainnya menjadi lebih ganas dan lebih sering terjadi.

“Bulan tersebut ditandai oleh sejumlah peristiwa cuaca ekstrem, termasuk siklon tropis di Asia Tenggara yang menyebabkan banjir luas, bencana besar, dan korban jiwa,” kata lembaga pemantau tersebut.

Filipina dilanda dua topan berturut-turut yang menewaskan sekitar 260 orang pada November, sementara Indonesia, Malaysia, dan Thailand juga diterjang banjir besar.

Rata-rata suhu global untuk musim gugur di belahan bumi utara, dari September hingga November, juga merupakan yang ketiga tertinggi yang pernah tercatat setelah 2023 dan 2024.

“Suhu di sebagian besar wilayah dunia berada di atas rata-rata, terutama di Kanada utara, di atas Samudra Arktik, dan di seluruh Antartika,” kata lembaga tersebut, seraya menambahkan bahwa terdapat anomali dingin yang signifikan di Russia bagian timur laut.

Copernicus melakukan pengukuran menggunakan miliaran data satelit dan pengamatan cuaca di darat maupun laut, dengan catatan data yang kembali hingga 1940.

  • Pemanasan Global

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.